Hiruk pikuk aktivitas perkotaan seringkali membuat penat. Namun, warga maupun wisatawan di Kota Tarakan, Kalimantan Utara tak perlu pergi jauh untuk mencari ketenangan. Kawasan Konservasi Mangrove dan Bekantan (KKMB) hadir sebagai oasis hijau di tengah kota yang menawarkan udara segar sekaligus wisata edukasi satwa endemik.
Terletak strategis di jantung kota yakni Jalan Gajah Mada, Kelurahan Karang Rejo, Tarakan Barat, hutan mangrove ini menjadi destinasi favorit saat akhir pekan. Adriel, salah satu pengunjung KKMB, mengaku kawasan ini menjadi tujuan utamanya saat membawa kerabat dari luar kota.
"Sekarang udara segar sudah jarang kita temui di Kota Tarakan. Nah, kalau ingin menikmati udara segar di tengah kota, cukup datang ke tempat ini saja," ujar Adriel saat ditemui di KKMB, Jumat (24/1/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Bekantan, Si Hidung Besar dari Kalimantan |
Bagi Adriel, daya tarik utama KKMB bukan hanya pada suasananya yang asri, tetapi juga keberadaan Bekantan yang menjadi maskot Kota Tarakan.
"Kalau pendatang atau tamu dari luar kota ingin melihat ikon maskotnya Tarakan, ya bisa datang ke sini. Petugasnya juga ramah-ramah, sabar, dan edukatif dalam memberikan informasi," tambahnya.
Kawasan Konservasi Mangrove dan Bekantan (KKMB)/ Foto: Oktavian Balang/detik.com |
Rumah 41 Bekantan
Koordinator KKMB, Sujatmiko atau yang akrab disapa Miko, menjelaskan bahwa kawasan konservasi ini memang menjadi habitat asli bagi puluhan primata hidung panjang tersebut. "Sampai sekarang sudah ada 41 ekor bekantan. Itu terdiri dari 3 kelompok. Kelompok utama ada 26 ekor, kelompok kedua 8 ekor, dan kelompok ketiga 7 ekor," jelas Miko.
Populasi bekantan di kawasan ini terus menunjukkan tren positif. Menurut Miko, tahun ini terdapat peningkatan populasi dengan lahirnya enam bayi bekantan baru. Uniknya, kehidupan sosial bekantan di sini berjalan sangat alami dengan sistem hierarki yang ketat.
"Setiap kelompok punya pemimpin sendiri. Bekantan remaja jantan yang mulai beranjak dewasa dan memiliki hasrat, biasanya akan diusir oleh pemimpin kelompok (pejantan alpha). Akhirnya terbentuklah kelompok baru yang isinya pejantan semua," terang Miko menceritakan dinamika satwa tersebut.
Selain bekantan, kawasan ini juga dihuni oleh monyet ekor panjang, tupai, berbagai jenis burung, hingga biota laut seperti kepiting warna-warni dan kepiting bakau.
Kawasan KKMB terbagi menjadi dua area, yakni area depan seluas 9 hektare dan area perluasan seluas 13 hektare. Vegetasi di kawasan ini didominasi oleh pohon bakau, serta jenis lain seperti nipah, api-api, perepat, dan pidada (mutut). Miko menegaskan, fungsi hutan mangrove ini sangat vital bagi ekologi Tarakan.
"Manfaatnya banyak, mencegah abrasi dari pasang surut air laut, serta menjadi habitat makhluk hidup. Secara pendidikan, ini mempermudah pelajar atau peneliti melakukan observasi karena fasilitas jembatannya sudah lengkap," paparnya.
Perawatannya pun dibiarkan tumbuh secara alami (natural growth). Petugas lapangan lebih berfokus pada pengawasan untuk mencegah perburuan liar maupun penebangan pohon secara ilegal.
Kawasan Konservasi Mangrove dan Bekantan (KKMB)/ Foto: Oktavian Balang/detik.com |
Waktu Terbaik untuk Berkunjung
Bagi Anda yang ingin berkunjung, waktu terbaik adalah saat jam makan bekantan. Pengelola memberikan makanan tambahan berupa buah-buahan sekali sehari, meski makanan utama satwa ini tetaplah daun-daunan alami yang tersedia di hutan.
"Pemberian pakan dari kita sifatnya hanya extra fooding (makanan tambahan), biasanya enam tandan pisang sehari. Makanan utamanya tetap daun-daunan di sini," kata Miko.
Harga tiket masuk ke kawasan ini sangat terjangkau. Untuk anak-anak (SD ke bawah) dikenakan tarif Rp 3.000, dewasa lokal Rp 5.000, dan wisatawan mancanegara Rp 50.000.
"Di sini sering kedatangan tamu mancanegara. Biasanya ramai saat hari libur atau tanggal merah," pungkasnya.
Simak Video "Menikmati Hangatnya Kebersamaan di Desa Seputuk, Kalimantan Utara"
[Gambas:Video 20detik]
(sun/bai)


