Ada kursi-kursi berwarna putih dan gak beraturan. Di atasnya, ada layar yang terkembang dan bergerak-gerak layaknya sebuah perahu rakit. Suara ombak dan decitan burung terdengar di sepanjang area booth Bibit dan Stockbit dalam gelaran Art Jakarta 2026.
Karya kolaborasi dengan seniman asal Gunung Kidul, Yogyakarta, Endry Pragusta, jadi sorotan di art fair bergengsi yang dibuka pada 2 Oktober di JIExpo Kemayoran, Jakarta.
Bukan sembarangan karya seni yang ditampilkan. Lost at Sea berangkat dari gagasan sederhana, laut gak pernah berhenti bergerak dan berubah. Laut gak pernah diam-diam diam. Di balik badai dan arus yang gak menentu, gelombang terus bergerak secara perlahan, menguji segala sesuatu yang dibangun di atasnya.
Sejak 2009, Endy Pragusta yang seorang pengajar aktif buat karya seni yang ada hubungannya dengan sistem pendidikan di Indonesia saat ini. Head of PR & Corporate Communication Bibit, William, yang hadir di booth cerita karya seni instalasi yang dihadirkan oleh Endry autokritik terhadap sistem pendidikan di Indonesia.
"Rakit dapat bertahan bukan karena ia kaku dan tidak berubah tapi karena mampu beradaptasi, mengikat kembali bagian-bagiannya, dan mencari keseimbangan ketika gelombang datang," ungkapnya saat diwawancarai di area Art Jakarta, Jumat (2/10/2026).
William cerita permasalahan sistem pendidikan di Tanah Air belum usai. Gambaran kondisi sistem yang berada dalam kondisi hanyut dan seakan meninggalkan manusia untuk menavigasi masa depan dengan penuh ketidakpastian dengan perangkat yang belum lengkap.
"Metafora tersebut kemudian diperluas ke dalam perjalanan finansial manusia yang juga tidak selalu memiliki peta yang sempurna," katanya.
Metafora laut dan sistem pendidikan Indonesia yang belum benar, sama seperti tantangan para seniman dalam menghasilkan karya seni.
Dalam pengalaman di edisi tahun ini, ada activity origami yang ngajak siapapun pengunjung untuk buat bentuk perahu. "Origami itu kan siapapun bisa melipat dan membuat apapun, sebagai lambang harapan dan bisa traveling jauh. Maunya kita si kapal-kapal kecil itu, yang mungkin di mata perekonomian gak signifikan tapi bisa menjadi penguat," tukasnya.
Endry Pragusta adalah seorang seniman dan pendidik dengan latar belakang pendidikan seni dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Karya Endry pernah dipresentasikan dalam beberapa pameran bersama, yang terbaru adalah 'Dislocation of Existence #Real ME' (Taichung, 2025) dan 'Art Jakarta: Special Presentation' (Jakarta, 2025).
Simak Video "Video: Melihat Pameran Art Jakarta Gardens 2025 "
(tia/tia)