Bayangkan kamu baca novel sains fiction dengan karakter khas manga namun berlatar kota Jakarta. Terasa unik kan?
Itulah terbitan terbaru yang dirilis oleh penerbt independen Binatang Press!. Penerbit yang berdiri sejak 2015 oleh Andreas Junus (akrab disapa Acung) bersama istrinya, Irawandhani Kamarga (Wandha) menerbitkan novel bilingual Indonesia-Jepang, Puru Puru Punk karya seniman Kosuke Hashijima.
Andreas Junus cerita saat Edgar Honggo dari LQID Creative Space menyambanginya dan bawa novel Puru Puru Punk edisi bahasa Jepang, keduanya langsung klik untuk kolaborasi bersama.
"Binatang Press! itu independent book publishing yang fokus salah satunya soal subkultur kota Jakarta. Saat Edgar bawa, lumayan tebel ya, dan scientific banget. Dalam 1.000 halaman habis (dibaca), buat teman-teman yang punta pengalaman banyak nonton anime dan manga, bakal tertarik banget," kata Andeas saat ditemui di LQID Creative Space, Jumat (9/10/2026).
Andreas cerita di dalam novelnya ada dua karakter perempuan kembar bernama Utara dan Selatan. Menurutnya, karakter mereka terbilang menarik.
"Tentang Utara dan Selatan, ada ratu cewek jadi hero di ceritanya, di novel Puru puru punk sangat bercerita, action benget, gimana mereka ada pandangan berbeda. Punk-nya disitu, mirip cyber punk. Dari situ sudah bikin tertarik banget," ungkapnya.
Terbitan novel Puru Puru Punk: Jakarta Arc mengambil latar kota Jakarta dengan seluk-beluknya. "Gimana seorang warga Jepang bercerita tentang Jakarta di dunia yang berbeda," katanya.
Meskipun versi bahasa Indonesia lebih ringkas ketimbang Jepang, namun novelnya sengaja dicetak secara bilingual. Menurut Andreas, karyanya berasa banget sisi lain fantasi orang Jepang soal Jakarta.
Tapi sejak awal memulai proses penggarapan bersama kosuke, ia sempat ragu. Kok bisa-bisanya warga Jepang yang belum tahu soal Jakarta, bisa ceritain Ibu Kota secara gamblang.
Sinopsis cerita:
Puru Puru Punk: Jakarta Arc adalah kisah yang berlangsung di linimasa alternatif Puru Puru Punk. Tokoh utamanya adalah sepasang kembar bernama Selatan dan Utara yang tinggal di Jakarta.
Bersama tokoh-tokoh lokal, mereka berpacu melintasi kota dalam satu hari yang terasa begitu panjang. Pameran ini menghadirkan rangkaian karya yang merekam potongan-potongan dunia dari satu hari tersebut.
FYI, di antara beragam terbitannya, Binatang Press juga menghadirkan karya-karya bertema cerita dan fantasi, sehingga cocok dengan Puru Puru Punk: Jakarta Arc yang sarat ekspresi kreatif, karakter yang kuat, serta dunia imajinasi yang memikat.
Untuk terbitan kali ini, Binatang Press memilih pendekatan yang lebih analog dalam memproduksi buku Puru Puru Punk. Edisi Jakarta Arc dicetak dengan teknik Risograph, memberikan nuansa yang lebih raw agar pembaca bisa merasakan suasana Jakarta secara lebih nyata dan dekat.
Simak Video "Video: One Punch Man Season 3 Jadi Anime Terburuk 2025!"
(tia/dar)