Unabomber: Monster Di Balik Teror Bom
EDITORIAL RATING
AUDIENCE RATING
Sinopsis:
Dari 1978 sampai 1995, Amerika pernah diteror oleh teroris yang dinamai dengan Unabomber oleh FBI. Targetnya adalah orang-orang yang bekerja di kampus atau airlines.
Metodenya adalah dengan mengirim sebuah paket berisi bom kepada korban. Tiga orang meninggal dan puluhan orang terluka. Konon pencarian Unabomber adalah misi termahal yang pernah dilakukan FBI.
Dan kisah ini sekarang bisa kamu saksikan di rumah berkat sutradara Janus Metz.
Unabomber (2026). Foto: Dok. Netflix |
Dalam film ini, penulis skrip Sam Chalsen dan Nelson Greaves, membagi kisah horor ini dalam dua bagian. Bagian pertama adalah kisah seorang agen FBI bernama Joanne Miller di era 90-an (Shailene Woodley) yang berjuang untuk menemukan Unabomber melalui bahasa.
Unabomber konon memaksa dua surat kabar untuk memuat manifesto sebelum ia meneror masyarakat lagi. Sementara itu bos dan agen lain, Leo Driver (Alexander Ludwig), tidak percaya metode Miller.
Miller mendapatkan angin segar ketika adik si Unabomber sendiri mengirimkan surat dari saudaranya yang secara diksi dan bahasa sangat mirip dengan si teroris tersebut.
Bagian kedua ber-setting di Harvard tahun 1958 saat Unabomber alias Ted Kaczynski (Jacob Tremblay) masih kuliah. Ia tertarik dengan tawaran profesor Henry A. Murray (Russell Crowe) yang mengajaknya untuk ikut "klub debat".
Yang Kaczynski tidak ketahui bahwa klub debat ini hanyalah kedok untuk sebuah eksperimen yang dilakukan oleh CIA.
Review:
Dua cerita dalam film ini sebenarnya sama-sama menarik meskipun jelas bagian mana yang lebih asyik untuk dikulik. Bagian pencarian FBI terasa seperti standar film-film investigasi.
Tentu saja kita sebagai penonton dibuat mendukung penuh apa pun yang dilakukan oleh Joanne Miller untuk menangkap Kaczynski dewasa. Karena itulah semua orang di sekelilingnya harus dibuat skeptis dengan teorinya soal bahasa.
Unabomber (2026). Foto: Dok. Netflix |
Ketika Joanne Miller memutuskan untuk mengindahkan perintah bosnya dan menyelidiki sendiri penemuannya, Unabomber terasa seperti film-film yang sudah sering kita tonton.
Bagian yang lebih menarik memang ada di bagian masa muda Kaczynski. Jacob Tremblay berhasil menunjukkan bahwa dia aktor muda yang brilian. Ia bisa menampilkan karakter Kaczynski muda yang tidak stabil tanpa terlihat karikatur.
Emosinya meledak-ledak dan ia bisa mengucapkan semua monolog berat itu dengan begitu mudah. Begitu juga dengan Russell Crowe sebagai seorang profesor manipulatif.
Ia percaya bahwa apa yang ia lakukan adalah demi kebaikan. Ketika dua orang ini berada di ruangan yang sama, Unabomber terasa lebih mendebarkan bahkan melebihi adegan pembukaannya yang melibatkan bom.
Bagian yang mungkin disayangkan-tapi mungkin dilakukan dengan sengaja-adalah keputusan pembuat film ini untuk menjelaskan apa yang ada di kepala Kaczynski.
Apakah ia memang melakukan semua ini karena ia percaya dengan semua yang ia ucapkan? Atau ini akibat dari pengkhianatan yang dilakukan oleh profesornya?
Unabomber (2026). Foto: Dok. Netflix |
Atau mungkinkah ini disebabkan oleh "eksperimen" itu? Mungkin Metz memang sengaja tidak menjawab ini dan membiarkan kita memikirkan sendiri konklusinya.
Tapi yang jelas, Unabomber ternyata cukup mempunyai kejutan untuk membuat penontonnya bertahan sampai akhir.
Candra Aditya adalah seorang penulis dan pengamat film lulusan Binus International.



