Sutradara Wuthering Heights, Emerald Fennell, baru-baru ini melayangkan kritik terhadap film-film berlatar sejarah modern yang dinilainya tidak realistis.
Secara khusus, ia menyoroti bagaimana karakter perempuan dalam adaptasi novel klasik-seperti karya-karya Jane Austen-selalu tampil dengan standar kebersihan modern yang terlalu mulus.
"Di mana coba pisau cukur yang digunakan perempuan-perempuan itu saat itu?" seloroh Fennell dalam sebuah acara industri film, seperti yang dilaporkan oleh The Guardian.
"Mereka semua tampak tanpa bulu seperti belut. Saya selalu merasa, 'Apa yang sebenarnya terjadi?' Ini benar-benar gila.'"
Berangkat dari kegelisahan itulah, Fennell awalnya sangat bersikeras agar karakter Catherine 'Cathy' Earnshaw yang dimainkan oleh Margot Robbie memiliki ketiak yang sangat berbulu.
Langkah ini diambil demi mencerminkan norma sosial yang berlaku pada latar waktu cerita tersebut, yaitu akhir tahun 1700-an.
Namun, sayang komitmen totalitas tersebut harus berakhir di ruang penyuntingan. Fennell mengaku sangat menyesal karena terpaksa memotong adegan yang memperlihatkan bulu ketiak lebat sang aktris demi efisiensi durasi film.
Selain membahas soal bulu ketiak, sutradara pemenang Oscar ini juga membagikan cerita di balik salah satu adegan paling aneh dan sensual dalam film tersebut: momen ketika Cathy memasukkan jarinya ke dalam mulut seekor ikan yang dikelilingi lapisan jeli gurih.
Ide adegan unik ini rupanya lahir dari dorongan impulsif Fennell sendiri. "Saya melihat hidangan ikan dalam aspic lalu berpikir, 'Saya ingin memasukkan jari saya ke dalam mulutnya'," kenang Fennell.
"Kemudian saya berpikir, 'Nah, jika karaktermu sedang merasa terjebak dan mengalami frustrasi seksual yang luar biasa, mungkin hal pertama yang akan kamu lakukan adalah...'."
Untuk mengeksekusi visi aneh ini, tim produksi bahkan menyiapkan berbagai opsi properti. Fennell menceritakan bahwa mereka memiliki berbagai jenis ikan di lokasi syuting, mulai dari ikan mainan, ikan asli, hingga ikan yang sengaja dipakaikan lipstik.
"Pada akhirnya, kami menggunakan ikan asli. Tapi kasihan Margot. Maksud saya, dia harus melakukan adegan itu berulang kali dengan 12 ikan berbeda," tambahnya.
Wuthering Heights versi Emerald Fennell ini memang dipastikan akan tampil berbeda dari adaptasi-adaptasi sebelumya. Menjabat sebagai sutradara sekaligus penulis skenario, Fennell menjelaskan bahwa ia mengembangkan naskah film ini berdasarkan memorinya saat membaca novel karya Emily Brontë tersebut ketika ia masih remaja.
"Saya rasa hal-hal yang saya ingat dari buku itu ada yang nyata dan ada yang tidak nyata," jelas Fennell.
"Jadi ada semacam pemenuhan hasrat di dalamnya, dan ada beberapa karakter utuh yang sempat saya lupakan atau akhirnya saya gabungkan menjadi satu."
Fennell menegaskan bahwa film ini dirancang sebagai interpretasi sekaligus respons terhadap emosi dan rasa yang ditimbulkan oleh bukunya, alih-alih menjadi adaptasi yang setia kata-per-kata.
Keterbatasan durasi bioskop diakuinya menjadi tantangan terbesar yang memaksa dirinya memangkas banyak bagian dari novel aslinya.
"Sejujurnya, saya ingin sekali membuat ini menjadi miniseries berdurasi 10 jam agar bisa merangkum seluruh isi buku dengan indah."
"Namun, jika Anda membuat film layar lebar, Anda dituntut untuk bergerak cepat dan padat. Pada akhirnya, keputusan-keputusan sulit seperti itulah yang harus diambil," pungkasnya.
Simak Video "Video: Impian Naura Ayu Bisa Wawancara Lisa BLACKPINK-Olivia Rodrigo"
(ass/pus)