Aliran Sungai Arut yang membelah keheningan rimba Kalimantan ternyata menyimpan banyak sejarah. Di tepian sungai ini, daerah Pangkalan Bun ditemukan oleh para leluhur.
Penggiat Sejarah dan Budaya Kotawaringin Barat, Kaspul Indah mengatakan, rupanya asal muasal toponimi Pangkalan Bun didapat dari nama penduduk lokal Suku Dayak. Bapak Bu'un, namanya.
"Nama Pangkalan Bun sebenarnya merujuk pada sebuah tempat bersandar atau pangkalan sampan milik seorang tokoh setempat yang bernama Pak Bu'un," ujar Kaspul, Selasa (23/6/2026).
Pada masanya, pangkalan sederhana tersebut menjadi titik penting bagi perdagangan dan persinggahan masyarakat pedalaman Kalimantan. Perlahan tapi pasti, kawasan yang awalnya sepi tersebut mulai bertransformasi menjadi pemukiman yang sangat ramai.
Melihat potensi wilayah yang sangat strategis, Sultan Kesultanan Kutaringin kemudian menaruh perhatian besar pada bandar perdagangan ini. Secara resmi, kota ini didirikan pada tanggal 25 Juli 1806 melalui sebuah titah sakral dari pihak kerajaan.
Langkah besar pendirian pemukiman baru tersebut ditandai dengan pemancangan sebuah tiang kayu yang penuh dengan makna filosofis.
"Cikal bakal kota ini ditegaskan secara adat melalui pendirian tiang Sangga Buana yang bertempat tepat di atas Bukit Indra Kencana," kata Kaspul.
Mulanya Dinamai Soekaboemi Pongkalan Bu'un
Pada awal peresmiannya, Sultan Pangeran Muasjidinsyah memberikan nama yang sangat indah bagi wilayah baru ini. Wilayah pusat ekonomi tersebut dinamai Soekaboemi Pongkalan Bu'un sebagai doa kemakmuran dan bentuk penghormatan kepada penduduk lokal.
Seiring berjalannya waktu, penyebutan nama yang cukup panjang tersebut mengalami proses penyederhanaan oleh masyarakat. Lidah masyarakat setempat lambat laun lebih akrab dan praktis menyebut kawasan ini dengan nama Pangkalan Bun.
Perubahan besar kembali terjadi pada tahun 1814 ketika pusat pemerintahan kerajaan resmi dipindahkan ke kota ini. Kesultanan Kutaringin yang semula berpusat di Kotawaringin Lama akhirnya memilih Pangkalan Bun sebagai jantung kekuasaan baru mereka.
Pemindahan pusat kekuasaan tersebut kemudian melahirkan sebuah mahakarya arsitektur yang menjadi ikon kebanggaan daerah hingga saat ini.
"Istana Kuning didirikan di atas bukit sebagai simbol kemuliaan, sekaligus menjadi pusat komando pemerintahan kesultanan kala itu," ujarnya.
Setelah Indonesia meraih kemerdekaan, status wilayah kesultanan yang berbentuk swapraja ini mulai berintegrasi dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pangkalan Bun kemudian bertransformasi dan ditetapkan menjadi ibu kota resmi dari Kabupaten Kotawaringin Barat.
Kini, wilayah yang dahulu merupakan pangkalan sampan kayu tradisional telah menjelma menjadi kota modern yang maju dan dinamis.
"Warisan sejarah ini bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan fondasi utama bagi karakter masyarakat Pangkalan Bun di masa depan," pungkas Kaspul.
Simak Video "Viral Remaja Putri Duel gegara Cemburu Buta"
(aau/aau)