Wisata ke Gua Liang Tapah, Surga Tersembunyi di Tapin yang Penuh Misteri

Wisata ke Gua Liang Tapah, Surga Tersembunyi di Tapin yang Penuh Misteri

Nadhifa Aurellia Wirawan - detikKalimantan
Minggu, 02 Nov 2025 13:00 WIB
Gua Liang Tapah.
Gua Liang Tapah. Foto: Dok. Geopark Meratus
Tapin -

Gua Liang Tapah merupakan salah satu surga tersembunyi di Kecamatan Candi Laras Utara, Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan. Gua ini menyimpan kisah mistis sekaligus panorama alam yang luar biasa.

Untuk mencapai gua ini, pengunjung dapat menempuh perjalanan darat sejauh kurang lebih 60 kilometer dari Rantau, ibu kota Kabupaten Tapin, atau sekitar 3 jam dari Kota Banjarmasin.

Jalan menuju lokasi kini relatif mulus, dan akses terakhir menuju pintu gua bisa dicapai dengan berjalan kaki sekitar 10-15 menit melewati jalan setapak yang dikelilingi pepohonan rindang.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Asal Usul Gua Liang Tapah

Nama "Liang Tapah" berasal dari bahasa Banjar, di mana liang berarti "gua" dan tapah berarti "terbuka." Nama ini menggambarkan bentuk gua yang terbuka di permukaan, seakan menyambut siapa pun yang datang. Meski begitu, masyarakat setempat punya versi lain yang melegenda.

Menurut kisah turun-temurun, dahulu kala di gua ini hidup ikan tapah raksasa yang dipercaya sebagai jelmaan jin penjaga alam. Ikan ini konon hanya muncul pada malam hari, dengan mata menyala seperti bara api. Penduduk sekitar percaya bahwa siapa pun yang melihatnya akan diberi pertanda, baik keberuntungan maupun peringatan.

Selain mitosnya, Gua Liang Tapah juga punya sejarah panjang dalam kehidupan masyarakat Banjar. Di masa lampau, gua ini kerap digunakan sebagai tempat persembunyian dan perlindungan saat terjadi konflik atau bencana.

Ada pula yang menyebut gua ini pernah menjadi tempat beribadah leluhur, di mana mereka mencari ketenangan dan berdoa kepada Sang Pencipta. Walau belum ada catatan sejarah tertulis, gua ini sudah menjadi bagian penting dari identitas budaya masyarakat Tapin.

Kemegahan dan Keindahan Alam di Dalam Gua

Begitu melangkah ke mulut Gua Liang Tapah, suasana teduh langsung terasa. Pepohonan besar menjulang tinggi di sekitar gua. Suara gemericik air dari sungai kecil yang mengalir di dekatnya menambah ketenangan yang membuat betah berlama-lama.

Gua ini memiliki panjang sekitar 200-220 meter dan terbentuk dari batuan karst yang mengalami erosi ribuan tahunoleh aliran air bawah tanah. Di dalamnya, pengunjung dapat melihat formasi stalaktit dan stalagmit yang menakjubkan, menetes perlahan dari langit-langit dan menjulang dari dasar gua membentuk pilar-pilar batu alami.

Bagi para pecinta geologi, Liang Tapah adalah tempat yang tepat. Dinding guanya memperlihatkan lapisan batu kapur dan mineral yang terbentuk selama ribuan tahun, ini menjadi bukti proses geologi yang terjadi. Keindahan ini pula yang menarik minat peneliti untuk mempelajari formasi batuan khas Kalimantan Selatan.

Aktivitas Wisata di Gua Liang Tapah

Gua Liang Tapah kini mulai dikenal sebagai destinasi wisata alam dan geoturisme. Banyak wisatawan datang untuk susur gua, menikmati keindahan formasi batuan dari dekat sambil mendengarkan suara tetesan air yang menenangkan. Jalur di dalam gua relatif aman dengan beberapa bagian yang cukup lebar untuk dilewati pengunjung tanpa alat bantu khusus.

Di beberapa titik, pengunjung juga bisa menemukan mata air alami yang jernih, yang dipercaya masyarakat sekitar sebagai air suci pembawa keberkahan. Tak jarang wisatawan berhenti sejenak untuk membasuh muka atau berfoto di spot-spot eksotis ini.

Selain menjelajah gua, pengunjung bisa piknik di sekitar area luar, menikmati suasana alam yang sejuk di bawah naungan pepohonan besar. Banyak juga yang datang untuk berfoto atau membuat konten karena panorama di mulut gua tampak begitu fotogenik, terutama saat cahaya pagi masuk dari sela pepohonan.

Untuk detikers yang suka berpetualang, gua ini cocok dijadikan lokasi trekking. Namun, tetap disarankan membawa pemandu lokal, terutama jika ingin menjelajahi bagian terdalam gua yang lebih lembap dan gelap.

Di sore hari, suasana di sekitar gua terasa makin syahdu. Sinar matahari yang menembus daun-daun menciptakan cahaya keemasan, sementara suara serangga dan burung dari hutan sekitar menjadi musik alami yang menenangkan. Tak sedikit pengunjung yang memilih duduk lama di sana untuk sekadar menikmati sunyi.

Jika detikers berencana menjelajahi Kalimantan Selatan, jangan sampai gua ini tidak masuk dalam itinerary detikers. Selamat berlibur!

Halaman 2 dari 2
(des/des)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads