Sastrawan Ahmad Tohari hadir memeriahkan Pesta Literasi Indonesia 2026 akhir pekan lalu. Dia mengenang masa-masa mencekam sepanjang hidupnya.
Pria kelahiran Banyumas, Jawa Tengah, itu sukses melahirkan trilogi Ronggeng Dukuh Paruk. Kisah Srintil dalam novel menggambarkan salah satu masa terkelam dalam sejarah Indonesia.
Itu datang dari pengalaman Ahmad Tohari langsung. Pada tahun 1965, dia yang masih duduk di kelas 2 SMA pernah menyaksikan 3 orang di kampungnya dieksekusi mati.
Setraumatis itu pengalaman tersebut sampai terus menghantuinya selama belasan tahun. Hingga akhirnya dia menulis Ronggeng Dukuh Paruk.
"Yang saya lihat, gak mungkin saya ceritakan di sini, sangat jauh melanggar HAM. Mungkin Hitler gak melakukannya. Tapi penguasa waktu itu melakukannya di depan mata publik. Bukan sekali dua kali saja, publik menyaksikannya. Saya berharap saya menuliskan dalam karya sastra," ungkapnya saat berada di atas panggung Pesta Literasi Indonesia, Urban Forest Cipete, Jakarta, pada Minggu (27/9/2026).
Dalam kesempatan yang sama dia juga menceritakan tentang pengalamannya dituduh PKI (Partai Komunis Indonesia). Itu terjadi setelah perilisan Ronggeng Dukuh Paruk.
Meski sudah banyak menyensor bagian-bagian 'vulgar' dalam novel itu, tapi ada saja pihak yang gak suka. Ahmad Tohari pernah disambangi tentara ke rumahnya.
"Tulisan yang gak vulgar itu memancing tentara ke rumah. Mau dibawa ke Kopkamtib (Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban) di Jakarta. Saya sedang gak ada di rumah, yang di rumah ibu setengah mati ketakutan," terang Ahmad Tohari.
Ahmad Tohari diinterogasi dan ditanya berulang kali. Dan berulang kali pun, ia menegaskan bukan seorang PKI.
"Saya bukan PKI, saya bukan PKI. Ditanya berkali-kali, saya jawab juga bukan berkali-kali," lanjutnya.
Tentara yang menginterogasinya pun bertanya, "Kalau bukan PKI, siapa yang mau menjamin? Saya tulis nama orang dan nomor teleponnya, saya sodorkan. Orang ini akan menjamin saya bukan PKI. Saya sodorkan ternyata tidak mau menghubungi nomer telepon itu."
Di hadapan ratusan yang hadir saat Pesta Literasi Indonesia, Ahmad Tohari nge-spill namanya adalah Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.
"Yang menjamin saya, Abdurrahman Wahid. Rahasia ya.. tapi saya sudah ditahan selama 5 hari," tegasnya.
Ronggeng Dukuh Paruk, novel yang diterbitkan tahun 1982 berkisah tentang pergulatan penari ronggeng di dusun kecil, Dukuh Paruk pada masa pergolakan komunis. Karyanya ini dianggap ke kiri-kirian oleh pemerintah Orde Baru, sehingga dalam berbagai literatur Ahmad Tohari diinterogasi selama seminggu.
Setelah menyebutkan nama sahabatnya, ia terbebas dari intimidasi dan dipulangkan ke kampung halamannya. Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan judul The Dancer oleh Rene T.A. Lysloff.
Setelah kesuksesan buku triloginya, Ronggeng Dukuh Paruk pun difilmkan oleh sutradara Ifa Irfansyah dengan judul Sang Penari (2011).
(aay/tia)