Wuthering Heights: Panasnya Romansa Cinta Anak Muda
EDITORIAL RATING
AUDIENCE RATING
Sinopsis:
Secara garis besar inti cerita dari Wuthering Heights masih sama. Ini adalah kisah cinta toxic antara Cathy (Margot Robbie) dan Heathcliff (Jacob Elordi). Ayah Cathy, Mr. Warnshaw (Martin Clunes), adalah tipikal orang kaya yang tidak tahu bagaimana cara mengatur uang dan menjadi orang tua yang baik.
Kelakuannya kasar, hobinya mabuk dan berjudi. Suatu hari ia melihat Heathcliff kecil dan memutuskan untuk membawanya ke rumah, di Wuthering Heights. Meskipun perlakuan Mr. Earnshaw kepada Heathcliff tidak lebih baik dari siapa pun yang memukulinya di jalanan, Heathcliff memilih untuk tinggal di tempat itu.
Wuthering Heights (2026). Foto: Dok. Warner Bros |
Pilihan apa lagi yang dia punya? Lagi pula di tempat itu ia memiliki Cathy yang bisa ia ajak untuk tertawa bersama. Meskipun mereka berdua tidak mengatakan hal ini tapi baik Cathy dan Heathcliff tahu kalau mereka menyayangi.
Lalu apa masalahnya? Kalau mereka masih mencintai harusnya tinggal ngomong saja. Itu mungkin adalah beberapa pertanyaan yang akan muncul di kepalamu saat menyaksikan Cathy dan Heathcliff main kucing-kucingan.
Tapi ingatlah kenyataan ini: Heathcliff bukan siapa-siapa. Dia tidak bisa membaca atau menulis dan Cathy-seperti layaknya perempuan lainnya saat itu-ingin menikah dengan laki-laki yang akan mengangkat derajatnya.
Maka masuklah Edgar Linton (Shazad Latif), tetangga baru mereka yang kaya raya dan menaruh hati kepada Cathy. Maka dimulailah tarik-ulur cinta yang beracun ini.
Review:
Ada alasan kenapa Wuthering Heights yang terbaru buatan Emerald Fennell menggunakan tanda kutip di judulnya. Ia mengatakan bahwa ia mengadaptasi perasaan yang ia rasakan ketika pertama kali membaca novel klasik karya Emily Brontë tersebut.
Bagi kamu yang akrab dengan Wuthering Heights dan berharap bahwa adaptasi film ini akan setia dengan novelnya, bersiaplah untuk kecewa. Tapi kalau kamu ingin dikejutkan dengan tafsir yang luar biasa liar, percayalah bahwa Wuthering Heights adalah sebuah hadiah buat kita semua yang mempunyai pikiran agak sedikit liar.
Wuthering Heights (2026). Foto: Dok. Warner Bros |
Penikmat Wuthering Heights yang asli mungkin akan mencak-mencak melihat apa yang dilakukan Fennell dengan buku klasik tersebut. Ada begitu banyak karakter yang menghilang, cerita yang sengaja diubah.
Sekilas Fennell sepertinya hanya fokus kepada emosi cetek karakternya: nafsu dan cinta. Tapi ternyata justru dengan fokus ini Wuthering Heights justru membuat kisah ini terasa humanis. Siapa dari kita yang tak memikirkan dua hal ini. Fennell bukannya tidak memperingatkan penonton akan hal ini.
Film ini dibuka dengan suara erangan sosok misterius yang seperti sedang melakukan hal yang tidak senonoh. Sebelum Fennel menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, ia sudah memaksa penontonnya untuk berpikiran kotor.
Dengan karakter yang relatif lebih sedikit-dan penceritaan yang jauh lebih sederhana dibandingkan sumber aslinya, Wuthering Heights tahu benar ia jenis film macam apa. Kritik yang sama juga dilontarkan oleh banyak orang kepada Fennell setelah Saltburn dirilis.
Dalam film ini Fennell seperti balas dendam dengan melipatgandakan semua kritik tersebut. Wuthering Heights jauh lebih heboh, lebih mementingkan gaya ketimbang konten dan jauh lebih liar. Ada lebih dari satu adegan yang akan membuatmu terperangah seperti ketika kamu menyaksikan aksi-aksi Barry Keoghan di film kedua Fennell.
Wuthering Heights (2026). Foto: Dok. Warner Bros |
Tapi entah kenapa, semua kehebohan itu justru cocok untuk Wuthering Heights. Dari pengucapan dialog yang sengaja dibuat berlebihan-dalam beberapa momen rasanya seperti menyaksikan drama vertikal yang viral itu-sampai desain produksi yang dibuat extravaganza menjadikan Wuthering Heights tontonan yang seru.
Kamu bisa menuduh Fennell menghancurkan Wuthering Heights tapi kamu tidak bisa mengatakan bahwa film ini membosankan. Margot Robbie dan Jacob Elordi tentu saja memerankan karakter mereka dengan baik.
Mereka tahu bagaimana membuat penonton geregetan dengan chemistry mereka dan tentu saja bentuk fisik mereka yang paripurna yang dimanfaatkan dengan gila-gilaan oleh sutradaranya.
Tapi yang membuat Wuthering Heights adalah sebuah pengalaman menonton yang tak ada duanya adalah kenyataan film ini dipersembahkan seperti sebuah video klip mahal yang pernah ada.
Disaksikan di layar besar IMAX, Wuthering Heights adalah sebuah pemandangan yang memanjakan mata dan telinga. Production designer Suzie Davies, kostum dari Jacqueline Durran dan kamera dari Linus Sandgren menghadirkan visual yang enak sekali dipandang mata.
Wuthering Heights (2026). Foto: Dok. Warner Bros |
Dari desain rumah Cathy yang kumuh sampai istana Edgar yang megah, Wuthering Heights tidak kekurangan bahan untuk membuat saya melongo. Warna-warnanya hadir dengan spesifik-dari warna baju sampai lantai rumah Edgar yang menyala merah seperti banjir darah.
Fennell bisa menggabungkan estetik video klip MTV, gambar sampul novel-novel Harlequin dan estetik gothic menjadi satu. Semua ini kemudian diblender dengan musik dari Anthony Willis dan musik dari Charli XCX. Hasilnya adalah audio visual yang begitu membius.
Nafsu membara tidak pernah terasa sesinematik ini. Saksikan bersama teman-temanmu yang sudah dewasa karena Wuthering Heights adalah perayaan yang harus disaksikan bersama-sama. Jangan tunggu sampai bulan puasa karena ini jenis film yang dijamin akan membuat puasamu batal.
| Genre | drama |
| Runtime | 136 minute |
| Release Date | 13 February |
| Production Co. | MRC Lie Still LuckyChap Entertainment |
| Director | Emerald Fennell |
| Writer | Emerald Fennell |
| Cast | Margot Robbie as Catherine "Cathy" Earnshaw Charlotte Mellington as young Catherine Earnshaw Jacob Elordi as Heathcliff Owen Cooper as young Heathcliff Hong Chau as Nelly Dean Vy Nguyen as young Nelly Dean Shazad Latif as Edgar Linton Alison Oliver as Isabella Linton |
Candra Aditya adalah seorang penulis dan pengamat film lulusan Binus International.















































