'Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati' Menyapa Jepang

Tia Agnes Astuti
|
detikPop
Brian Khrisna penulis buku Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati.
Brian Khrisna dan Keiko bercerita tentang novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati. Foto: Tia Agnes/detikcom
Jakarta - Sastra Indonesia kembali menyapa pembaca Jepang. Novel 'Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati' karya Brian Khrisna yang diterbitkan oleh PT Gramedia Widiasarana Indonesia (Grasindo) resmi diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang dan terbit sejak 20 Januari 2026.

Novel yang fokus pada isu mental health bukan sekadar karya biasa. Bukunya ceritain tentang seorang pria berusia 37 tahun bernama Ale yang mengalami depresi akut. Ale pun melalui perjalanan panjang dan terpikir ingin mengakhiri hidupnya namun ingin makan mie ayam terlebih dahulu.

'Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati' awalnya resmi terbit di Indonesia pada Januari tahun lalu, dan kini sudah mengalami cetak ulang yang ke-94. Bukunya pun nomor satu terpopuler dan paling banyak dibeli Gen Z di Gramedia Jalma, Blok M, Jakarta Selatan.

Penulis Brian Khrisna gak sangka ternyata bukunya bisa diterima dengan baik di kalangan generasi muda.

"Jujur, aku terkejut sekali ya. Belum pernah sampai di titik ini (diterjemahkan ke bahasa Jepang). Apalagi semua orang membaca buku ini dan semakin besar lagi jangkauannya, akan semakin besar pula pro dan kontranya," ungkapnya saat diwawancarai redaksi detikcom di Taksu Book Cafe, kawasan Cilandak Barat, Jakarta Selatan, pada Sabtu (24/1/2026).

Ia sadar ada banyak pembaca yang gak pernah mengalami depresi dan merasa kok karakternya lemah sekali. "Tapi yang saya rasakan ternyata bisa kok relate dengan ini, aku pernah yang Ale alamin karena negara kita merasa kesedihan itu sesuatu yang lemah. Oh ternyata boleh loh sedih dan merasakan hal yang sama," ucapnya.

Pertemuannya dengan penerjemah Nishino Keiko sudah bermula dari novel Kudasai yang dahulu diterjemahkannya. Tapi pada Januari 2025, saat Keiko mulai membaca Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati, ia langsung tertarik buat menerjemahkannya.

"Saya sudah mulai bikin sinopsis untuk dikirimkan ke penerbit, tapi memang tantangan paling besar adalah dapat penerbit dari luar negeri khususnya dari Asia, susah sekali. Ternyata penerbit ini punya seri dari Asia ada editor kenalan, dia suka dan langsung diterima Agustus 2025. 20 Januari 2026 sudah terbit di Jepang," katanya semringah.

Brian Khrisna penulis buku Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati.Brian Khrisna dan Keiko. Foto: Tia Agnes/detikcom

Keiko yang fasih bahasa Indonesia dan sudah menerjemahkan buku kumcer Filosofi Kopi sampai seri Supernova itu juga ngaku pembaca Jepang mengapresiasi novel Brian Khrisna.

"(Editor) suka sekali, langsung dibaca semua, diterima dan sangat beruntung ya," tegasnya.

Bahkan Keiko cuma mengganti satu istilah bahasa Arab 'Iqro' dengan tambahan footnote 'Iqro untuk anak kecil'. Ada juga satu kata lelucon bahasa Indonesia yang digantinya dengan bahasa Jepang 'sonna banana' artinya 'gak mungkin atau mana mungkin' yang jadi kata plesetan.

Menurut Keiko, warga Jepang yang mengalami depresi dan konsul ke psikiater terbilang banyak. Ada banyak hal yang buat mereka depresi mulai dari tekanan di tempat kerja sampai budaya lingkungan sekitar. "Banyak sekali pasien depresi di Jepang termasuk adik saya, tapi kita gak boleh judgement. Saya pikir kalau saya bikin (terjemahkan) buku ini bisa kasih ke adik saja. 'Baca saja' kata saya, dan buku ini bisa membantu lebih banyak pasiden mental health," ucap Keiko.

Sinopsis 'Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati'

Ale, seorang pria berbadan bongsor yang ditolak oleh masyarakat sosial. Tiga puluh tujuh tahun usianya, dia hidup tanpa berteman dan tanpa makna. Ale didiagnosa oleh psikiater mengidap depresi. Di tempat kerjanya, dia tak memiliki rekan dekat, bahkan cenderung dijauhi.

Ia punya masalah dengan bau badan karena tubuhnya yang besar lebih sering menghasilkan keringat. Bukannya ia tidak peduli, ia peduli. Ale telah berusaha mengatasi masalah-masalah yang timbul dari dirinya agar ia diterima di lingkar pertemanan. Namun usahanya tidak pernah berhasil. Bahkan keluarganya pun tidak mendukungnya saat Ale membutuhkan sandaran dan dukungan.

Ale memutuskan untuk mati. Ia mempersiapkan kematiannya dengan baik. Agar ketika mati pun, Ale tidak banyak merepotkan orang. Ia meng-set waktu 24 jam sebelum mati. Ia sudah berencana menelan obat yang dia punya sekaligus satu telanan.

Namun saat mendekati detik terakhir, Ale melihat label pada botol obatnya, anjuran untuk makan dulu sebelum minum obat. Seketika Ale berpikir untuk makan dulu sebelum mengakhiri hidupnya. Setidaknya, itu akan menjadi satu-satunya keputusan yang bisa dia ambil atas kehendaknya sendiri.

Namun, rupanya mie ayam yang hendak Ale beli, tidak jualan. Tutup. Rencana Ale untuk mati harus tertunda. Namun ia tetap bertekad untuk mati, setelah makan seporsi mie ayam.


(tia/dar)

TAGS


BERITA TERKAIT

Selengkapnya


BERITA DETIKCOM LAINNYA


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

TRENDING NOW

SHOW MORE

PHOTO

VIDEO