'Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati' Punya Daya Tarik bagi Warga Jepang
Karya Brian Khrisna bukan ceritain soal kuliner mie ayam yang jadi khas orang Indonesia, namun lebih dalam dari itu ia menampilkan isu mental health. Di Jakarta, hiduplah seorang pria berusia 37 tahun yang alami depresi akut sampai ingin mengakhiri hidupnya.
Penerjemah Nishino Keiko cerita latar Jakarta dan kota-kota besar di Jepang punya kemiripan budaya dan tekanan bagi warganya.
"Ada yang membaca novelnya karena tahu mie ayam dan suka dengan Indonesia, saya harap yang belum tahu Indonesia sama sekali biar mereka merasa dekat. Indonesia dan Jepang ternyata sama yah," ungkapnya saat diwawancarai redaksi detikcom di Taksu Book Cafe, kawasan Cilandak Barat, Jakarta Selatan, pada Sabtu (24/1/2026).
Baca juga: Secercah Harapan dari Makan Mie Ayam |
Hidup di kota besar seperti Jakarta dan Tokyo, lanjut Keiko, punya stigma negatif atau stereotip dengan pengidap depresi.
"Di Jepang, sangat hati-hati kalau bicara dengan pengidap depresi. Banyak orang yang menjaga jarak," ungkapnya.
Brian Khrisna juga menimpali di Indonesia, jika ada orang yang alami depresi banyak yang dapat stereotip dianggap kurang ibadah dan disuruh lebih banyak kepada-Nya.
"Warga Indonesia se-stres itu dianggapnya kurang ibadah, salatnya disuruh ditingkatkan, atau kurang bersyukur," ucap Brian.
Dengan menulis novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati, Brian mencoba menuliskannya dengan ceritanya yang gak rumit dan ringan.
"Alhamdulillah, karyanya diterima bagus di sini dan juga di Jepang," pungkasnya.
(tia/pus)











































