Eksklusif! Ahmad Tohari Soal Karya Baru: Menulis Itu Tugas Hidup

Tia Agnes Astuti
|
detikPop
Ahmad Tohari di Pesta Literasi Indonesia 2026
Foto: Dok.Anisa Hafifah/ Detikcom
Jakarta - Ahmad Tohari tampil sepanggung dengan Sherina, Ratih Kumala hingga Hasbunallah Harris di Pesta Literasi Indonesia, Urban Forest Cipete, Jakarta. Untuk pertama kalinya, ia cerita pengalaman traumatik saat melihat eksekusi tiga orang saat peristiwa 30 September 1965 silam di hadapan publik.

Setelah menulis 14 buku sepanjang kariernya di awal dekade 1980-an, pria yang berusia 78 tahun itu ngaku masih tetap menulis di usianya senja.

"Saya sangat ingin menerbitkan karya baru, tetapi tergantung kondisi terakhir. Karena umur saya sudah lanjut, kadang-kadang sering lupa, itu yang menjadi hambatan. Soal keinginan menulis novel baru, ya tetap ingin, tapi tunggu saja," katanya saat diwawancarai redaksi detikcom, Minggu (27/9/2026).

Sembari berkelakar, Ahmad Tohari ngaku tema dan contoh judulnya sudah ada dalam benaknya.

"Sudah ada, tapi ya (nanti)," ungkapnya sembari tertawa.

Sepanjang karier kepenulisannya, Ahmad Tohari selalu menulis masyarakat miskin dan termarjinalkan. Ia gak akan luput dari tema-tema tersebut bahkan setelah belasan karya dilahirkannya.

"Saya selalu menulis tentang masyarakat yang miskin. Karena persoalan mereka itu selalu persoalan-persoalan dasar tentang sandang, pangan, dan papan. Dan ini yang menjadi objek apa perhatian saya itu di situ," ungkap Ahmad Tohari.

Baginya, menulis adalah sebuah tugas hidup dan tetap bersemangat bersemangat. "Menulis itu tugas hidup saya. Selama saya masih punya kekuatan, masih punya kejernihan jiwa, saya ingin tetap menulis. Sekarang saya masih memimpin sebuah majalah daerah, jadi saya masih menulis," tukasnya.

Nama Ahmad Tohari dikenal sebagai novelis trilogi Ronggeng Dukuh Paruk yang sukses diangkat ke film Sang Penari. Ia juga sukses melahirkan buku Kubah, Bekisar Merah, Orang-orang Proyek, kumpulan cerpen Senyum Karyamin.

Sejak 1970an, karya-karya Ahmad Tohari sudah dipublikasikan. Novel Jantera Bianglala dinyatakan sebagai fiksi terbaik (1986). Melalui novelnya yang berjudul Bekisar Merah, Ahmad Tohari meraih Hadiah Sastra ASEAN tahun 1995.



(tia/tia)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan


TAGS


BERITA TERKAIT

Selengkapnya


BERITA DETIKCOM LAINNYA


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

TRENDING NOW

SHOW MORE

PHOTO

VIDEO