Banteng Kalimantan, Satwa Langka Penghuni Savana Long Tua Kaltara

Kalimantan Utara

Banteng Kalimantan, Satwa Langka Penghuni Savana Long Tua Kaltara

Oktavian Balang - detikKalimantan
Kamis, 20 Agu 2026 20:01 WIB
Banteng Kalimantan (Bos javanicus lowi). (Dok Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM))
Foto: Banteng Kalimantan (Bos javanicus lowi). (Dok Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM))
Malinau -

Bicara soal konservasi Banteng Jawa mungkin sudah tak asing lagi. Namun sebetulnya tak hanya Pulau Jawa yang punya banteng, Kalimantan Utara (Kaltara) ternyata memiliki populasi Banteng Kalimantan (Bos javanicus lowi).

Banteng Kalimantan menjadi penghuni ekosistem Padang Savana Long Tua di Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM), Kabupaten Malinau. Satwa langka dan dilindungi ini menjadikan pedalaman rimba Borneo sebagai area merumput.

Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) Ahli Muda Balai TNKM, Jefry Frihardian Gumilar menjelaskan bahwa habitat Banteng Kalimantan di TNKM terbilang sangat istimewa. Pasalnya, padang savana tersebut berada di tengah-tengah kepungan hutan hujan primer Dipterokarpa atau dikenal famili tumbuhan berupa pohon besar yang menjadi penopang utama hutan hujan tropis di Asia Tenggara.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Taman Nasional Kayan Mentarang sebagian besar didominasi hutan hujan primer berpohon besar. Keunikannya, di tengah hutan tropis itu tiba-tiba ada padang savana 'nyempil' yang menjadi tempat merumput Banteng Kalimantan," ujar Jefry saat ditemui di Resort Sungai Bahau, Rabu (19/8).

Jefry menuturkan, perilaku Banteng Kalimantan di TNKM sangat berbeda dengan banteng yang ada di taman nasional di Pulau Jawa seperti Baluran atau Ujung Kulon. Banteng di Kaltara bersifat amat liar, sensitif, dan memiliki indra penciuman yang sangat tajam.

"Kawasan jelajah mereka dikelilingi hutan lebat. Kalau angin berembus membawa bau manusia dari jarak puluhan meter, mereka punya refleks seperti 'alarm biologis' dan langsung kabur masuk ke dalam hutan. Hal ini membuat perjumpaan langsung sangat sulit," ucapnya.

Secara status konservasi, Banteng Kalimantan tergolong satwa prioritas yang terancam punah (Endangered) berdasarkan daftar IUCN serta dilindungi penuh oleh pemerintah Indonesia. Di kawasan Pulau Kalimantan sendiri, TNKM menjadi satu-satunya taman nasional yang berfokus penuh pada upaya konservasi spesies endemik ini.

"Mengenai data populasi riil, kami mengakui pemantauan angka pastinya menghadapi tantangan besar," ungkap Jefri.

Ia merinci, pada pemantauan intensif tahun 2019, terdapat sekitar 18 individu banteng dari berbagai kelompok yang terekam kamera pemantau (camera trap). Namun, pada catatan tahun 2025, hanya tiga individu yang berhasil terdeteksi.

"Angka tersebut bukan berarti populasi riilnya mendadak turun drastis, melainkan karena keterbatasan unit camera trap dan performa alat di lapangan saat itu. Pada 2025, dari empat kamera yang kita pasang di Long Tua, hanya dua yang berhasil merekam selama dua bulan sebelum akhirnya rusak," tambah Jefry.

Selain karakter liarnya, Banteng Kalimantan memiliki sifat pakan yang oportunis namun cukup pemilih. Satwa ruminansia ini tak hanya mengonsumsi rumput, tetapi juga pucuk bambu, buah semak belukar, hingga ranting pohon.

"Kendati demikian, untuk kebutuhan merumput di savana, banteng hanya menyukai pucuk rumput muda yang segar. Jika kondisi vegetasi di padang savana menguning atau tua, banteng akan memperluas jelajah harian (home range) mereka masuk jauh ke dalam hutan primer untuk mencari sumber pakan lain," terangnya.

Oleh karena itu, Balai TNKM mengandalkan metode camera trap serta sistem SMART Patrol berbasis Resort Based Management (RBM) untuk memantau keberadaan dan dinamika populasi mamalia besar tersebut.

"Langkah ini dilakukan sekaligus untuk melindungi satwa pendukung lainnya seperti Rusa Sambar (Cervus unicolor) agar ekosistem unik di pedalaman Kaltara ini tetap lestari," pungkasnya.



(aau/aau)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads