Sebuah pemandian pertama bangsa Romawi kuno terdapat di Pompeii, Campania, Italia. Namun tempat bersejarah itu kini ditemukan airnya kotor dan terkontaminasi, bahkan hanya diganti sekali sehari.
Padahal, bangsa Romawi kuno dikenal memiliki sistem penyediaan air yang canggih dan fasilitas higienis, termasuk adanya pemandian umum dan toilet. Dikutip detikEdu dari Live Science, hal ini terungkap dari penelitian geoarkeolog di Universitas Johannes Gutenberg Mainz di Jerman bernama Gul Surmelihindi dan kawan-kawannya.
Surmelihindi menganalisis senyawa kimia kalsium karbonat yang terawetkan dalam kerak di Pemandian Republik di Pompeii untuk menyelidiki komposisi pasokan air. Studi mereka diterbitkan pada 12 Januari lalu di jurnal PNAS dengan judul "Seeing Roman life through water: Exploring Pompeii's public baths via carbonate deposits".
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sangat mungkin bahwa pengalaman mandi di fasilitas pemandian kecil ini mungkin tidak higienis dan karenanya tidak terlalu menarik," kata Surmelihindi.
Pemandian umum merupakan bagian penting dari budaya Romawi, tulis para peneliti dalam studi tersebut. Seiring dengan perluasan Kekaisaran Romawi, budaya mandi juga berkembang.
Menurut Surmelihindi, pada puncak kejayaan Kekaisaran Romawi, bangsa Romawi membangun saluran air jarak jauh untuk keperluan mandi dan membersihkan diri setiap hari.
Namun, di pemandian paling awal yang dibangun di Pompeii, yang digunakan antara sekitar tahun 130 dan 30 SM selama Republik Romawi, situasinya berbeda. Sebelum kota tersebut membangun saluran air, fasilitas pemandian diisi dengan air dari sumur dan tangki melalui satu mesin pengangkat air yang dioperasikan oleh budak.
"Air tidak dapat diisi ulang lebih dari sekali sehari," kata SΓΌrmelihindi.
Kolam Pemandian Umum di Pompeii Foto: Dok. Cees Passchier via Johannes Gutenberg University |
"Dalam kondisi ini, saya memperkirakan air akan kurang bersih, terutama sebelum air pemandian diisi ulang lagi," lanjutnya.
Untuk menyelidiki komposisi air pemandian selama waktu tersebut, para peneliti mempelajari sampel kalsium karbonat, yakni suatu bentuk mineral kalsium. Kalsium karbonat dihasilkan ketika ion kalsium dalam air sadah bereaksi dengan ion karbonat, yang kemudian menyebabkan terbentuknya kerak kapur (endapan keras seperti kapur yang menumpuk di ketel, boiler, dan pipa).
Para peneliti menemukan karbonat di Pemandian Republik menunjukkan penurunan isotop karbon yang signifikan antara sumur yang memasok air dan kolam air panas tempat orang-orang mandi. Nilai isotop karbon terendah ditemukan di area tempat air mengalir. Artinya, penyebab utamanya kemungkinan adalah masuknya karbon organik dari aktivitas mikroba dan limbah manusia seperti keringat, sebum, urin, minyak mandi.
"Pemandian ini merupakan pengalaman yang tidak kita miliki saat ini," kata salah satu penulis studi, Cees Passchier, seorang geoarkeolog di Universitas Johannes Gutenberg Mainz, kepada Live Science.
"Orang-orang tidak menggunakan sabun, tetapi minyak zaitun untuk menggosok dan mengikis kotoran, dan sebagian minyak itu akan masuk ke dalam air," jelasnya.
Air di kolam Pemandian Republik menunjukkan kontaminasi tinggi oleh limbah manusia. Ini mengindikasikan bahwa air tersebut tidak diisi ulang secara teratur dan adanya kebersihan yang buruk bagi para pengunjung pemandian di Pompeii, menurut para peneliti dalam tulisannya.
Para peneliti juga menyelidiki kontaminasi logam berat di pemandian dengan menganalisis jejak unsur-unsur yang tertinggal di sana. Di Pemandian Republik, tim mengidentifikasi peningkatan kadar timbal, unsur beracun yang kemungkinan masuk melalui sistem pipa timbal di kompleks pemandian.
(aau/aau)

