His & Hers: Cinta Ibu Berubah Jadi Senjata Paling Dingin
EDITORIAL RATING
AUDIENCE RATING
Sinopsis His & Hers:
Serial thriller psikologis di Netflix yang diadaptasi dari novel Alice Feeney, memadukan misteri pembunuhan dengan relasi personal yang berlapis. Cerita berkembang dari kasus yang awalnya tampak sederhana, lalu perlahan membuka banyak rahasia lama, hubungan antar tokoh, dan luka yang belum pernah sembuh sepenuhnya.
Ketegangan cerita dan permainan emosi para aktor bikin serial ini cukup bikin betah ditonton sampai akhir, apalagi dengan plot twist yang muncul di beberapa titik penting. Meski begitu, pacing di sejumlah bagian memang terasa lambat.
Review His & Hers:
Pernah kepikiran gak, sejauh apa seseorang bisa berubah ketika hidupnya didorong sampai titik paling mentok? Bukan berubah jadi lebih kuat. Tapi jadi sosok yang bahkan dirinya sendiri gak kenal.
His & Hers bukan serial yang langsung ngajak kita mikir soal pembunuhan. Gayanya pelan cenderung sabar. Tapi justru dari sana juga rasa gak nyamannya muncul.
Sutradara William Oldroyd mengangkat serial itu bukan cuma misteri kriminal, tapi lapisan emosi manusia yang jarang disentuh.
His & Hers berkisah tentang Anna Andrews (Tessa Thompson), mantan news anchor yang menarik diri dari dunia setelah sebuah kejadian traumatis. Hidupnya stagnan, relasinya berantakan, dan masa lalunya belum selesai.
Ketika kabar tentang pembunuhan seorang perempuan muncul di kota kecil tempatnya dibesarkan, Dahlonega, Anna pulang. Bukan cuma sebagai jurnalis, tapi sebagai seseorang yang punya luka lama dengan kota itu.
Di sisi lain ada Jack Harper (Jon Bernthal), detektif yang menangani kasus tersebut. Dia juga mantan suami Anna. Relasi mereka dingin, penuh curiga, dan menyimpan banyak hal yang gak pernah benar-benar selesai.
Cerita bergerak lewat dua sudut pandang, yaitu hukum dan emosi, fakta dan trauma, logika dan naluri.
Chemistry Tessa Thompson dan Jon Bernthal jadi salah satu kekuatan utama serial ini. Bukan chemistry romantis, tapi ketegangan emosional yang bikin setiap dialog terasa punya beban.
Kasus pembunuhan yang awalnya terlihat sederhana perlahan membuka rahasia demi rahasia, bukan cuma soal siapa pelakunya, tapi siapa sebenarnya orang-orang di kota itu.
Kalau berharap thriller cepat dengan twist tiap episode, His & Hers mungkin terasa lambat. Tapi justru di situ letak kekuatannya. Serial ini lebih tertarik membedah manusia ketimbang sekadar memecahkan teka-teki.
Bahkan, di titik tertentu, cerita fokus ke seorang ibu, sosok yang selalu kita tempatkan sebagai figur paling lembut. Sumber cinta tanpa syarat. Tapi His & Hers berani bertanya, apa jadinya kalau semua itu dihancurkan?
Serial ini pelan-pelan nyeret kita ke pemikiran yang gelap. Bukan ibu versi sinetron yang tabah dan ikhlas. Tapi ibu yang kehilangan arah, pegangan, dan belas kasihan.
Cinta ke anaknya gak lagi tampil sebagai sesuatu yang hangat dan manis, tapi berubah jadi bahan bakar balas dendam yang gak ditampilkan dengan emosi meledak-ledak. Justru dengan ketenangan yang diambil dengan kepala dingin dan hati yang sudah mati rasa.
Di titik ini, penonton dibuat gak nyaman. Karena kita gak sepenuhnya setuju dengan apa yang dilakukan. Tapi kita juga gak bisa sepenuhnya menyalahkan. Semua langkahnya bisa dijelaskan. Itu juga yang bikin merinding.
Saat seseorang didesak sampai batas terakhir, nilai baik dan buruk jadi kabur. Sisanya cuma naluri paling purba buat bertahan hidup dan menguasai keadaan.
Dalam kondisi ekstrem, manusia gak lagi bertindak berdasarkan moral konvensional, tapi berdasarkan kehendak untuk bertahan dan memberi arti pada keberadaannya. Ketika dunia gagal melindungi yang paling kita cintai, pemberontakan menjadi satu-satunya respons yang terasa jujur.
Pada akhirnya, His & Hers adalah refleksi pahit tentang bagaimana cinta paling murni bisa melahirkan kekerasan paling kejam. Tentang bagaimana manusia rela kehilangan kemanusiaannya demi mempertahankan arti hidupnya sendiri.
Mungkin pertanyaan terpenting yang ditinggalkan serial ini bukan, apa yang salah dengan ibu? Tapi, kalau kita berada di posisinya, apa kita benar-benar akan lebih baik?
| Genre | Thriller |
| Runtime | 39 m per episode |
| Release Date | 8 Januari 2026 |
| Production Co. | Netflix |
| Director | William Oldroyd, Anja Marquardt |
| Writer | His & Hers by Alice Feeney |
| Cast | Tessa Thompson sebagai Anna Andrews Jon Bernthal sebagai Detective Jack Harper Pablo Schreiber sebagai Richard Jones Rebecca Rittenhouse sebagai Lexy Jones Sunita Mani sebagai Priya 'Boston' Patel |











































