Monumen Salib 'Pesta Babi' Diboyong Angki Purbandono ke Jakarta
Dalam film, saat suku Marind, Yei, Awyu, dan Muyu bertindak melawan dengan memasang plang Salib di area hutan adat mereka. Nah, simbol Salib itu kini ada di tengah-tengah art fair yang berlangsung di JIExpo Kemayoran yang dibawakan oleh seniman Yogyakarta Angki Purbandono.
Karya seni berjudul Berbunga-bunga: Tribute to Red Cross Movement in South Papua itu direprsentasi oleh SAL Project, dan ada di AJ SPOT.
Angki Purbandono cerita sejak awal nonton film Pesta Babi dan mengulang-ulangnya, sebagai seorang seniman, suami, ayah, dan Warga Negara Indonesia (WNI) emosinya masih saja sama.
"Ada rasa kebencian dan keragaman di situ. Saya melihat gimana mereka, masyarakat Papua Selatan beramai-ramai bikin pernyataan. Bagi saya, itu adalah performans terakhir mereka gimana kekuatannya dibantu spiritual untuk menyelamatkan hutan adatnya," ucapnya saat ditemui di JIExpo Kemayoran, Jumat malam (2/10/2026).
Hutan adat sebenarnya adalah pasar dan toko obat bagi masyarakat Papua. Dengan dalih, atas nama 'negara', pemerintah meratakan sumber kehidupan mereka. Dalam dokumenter Pesta Babi, perampasan tanah adat atas nama pembangunan ekonomi ataupun Proyek Strategis Nasional (PSN).
Dari dokumenter Pesta Babi itulah, Angki mendapatkan inspirasi untuk memboyong simbol Salib itu ke Art Jakarta. Ia pun menambahkan pengalaman personalnya yang lagi mengeksplorasi 'bunga-bunga' ke dalam karya instalasi terbarunya.
Salib Pesta Babi karya Angki Purbando Foto: Tia Agnes |
Salib yang terbuat dari bambu itu berdiri setinggi lebih dari 5 meter dan sukses mencuri perhatian pengunjung di hari pertama.
Berbunga-bunga pun jadi monumen pengingat yang dibawa Angki ke hadapan publik Jakarta.
"Sebagai seniman, saya itu basic-nya adalah populer. Menurut saya, bentuk simbol Salib ini sangat populer, sangat mudah untuk direspons. Sebagai musim, konsep bunga-bunga yang ditaburkan ke atas makam itu adalah konsep yang relevan dengan orang lain. Karya ini juga sebagai pengingat kalau perjuangan belum selesai, masih berlangsung sampai hari ini. Jadi saya mencoba bereksperimen," tegasnya.
Dalam postingan terbarunya di Instagram, Angki mengatakan gerakan salib merah menginspirasi pemikirannya untuk membawa 'Berbunga-bunga' jadi bagian penting dalam ingatan dan perilakunya.
"Bahwa sudah seharusnya saya menghormati setiap perjuangan hidup manusia yang berbeda-beda. Ada yang berhasil, tidak sedikit yang gagal dan masih banyak yang belum selesai, masih berlangsung sampai hari ini. Semoga Tuhan selalu memberi jalan yang terbaik bagi kita semua. Amin," tulisnya.
Dalam sejarah seni rupa, Angki Purbandono bukanlah sosok baru. Dia adalah seorang seniman media baru dan fotografi kontemporer terkemuka asal Indonesia yang terkenal dengan teknik scanography (fotografi tanpa kamera menggunakan pemindai/scanner).
Angki juga salah satu pendiri dan anggota aktif ruang MES 56, sebuah ruang seni rupa dan fotografi independen di Yogyakarta.
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan

