Obsession: Cinta Adalah Horor Paling Menakutkan
EDITORIAL RATING
AUDIENCE RATING
Sinopsis:
Bear, seorang pria romantis yang pemalu, sangat mendambakan Nikki-sahabat masa kecilnya-untuk membalas perasaannya. Merasa mentok dan terjebak di zona pertemanan (friendzone), Bear akhirnya nekat menggunakan ritual atau benda mistis bernama "One Wish Willow" untuk memanipulasi perasaan Nikki. Harapannya menjadi nyata, namun kebahagiaan itu berumur pendek.
Keinginan yang dipaksakan tersebut justru membuka pintu bagi teror misteri yang mematikan. Sikap Nikki perlahan berubah drastis dari yang awalnya diidamkan menjadi sangat posesif, menyeramkan, dan di luar kendali. Hubungan mereka berubah menjadi mimpi buruk yang berujung pada konsekuensi tragis.
Review:
Kalau ada satu genre yang hampir selalu bisa dipastikan tidak akan mati, itu adalah horor. Hampir setiap tahun selalu ada film horor yang menjadi buah bibir. Setelah Backrooms kemarin menyapa penonton Indonesia, kali ini sutradara muda lain menunjukkan kemampuannya menakut-nakuti penonton melalui Obsession.
Curry Barker sebelum ini adalah seorang Youtuber dan performer. Obsession mungkin adalah film panjang pertamanya yang tayang di bioskop. Tapi sebelum ini, ia sempat merilis horor berjudul Milk & Serial yang dirilis di Youtube. Tidak hanya film tersebut membuatnya menjadi omongan pecinta horor tapi juga membuatnya mendapatkan jalan untuk akhirnya membuat film panjang yang layak untuk pertama kalinya.
Cara paling menyenangkan menyaksikan Obsession sebenarnya adalah datang ke bioskop tanpa tahu apa-apa soal ceritanya. Semakin kamu tidak tahu soal film ini, semakin nikmat rasanya. Tapi secara singkat Obsession bercerita tentang seorang pemuda "cupu" bernama Bear (Michael Johnston) yang naksir dengan temannya sendiri Nikki (Inde Navarrette). Hari itu Bear berencana untuk nembak Nikki tapi ia masih ragu apakah Nikki akan menerima cintanya atau justru membunuh mimpinya. Semuanya berubah ketika Bear berdoa kepada sebuah mainan yang konon akan mengabulkan doa setiap pemiliknya. Bear menginginkan Nikki untuk mencintainya melebihi apa pun dan itu lah yang akhirnya dia dapatkan.
Baca juga: 7 Film Terbaru Tayang Juli di Bioskop |
Curry Barker mungkin baru akan berusia 27 tahun September nanti tapi Obsession menunjukkan bahwa dia lebih dari kompeten untuk membuat mimpi buruk bagi semua orang. Siapa pun penontonnya, tidak peduli gender, pasti akan ketakutan menyaksikan kegilaan yang Barker tawarkan di Obsession yang ia tulis dan sutradarai.
Dari segi tone, Obsession terasa seperti film-film Zach Cregger yang membuat Barbarian dan Weapons tahun lalu. Ia tidak terlalu serius dalam mempersembahkan terornya-terutama jika kamu membandingkannya dengan suara-suara baru dalam film horor seperti Ari Aster atau Danny dan Michael Phillippou. Obsession diwarnai dengan beberapa humor gelap sana-sini yang justru membuat unsur horornya semakin kuat saat ia menampakkan diri.
Bagi penonton Indonesia, konsep yang dihadirkan Obsession mungkin tidak terasa baru. Film ini pada dasarnya menggambarkan tentang skenario terburuk jika seseorang memakai pelet untuk mendapatkan orang yang dia sukai. Barker berhasil membuat obsesi orang yang terlalu jatuh cinta menjadi benar-benar menakutkan. Tempo Obsession memang tidak lambat-ia justru bergerak dengan santai. 110 menit berlalu dengan cepat. Tapi Obsession bisa dibilang adalah slow-burn. Barker tahu bahwa alasan kita menyaksikan film ini adalah melihat bagaimana eskalasi obsesi ini menghantui karakter utamanya sekaligus penonton. Kalau paruh pertama sudah terasa horor, bersiaplah untuk merasa seperti kehabisan napas di paruh kedua. Barker menempatkan kedua karakter utamanya di posisi yang begitu menyeramkan, 10 menit terakhir terasa seperti sebuah mimpi buruk yang tak berkesudahan.
Poster film Obsession Foto: Dok.Istimewa |
Kesuksesan Obsession juga menjadi salah satu hal yang dibicarakan banyak orang. Dengan bujet kurang dari satu juta dollar-konon bujetnya hanya 750 ribu dollar-sampai saat ini film ini berhasil mendapatkan lebih dari 300 juta dollar hanya dari penjualan tiket bioskop. Tapi bujet murah itu tidak membuat Obsession terlihat atau terasa murahan. Barker menggunakan bujet yang minimalis itu dengan tepat guna. Meskipun lokasinya terbatas, tapi ia selalu berhasil membangun mood dan atmosfir yang angker.
Sinematografer Taylor Clemons bermain-main dengan bayangan untuk membuat Nikki terasa lebih menyeramkan daripada hantu. Barker dan Clemons menempatkan Nikki di tempat gelap sehingga penonton hampir tidak pernah bisa melihat wajahnya. Kadang kita hanya bisa melihat matanya saja di tengah kegelapan. Dan itu adalah sebuah gambar yang sangat efektif untuk membuat bulu kuduk merinding.
Salah satu faktor yang membuat kengerian Obsession terasa begitu nyata adalah penampilan aktor-aktornya. Michael Johnston berhasil menampilkan gambaran seorang pemuda dengan masalah sosial yang benar-benar menyebalkan. Ia akan membuatmu kesal dengan semua keputusan yang ia buat-dan hal itu terasa realistis. Tapi tidak bisa dipungkiri Obsession adalah milik Inde Navarrete. Saya yakin setelah Obsession, ia akan menjadi nama yang selalu diperhitungkan. Tanpa terornya sebagai Nikki, Obsession tidak akan semenggigit ini. Teriakan dan senyumnya yang seram akan membuatmu terbayang-bayang dengan sosoknya. Tidak ada yang lebih menyeramkan dari seseorang yang melihatmu tidur di tengah kegelapan.
Obsession dapat disaksikan di seluruh jaringan bioskop di Indonesia.
Candra Aditya adalah seorang penulis dan pengamat film lulusan Binus International.
| Genre | Dark Romance, Psychological Horor, Thriller, Supernatural Horor, Romance |
| Runtime | 1 jam 48 menit |
| Release Date | 26 Juli 2026 |
| Production Co. | Blumhouse Productions, Focus Features |
| Director | Curry Barker |
| Writer | Curry Barker |
| Cast | Michael Johnston, Inde Navarrette, Cooper Thomlinson |












































