×
Ad

Bumi Manusia Hadir Versi Extended

Febryantino Nur Pratama - detikPop
Kamis, 05 Mar 2026 11:03 WIB
Foto: febri/detikhot
Jakarta -

Setelah sukses mengalihwahanakan novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer ke layar lebar pada 2019, Falcon Pictures kembali menghadirkan kisah Minke, Annelies, dan Nyai Ontosoroh dalam format lebih utuh bertajuk Bumi Manusia Extended. Versi terbaru ini akan tayang eksklusif di platform OTT KlikFilm mulai Kamis, 5 Maret 2026.

Dikemas dalam enam bagian, serial ini hadir dua kali seminggu setiap Senin dan Kamis, menemani penonton menjelang Lebaran 2026. Dalam versi extended ini, adegan-adegan yang sebelumnya terpotong akan ditampilkan kembali. Dialog disebut lebih mendalam, emosi terasa lebih kuat, serta lapisan sosial-politik yang menjadi ruh karya Pramoedya dihadirkan lebih kaya.

Direktur KlikFilm, Frederica, mengatakan perilisan ini menjadi bagian dari perayaan seabad Pramoedya.

"Kami percaya karya sebesar Bumi Manusia memiliki jiwa yang tidak cukup hanya diceritakan dalam satu format. Versi extended ini memberi ruang kontemplasi yang lebih luas bagi penonton untuk menyelami pemikiran Pramoedya. Menjelang Lebaran, kami ingin menghadirkan tontonan yang bukan hanya menghibur, tetapi juga memperkaya batin," ujar Frederica dalam konferensi pers di kantor Falcon Pictures, Duren Tiga, Jakarta Selatan, Rabu (4/3/2026).

Frederica menambahkan, saat film dirilis pada 2019, banyak footage yang tak bisa ditayangkan karena keterbatasan durasi. Sehingga versi Extended disebut lebih lengkap.

"Makanya tahun ini, dengan merayakan seabad Pram, kami ingin merilis Bumi Manusia Extended dengan menambah satu jam, dan kita bagi menjadi enam part. Mulai 5 Maret di KlikFilm akan ditayangkan setiap Senin dan Kamis," jelasnya.

Sementara itu Sutradara Hanung Bramantyo mengungkapkan, versi extended ini menjadi kesempatan untuk menghadirkan semesta cerita yang lebih luas.

"Sejak awal saya menyadari bahwa Bumi Manusia adalah semesta besar. Dalam versi extended ini, kami bisa menghadirkan detail-detail relasi, pergulatan identitas, serta ketegangan kolonialisme yang sebelumnya harus dipadatkan. Ini bukan sekadar tambahan durasi, tetapi pendalaman rasa," tutur Hanung.

Ia tak menampik, saat tayang di bioskop tujuh tahun lalu, banyak penonton terutama pembaca novel merasa cerita terlalu berfokus pada percintaan Minke dan Annelies. Namun versi Extended ini ajan lebih lengkap.

"Film itu punya keterbatasan waktu dan durasi di bioskop. Waktu itu saja kita hanya dapat empat show karena durasinya lebih dari dua setengah jam. Bahkan hasil syutingnya enam jam dan harus dipangkas. Jadi memang banyak bagian yang terpaksa dihilangkan," katanya.

Hanung sempat mempertimbangkan membagi film menjadi dua bagian. Namun urung dilakukan karena, skenario tak disiapkan dalam format tersebut.

"Takutnya nanti ending bagian pertama jadi kentang. Film kan bukan televisi, penonton tetap butuh ending yang utuh," ujarnya.

Lewat versi extended, Hanung berharap bisa menjawab kritik soal minimnya penggambaran latar sosial-politik.

"Bukan sekadar konflik cinta, tapi ada persoalan ras, kultur, geopolitik, relasi antara Belanda Totok, Indo, pribumi bangsawan, priyayi, sampai kuli. Itu semua sebenarnya kuat di novel, dan sekarang coba kita hadirkan lebih lengkap," jelasnya.

Salah satu tambahan yang disorot adalah pengembangan karakter Jean Marais yang sebelumnya kurang tergarap.

"Hubungan dia dengan Minke di versi film layar lebar kurang tergarap karena banyak scene dibuang. Sekarang coba kita masukkan," kata Hanung.

Perwakilan keluarga Pramoedya, Astuti Ananta Toer, menyambut baik kehadiran versi extended ini. Ia menyebut format serial dapat menjadi jembatan baru bagi generasi muda.

"Semoga melalui format serial ini, semakin banyak yang membaca kembali novelnya dan memahami gagasan-gagasan besar tentang kemanusiaan, keadilan, dan harga diri," ujar Astuti Ananta Tour.

Astuti mengungkapkan, pertanyaan soal adegan yang hilang kerap muncul saat perayaan seabad Pramoedya di luar negeri.

"Waktu dibawa ke San Marino, Italia, lalu ke Prancis, banyak yang bertanya bagian-bagian itu ke mana. Padahal sebenarnya sudah dibuat tapi belum ditayangkan," kata Astuti.

Ia juga menyinggung detail-detail kecil yang menandai masuknya modernitas dalam cerita. Salah satu adegan ice cream.

"Di dalam Bumi Manusia ada adegan lemari es, orang minum es krim. Itu penanda mulai masuknya zaman modern. Bahkan kebangkitan nasionalisme itu datang dari situ. Hal-hal seperti itu kadang luput dan perlu dijelaskan," tuturnya.

Bumi Manusia Extended akan tayang bertahap hingga bisa menjadi tontonan keluarga selama Ramadan dan libur Lebaran 2026. Di tengah suasana refleksi, kisah tentang cinta, perlawanan, dan pencarian jati diri ini diharapkan menjadi ruang perenungan tentang arti menjadi manusia di tengah sejarah yang tak selalu berpihak.



Simak Video "Video: Bunga Penutup Abad Kembali Digelar Setelah 7 Tahun"

(fbr/wes)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork