28 Years Later: The Bone Temple, Ada Yang Lebih Menakutkan Daripada Zombie
EDITORIAL RATING
AUDIENCE RATING
Sinopsis:
Apa yang lebih menakutkan dari zombie? Manusia. Setidaknya itu jawaban yang diberikan penulis skrip Alex Garland melalui 28 Years Later: The Bone Temple yang melanjutkan film sebelumnya tahun lalu.
Setelah berpetualang untuk mengobati ibunya, 28 Years Later diakhiri dengan pertemuan Spike (Alfie Williams) dengan geng "Jimmies" yang diketuai oleh Sir Lord Jimmy Crystal (Jack O'Connell). Yang penasaran kenapa Danny Boyle membuka film itu dengan Jimmy kecil akan menemukan jawabannya di film ini.
Sir Lord Jimmy Crystal rupanya menganggap bahwa dirinya adalah nabi. Ia pun mengumpulkan bocah-bocah untuk menjadi pengikutnya yang semuanya ia beri nama Jimmy. Dan dibukalah 28 Years Later: The Bone Temple dengan adegan yang akan membuat semua penonton ngilu: Spike harus membunuh lawannya kalau ia mau bergabung dengan geng ini.
Berbeda dengan Jimmy Crystal yang sedang bermain menjadi Tuhan, Dr. Ian Kelson (Ralph Fiennes) mencoba mencari makna di dunia yang sangat tidak bersahabat ini. Ia sudah sering bertemu dengan Samson (Chi Lewis-Parry), zombie alpha tinggi besar yang bisa mencopot kepala orang semudah mengedipkan mata.
Tapi baru kali ini ia memutuskan untuk benar-benar "bereksperimen" dengan Samson. Dan untuk pertama kalinya, ia akhirnya melihat cahaya di ujung terowongan.
Review:
Melanjutkan sebuah sekuel dari film yang oke adalah sebuah tugas berat. Danny Boyle berhasil memperbarui genre zombie melalui 28 Days Later lalu kembali mengingatkan bahwa cerita ini mempunyai mitologi yang luas melalui 28 Years Later.
Cuplikan adegan dalam film 28 Years Later. Foto: Dok. Ist |
Tugas Nia DaCosta sangatlah berat-apa lagi film ini di-setting menjadi pertengahan sebelum film ketiganya yang sedang dimasak. Tapi ternyata DaCosta berhasil melakukan tugasnya dengan baik karena film ini adalah salah satu sekuel yang paling memuaskan.
28 Years Later: The Bone Temple memang tidak sementereng film sebelumnya. Sebelumnya Danny Boyle mengajak sinematografer Anthony Dod Mantle yang menghasilkan gambar-gambar yang memikat.
Baca juga: We Bury The Dead: Film Zombie Yang Sedih |
Penggunaan iPhone di film sebelumnya menghasilkan momen-momen yang memorable-semangatnya pun mirip dengan penggunaan kamera digital di film pertamanya. Meskipun jauh lebih sederhana, DaCosta berhasil mewarnai film ini dengan gayanya sendiri.
Tidak hanya ia tahu bagaimana cara mengagetkan penonton dengan jump scare-nya yang tidak terduga, DaCosta juga hobi mempermainkan emosi penonton dengan kameranya. Di salah satu momen yang paling menakutkan dalam film ini, DaCosta tidak memperlihatkan dengan jelas apa yang terjadi.
28 Years Later: The Bone Temple (2026). Foto: Dok. Ist |
Ia menggunakan sound design dan akting pemerannya dengan baik untuk menggambarkan situasi. Lalu ketika DaCosta menunjukkan apa yang benar-benar terjadi, horor yang ada di layar tampak semakin nyata. Kadang hal yang disembunyikan justru memberikan efek yang lebih kuat dan DaCosta paham sekali soal ini.
Dari segi plot, 28 Years Later: The Bone Temple memang jauh lebih sederhana. Film ini juga "beruntung" karena tugasnya hanya mengeksplorasi hal yang sudah dibentangkan di film pertamanya. Tapi meskipun sederhana, apa yang dilakukan Alex Garland di film ini cukup menarik.
Di film ini akhirnya penonton mendapatkan informasi baru tentang virus penyebab zombie ini. Garland bahkan memberikan adegan point-of-view si zombie yang berperan penting dalam penelitian Kelson.
Bicara soal Kelson, Ralph Fiennes lagi-lagi menunjukkan bahwa dia adalah aktor yang luar biasa. Ia bisa tampil lucu sekaligus sendu-bahkan kadang di dalam momen yang sama. Pujian yang sama juga harus disematkan kepada Alfie Williams dan Jack O'Connell.
Sementara Alfie Williams berhasil membuat saya peduli dengan nasib Spike, O'Connell berhasil menjadi salah satu villain paling mengesankan yang pernah ada. Penampilannya di film ini dan Sinners membuktikan bahwa O'Connell jago menjadi antagonis yang enak untuk ditonton dan dimaki.
28 Years Later: The Bone Temple Foto: Dok. Ist |
Dengan durasi yang bersahabat-109 menit-28 Years Later: The Bone Temple adalah sebuah sekuel yang memuaskan meskipun ia hadir bukan tanpa kekurangan. Konklusinya terasa kurang meriah-apa lagi kalau mengingat semua hal gila yang dilakukan oleh geng "Jimmies"-padahal set-up-nya sudah meyakinkan.
Tapi senjata akhir 28 Years Later: The Bone Temple memang bukan di klimaks, melainkan di ending. Pancingan untuk lanjutannya sangat meyakinkan dan saya tidak sabar untuk masuk ke dunia ini lagi.
Candra Aditya adalah seorang penulis dan pengamat film lulusan Binus International.














































