Hanung Bramantyo Kritik Eksploitasi Anak di Industri Film
Di balik antusiasmenya menyutradarai proyek dari MD Pictures ini, Hanung Bramantyo, ternyata sempat menyimpan trauma mendalam terkait pekerja anak di industri perfilman Indonesia.
Suami Zaskia Adya Mecca itu mengungkapkan pada awal kariernya, sebenarnya sangat akrab dengan genre anak-anak. Namun, ia perlahan memilih mundur dari genre tersebut karena, melihat langsung banyaknya ketimpangan jam kerja yang dinilainya sebagai bentuk eksploitasi terhadap aktor cilik.
"Anak dipaksa untuk bekerja sesuai dengan standar orang dewasa. Meninggalkan sekolah," kata Hanung Bramantyo saat ditemui di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (4/3/2026).
Hanung Bramantyo kemudian menceritakan pengalaman pahit yang menjadi titik balik dalam kariernya. Ia mengaku, pernah mendapat surat teguran keras dari pihak sekolah karena aktor cilik yang membintangi proyeknya terlalu sering membolos demi syuting.
"Dari situ kemudian saya bersumpah saya nggak akan bikin film anak lagi selama industri film tidak ramah sama anak. Itu yang pertama saya takut," tegas Hanung Bramantyo.
Bertahun-tahun memegang sumpah tersebut, ia akhirnya luluh ketika produser Manoj Punjabi menawarinya kursi sutradara untuk adaptasi film peraih nominasi Oscar ini.
Meski begitu, Hanung Bramantyo tidak mau sembarangan. Ia memberikan syarat mutlak agar proses produksi harus memprioritaskan kesejahteraan aktor cilik, Jared Ali dan Humaira Jahra.
"Saya mau membuat film ini, pertama, saya mau ngikutin syuting untuk anak. Jadi anak harus happy, harus tidak boleh mengikuti standar kita," terang Hanung Bramantyo.
MD Pictures menyetujui syarat tersebut. Hanung Bramantyo benar-benar merombak sistem kerja kru di lapangan agar jam istirahat para pemain cilik tetap terjaga, terutama saat harus mengambil adegan di malam hari.
"Jadi kita ada batas syuting, kalaupun molor karena memang membutuhkan scene malam. Jadi calling-annya jam 3 sore, pulang jam 2 atau 3 pagi. Saya menghindari calling pagi pulangnya pagi," pungkasnya.
Lewat Children of Heaven versi Indonesia, Hanung Bramantyo berharap karyanya bisa menjadi contoh produksi film yang sehat bagi pekerja anak, sekaligus menyajikan kisah haru yang bermartabat. Rencananya, film keluarga ini akan tayang di bioskop pada 27 Mei mendatang.
(ahs/wes)











































