Momen Mencekam Ahmad Tohari Pernah Dituduh PKI, Dibebaskan karena Gus Dur

Tia Agnes Astuti
|
detikPop
Ahmad Tohari di Pesta Literasi Indonesia 2026
Sastrawan Ahmad Tohari saat berbicara di atas panggung Pesta Literasi Indonesia 2026, Urban Forest Cipete, Jakarta Selatan, pada Minggu (27/9/2026). Foto: Dok.Anisa Hafifah/ Detikcom
Jakarta - Nama Ahmad Tohari dikenal sebagai sastrawan kelahiran Banyumas, Jawa Tengah, yang sukses melahirkan trilogi Ronggeng Dukuh Paruk. Dalam novelnya, kisah Srintil bawa latar terkelam yang pernah terjadi dalam sejarah Indonesia.

Pada 1965, Ahmad Tohari yang masih kelas 2 di bangku SMA pernah menyaksikan dengan kepala matanya sendiri 3 orang dari kampungnya dieksekusi mati. Momen itu menghantuinya, 17 tahun berikutnya ia menuliskan novel Ronggeng Dukuh Paruk.

"Yang saya lihat, gak mungkin saya ceritakan di sini, sangat jauh melanggar HAM. Mungkin Hitler gak melakukannya. Tapi penguasa waktu itu melakukannya di depan mata publik. Bukan sekali dua kali saja, publik menyaksikannya. Saya berharap saya menuliskan dalam karya sastra," ungkapnya saat berada di atas panggung Pesta Literasi Indonesia, Urban Forest Cipete, Jakarta, pada Minggu (27/9/2026).

Tapi momen lainnya yang masih membekas di ingatannya, ketika ia dituduh sebagai anggota Partai Komunis Indonesia (PKI). Selesai novel Ronggeng Dukuh Paruk yang ditulisnya gak terlalu vulgar, ternyata tetap buat tentara menyambangi rumahnya.

"Tulisan yang gak vulgar itu memancing tentara ke rumah. Mau dibawa ke Kopkamtib (Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban) di Jakarta. Saya sedang gak ada di rumah, yang di rumah ibu setengah mati ketakutan," terang Ahmad tOHARI.

Ahmad Tohari diinterogasi dan ditanya berulang kali. Dan berulang kali pun, ia menegaskan bukan seorang PKI.

"Saya bukan PKI, saya bukan PKI. Ditanya berkali-kali, saya jawab juga bukan berkali-kali," lanjutnya.

Tentara yang menginterogasinya pun bertanya, "Kalau bukan PKI, siapa yang mau menjamin? Saya tulis nama orang dan nomor teleponnya, saya sodorkan. Orang ini akan menjamin saya bukan PKI. Saya sodorkan ternyata tidak mau menghubungi nomer telepon itu."

Di hadapan ratusan yang hadir saat Pesta Literasi Indonesia, Ahmad Tohari nge-spill namanya adalah Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.

"Yang menjamin saya, Abdurrahman Wahid. Rahasia ya.. tapi saya sudah ditahan selama 5 hari," tegasnya.

Ronggeng Dukuh Paruk, novel yang diterbitkan tahun 1982 berkisah tentang pergulatan penari ronggeng di dusun kecil, Dukuh Paruk pada masa pergolakan komunis. Karyanya ini dianggap ke kiri-kirian oleh pemerintah Orde Baru, sehingga dalam berbagai literatur Ahmad Tohari diinterogasi selama seminggu.

Setelah menyebutkan nama sahabatnya, ia terbebas dari intimidasi dan dipulangkan ke kampung halamannya. Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan judul The Dancer oleh Rene T.A. Lysloff.

Setelah kesuksesan buku triloginya, Ronggeng Dukuh Paruk pun difilmkan oleh sutradara Ifa Irfansyah dengan judul Sang Penari (2011).

(tia/pus)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan


TAGS


BERITA TERKAIT

Selengkapnya


BERITA DETIKCOM LAINNYA


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

TRENDING NOW

SHOW MORE

PHOTO

VIDEO