Intan Paramaditha Merawat Isu Feminisme Lewat Karya Fiksi

Tia Agnes Astuti
|
detikPop
Novelis Intan Paramaditha Bincang Kreatif di Kantor detikcom
Novelis Intan Paramaditha saat menyambangi kantor detikcom pada Jumat malam (6/2/2026). Foto: Najm Dhiaulfaq/ detikFOTO
Jakarta - Nama Intan Paramaditha bukan sembarang novelis. Sejak 2005, lewat kumcer perdana Sihir Perempuan mempopulerkannya namanya ke panggung nasional sampai masuk ke dalam nominasi Khatulistiwa Literary Award (kini dikenal Kusala Sastra Khatulistiwa).

Lewat karya-karya fiksi yang dituliskannya, Intan Paramaditha merayakan tulisan horor feminis hingga bangun ruang kolektif bernama Sekolah Pemikiran Perempuan. Dibuka lewat Sihir Perempuan, Gentayangan, dan kini Malam Seribu Jahanam, tulisannya mendobrak dan menggugat sistem patriarki yang ada.

Sejak 20 tahun lalu, Dosen Kajian Media di Universitas Macquarie, Sydney, aktif menuliskan karakter perempuan dengan segala kegelisahannya. Saat menulis Gentayangan, ia tinggal dengan berpindah-pindah.

"Selama 20 tahun menulis isu perempuan, yang membentuk saya itu kan berbeda-beda. Ketika menulis Gentayangan dipengaruhi oleh perjalanan-perjalanan, saya juga berpindah-pindah, dari Indonesia ke Amerika, lalu ke Australia. Kita sebagai manusia juga terbentuk dari pergerakan global," ucapnya di kantor detikcom pada Jumat (6/2/2026).

Novelis Intan Paramaditha Bincang Kreatif di Kantor detikcomNovelis Intan Paramaditha Bincang Kreatif di Kantor detikcom Foto: GIDENajm's Camera

Dalam novel Malam Seribu Jahanam, Intan menulisnya di masa pandemi dan banyak merenung soal keluarga dan norma dominasi keluarga muslim yang dilihat secara kritis.

"Menulis Sihir Perempuan, saya itu masih muda. Kegelisahan perempuan muda yang kenapa sih posisi perempuan itu begini, melihat generasi sebelum saya kenapa tidak melawan? Padahal bentuk perlawanannya saya merefleksikan dengan cara berbeda. Bagaimana perempuan melawan? Saya mencoba menelusurinya," ucapnya.

"Barangkali bentuk perlawanannya berbeda. Misalnya jurnalis melawan dengan cara menulis atau berdiskusi. Kadang-kadang gak semua orang punya previllege, tergantung di situasi apa, misalnya saja Mak Ipah di Sihir Perempuan, sistem sosial dan hukum gak bekerja," sambung Intan.

Setelah dua dekade, Intan masih fokus pada tema perempuan-perempuan yang berbeda yang tak bisa dikategorikan sebagai perempuan baik atau jahat.

"Gak fit juga, antara baik atau jahat. Saya selalu suka yang seperti itu," tegasnya.

Kini pemikirannya soal isu feminis berkembang sampai mendirikan Sekolah Pemikiran Perempuan. Intan sekarang memikirkan bagaimana perempuan menavigasi, melawan, dan proses kerja itu bakal lebih panjang.

Novelis Intan Paramaditha Bincang Kreatif di Kantor detikcomNovelis Intan Paramaditha Bincang Kreatif di Kantor detikcom Foto: GIDENajm's Camera

"Di Malam Seribu Jahanam ada refleksi seperti itu, atas kerja perawatan dan kepedulian, atas hubungan kita dengan orang lain yang bersama-sama atau sendiri-sendiri. Siapa yang kita anggap teman dan siapa yang kita singkirkan," tukasnya.

Sepanjang kariernya, karya sastra dan akademiknya menyoroti struktur kekuasaan dan perlawanan, perjalanan dan mobilitas, serta produksi pengetahuan feminis dekolonial. Novel pertamanya, Gentayangan (The Wandering, Harvill Secker 2020, diterjemahkan oleh Stephen J. Epstein), masuk nominasi Stella Prize di Australia dan menerima penghargaan English PEN Translates Award.

Kumpulan cerpennya Apple and Knife menafsir ulang horor dan dongeng melalui lensa feminis dan menjadi bagian dari seri "Weird Girls" dari Vintage Classics. Karya-karya fiksinya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Jepang, Polandia, Turki, Thailand, dan Italia.

Novel terbarunya, Malam Seribu Jahanam (Night of a Thousand Hells), yang memadukan unsur gotik, Islam, dan cerita rakyat untuk mengkritik kekerasan dalam budaya kelas menengah, akan terbit dalam edisi bahasa Inggris terbitan Europa Editions (UK/US) dan Scribe (Australia) pada musim gugur 2026, diterjemahkan Stephen J. Epstein dan Tiffany Tsao.




(tia/wes)


TAGS


BERITA TERKAIT

Selengkapnya


BERITA DETIKCOM LAINNYA


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

TRENDING NOW

SHOW MORE

PHOTO

VIDEO