Provinsi Kalimantan Utara menyimpan potensi besar di sektor pariwisata minat khusus yang mencakup keanekaragaman alam, budaya, hingga situs sejarah. Salah satu kawasan utamanya ada di Kecamatan Bahau Ulu, Kabupaten Malinau, yang berbatasan langsung dengan Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM).
Kepala Dinas Pariwisata Kaltara sekaligus Sekretaris Lembaga Adat Dayak Kenyah Kaltara (LADK-KU), Njau Anau, menjelaskan bahwa wisata minat khusus di Malinau memiliki keistimewaan. Segmen wisata ini menyasar daerah terpencil yang membutuhkan waktu tempuh panjang, ketahanan fisik, serta biaya yang tak sedkit, namun menyajikan keindahan alam dan memicu adrenalin bagi wisatawan mancanegara, petualang, maupun peneliti.
"Wisata minat khusus itu ada di daerah terpencil yang jauh. Menjangkaunya perlu waktu dan biaya tinggi, tetapi menawarkan kekhasan yang orisinal. Tidak semua orang bisa datang, tetapi bagi turis asing atau penggiat petualangan, ini sangat menantang dan bernilai ekonomi tinggi," ujar Njau Anau pada detikKalimantan, belum lama ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di antara wilayah pedalaman Kaltara, Kecamatan Bahau Ulu, Kabupaten Malinau menjadi salah satu etalase utama yang merangkum seluruh potensi wisata minat khusus. Kawasan yang berbatasan langsung dengan Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM) ini menyimpan peninggalan situs megalitikum berupa kuburan batu kuno berusia 400 hingga 500 tahun peninggalan leluhur suku Dayak.
"Selain ziarah makam purbakala, Bahau Ulu menawarkan fenomena alam langka berupa padang sabana alang-alang yang menjadi habitat alami populasi banteng liar Kalimantan, potensi goa-goa alam perawan (unexplored caves), hingga jeram sungai ekstrem untuk olahraga arung jeram," kata Njau.
Meski menawarkan pengalaman yang luar biasa, Njau mengaku salah satu yang menjadi kendala ada pada infrastruktur dan keterisolasian wilayah. Njau mengakui bahwa pengembangan wisata pedalaman tidak bisa dibebankan pada satu instansi saja.
"Pengembangan pariwisata pedalaman ini tidak bisa berjalan sendiri, melainkan harus dikeroyok oleh semua OPD melalui percepatan akses jalan perbatasan dan pembukaan penerbangan perintis," ungkap mantan asisten peneliti antropolog Bernard Sellato tersebut.
Meski begitu, Njau menjamin jika pengunjung datang ke Malinau, akan puas disuguhkan daya tarik wisata minat khusus di Kaltara. Salah satunya oleh kearifan ekologi masyarakat lokal melalui keberadaan Tanah Ulen hutan larangan yang dilindungi oleh hukum adat.
Wisatawan juga disuguhkan aktivitas napak tilas rute migrasi kuno dari Bahau menuju Pa' Upan di Krayan Selatan, serta edukasi jungle survival yang mengangkat sejarah ketangguhan fisik dan pengetahuan obat-obatan alami masyarakat Dayak Kenyah, Nyibun, dan Lepo Ke.
"Guna mendongkrak ekonomi warga secara langsung, Dispar Kaltara mendorong skema akomodasi homestay berkonsep tinggal bersama warga di rumah-rumah penduduk. Masyarakat lokal diwanti-wanti untuk memberikan pelayanan standar dan melarang keras praktik mematok tarif tak wajar," ungkapnya.
Di lain sisi, dukungan pembukaan akses jalan perbatasan serta optimalisasi penerbangan perintis menuju kawasan seperti Krayan dan Apau Kayan dinilai menjadi kunci vital untuk membuka keterisolasian destinasi tersebut.
"Harapan kita, infrastruktur perbatasan dan penerbangan perintis terus bergerak. Generasi muda Dayak juga harus mengambil peran utama untuk mengenali, menuliskan sejarah, dan mengelola wisata di tanah kelahirannya sendiri," harap Njau.
