Ada gua tersembunyi yang menjadi saksi bisu kehidupan manusia selama puluhan ribu tahun. Lokasinya di Berau, tepat di karst Merabu.
Gua Bloyot atau Gua Beloyot namanya. Gua itu menyimpan puluhan lukisan cadas berupa cap tangan, gambar manusia, dan bentuk hewan. Gua ini merupakan salah satu situs prasejarah terpenting di Indonesia.
Gua Bloyot juga merupakan bagian dari bentang alam Karst Sangkulirang-Mangkalihat yang sedang dipersiapkan menuju pengakuan sebagai UNESCO Global Geopark. Bagi detikers yang ingin mengunjungi Gua Bloyot, perjalanan memang tidak mudah. Tetapi lelah dan sulitnya tantangan di perjalanan akan terbayarkan ketika melihat langsung lukisan-lukisan gua purba yang masih bertahan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lokasi Gua Bloyot
Gua Bloyot berada di kawasan Karst Merabu, tepatnya di Kampung Merabu, Kecamatan Kelay, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Kawasan ini termasuk salah satu bentang karst terbesar di Kalimantan yang membentang hingga wilayah Kutai Timur. Selain Gua Bloyot, di sini juga terdapat sejumlah objek wisata alam lain seperti danau karst, jalur trekking, serta tebing batu kapur yang menjulang tinggi.
Perjalanan menuju Gua Bloyot bisa dimulai dari Kampung Merabu. Dari permukiman warga, pengunjung harus melakukan trekking sekitar 4-5 kilometer menuju lokasi gua. Waktu tempuh sekitar tiga jam berjalan kaki, tergantung kondisi cuaca.
Sepanjang perjalanan, detikers akan melewati hutan hujan tropis Kalimantan yang masih sangat alami. Jalurnya masih jalan setapak dan di sepanjang jalan ada aliran sungai kecil. Ketika musim hujan, sebagian jalur akan tergenang air sehingga detikers disarankan menggunakan sepatu trekking yang nyaman dan tidak licin.
Jika baru pertama kali berkunjung, detikers bisa menggunakan jasa tour guide yang tersedia di Kampung Merabu, sebelum masuk ke kawasan Gua Bloyot. Selain lebih aman, pemandu juga akan menjelaskan sejarah gua, dan arti lukisan cadas.
Sejarah Gua Bloyot
Gua Bloyot punya dinding gua yang dipenuhi lukisan berwarna merah kecokelatan yang dibuat oleh manusia purba puluhan ribu tahun silam. Motif yang ditemukan di antaranya ada cap tangan negatif (hand stencil), figur manusia, dan pola-pola nonfiguratif. Tradisi cap tangan ini diduga berkaitan dengan jejak budaya masyarakat Dayak Basap yang memang telah lama menghuni kawasan tersebut.
Setidaknya teridentifikasi sekitar 26 cap tangan negatif yang tersebar di beberapa bagian dinding gua. Cap tangan tersebut dibuat dengan cara menempelkan telapak tangan pada permukaan batu, kemudian menyemburkan pigmen di sekelilingnya sehingga terbentuklah cap-cap tangan tersebut.
Pigmen yang digunakan biasanya mengandung mineral kalsit, gipsum, whewellite, dan hematit. Seluruh komposisi itu bisa ditemukan secara alami pada batuan karst di kawasan ini.
Keistimewaan Gua Bloyot juga tidak dapat dipisahkan dari bentang alam Karst Sangkulirang-Mangkalihat yang jika dilihat dari udara memperlihatkan deretan bukit-bukit karst. Sampai saat ini, tercatat sedikitnya ada 54 gua di kawasan Sangkulirang-Mangkalihat dengan sekitar 1.754 data seni cadas.
Lukisan telapak tangan/ Foto: Oktavian Balang/detikKalimantan |
Harga Tiket dan Daya Tarik
Berdasarkan informasi Jadesta Kementerian Pariwisata, harga paket dimulai sekitar Rp 250.000. Harga ini sudah termasuk pendampingan dengan pemandu.
Sesampainya di lokasi, pengunjung akan memasuki gua sepanjang sekitar 91,4 meter. Suasana di dalam gua terasa sejuk dengan pencahayaan alami yang masuk dari mulut gua. Di dinding batu kapur inilah puluhan lukisan prasejarah bisa kita nikmati.
Selain cerita sejarahnya, pemandangan tebing-tebing karst yang menjulang dan vegetasi hutan tropis Kalimantan yang masih lebat, melansir Antara, dalam beberapa tahun terakhir Pemerintah Kabupaten Berau bersama masyarakat Kampung Merabu juga terus mengembangkan kawasan ini sebagai destinasi wisata berbasis konservasi. Harapannya agar kunjungan wisata bisa berjalan seiring dengan pelestarian warisan budaya dan lingkungan.
Supaya perjalanan lebih nyaman, sebaiknya detikers datang saat musim kemarau saat jalur trekking relatif lebih aman. Jangan lupa pula untuk gunakan sepatu anti-slip dan membawa cukup air minum.
Nah, yang paling penting jangan menyentuh lukisan purba di dinding gua. Sentuhan tangan, kelembapan, maupun gesekan dapat mempercepat kerusakan pigmen yang telah bertahan selama ribuan tahun. Karena itulah seluruh pengunjung diharapkan mematuhi arahan pemandu dan menjaga kelestarian situs agar tetap lestari.
Simak Video "Menikmati Malam yang Hidup di Kawasan Tepian, Kalimantan Timur"
[Gambas:Video 20detik] (sun/des)

