Di bawah teduhnya tenda sederhana di Desa Kapitan, Kecamatan Kumai, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, sejumlah kuali besar terus mengepulkan uap. Pengaduk kayu berukuran panjang tak pernah berhenti bergerak, berpindah dari satu tangan ke tangan lainnya.
Aroma santan dan gula merah yang menguar memunculkan bayangan manisnya dodol jenang yang segera matang. Ini sekaligus menjadi penanda bahwa sebuah hajatan besar segera digelar.
Tak ada aba-aba khusus. Satu per satu warga berdatangan meluangkan waktu membawa tenaga mereka. Ada yang memecah kayu bakar, ada yang menjaga api tetap menyala, sementara yang lain bergantian mengaduk dodol jenang agar matang sempurna. Semua dilakukan dengan sukarela, tanpa pamrih.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di Desa Kapitan, membuat dodol jenang bukan sekadar memasak makanan tradisional. Kegiatan ini telah menjadi bagian dari tradisi gotong royong masyarakat setiap kali ada keluarga yang akan menggelar pesta pernikahan, khitanan, hingga menyambut kelahiran anak.
Sebelum proses memasak dimulai, keluarga yang memiliki hajatan biasanya menggelar musyawarah bersama kerabat dan warga sekitar. Dalam pertemuan itu dibahas jumlah bahan yang dibutuhkan, pembagian tugas, hingga jadwal memasak. Dari sinilah semangat gotong royong tumbuh, di mana setiap orang memiliki peran untuk menyukseskan acara keluarga.
Tokoh Desa Kapitan, Musawer, mengatakan tradisi membuat dodol jenang telah diwariskan secara turun-temurun dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat desa.
"Tradisi membuat dodol jenang ini bukan sekadar memasak makanan untuk hajatan. Yang paling penting adalah kebersamaan. Di sini semua warga ikut membantu, saling berbagi tenaga dan waktu tanpa mengharapkan imbalan. Nilai gotong royong seperti inilah yang ingin terus kami jaga agar tidak hilang ditelan zaman," ujar Musawer, Kamis (16/7/2026).
Pembuatan dodol jenang sendiri membutuhkan waktu berjam-jam. Beras ketan, santan, dan gula merah dimasak di atas tungku kayu hingga menghasilkan adonan yang kental. Selama proses berlangsung, adonan harus terus diaduk agar tidak gosong dan matang merata.
Karena itulah pekerjaan tersebut tidak mungkin dilakukan seorang diri. Dibutuhkan banyak tangan untuk bergantian mengaduk adonan yang semakin berat seiring proses pemasakan. Di sela-sela aktivitas itu, canda dan tawa warga terdengar bersahutan, membuat waktu berjam-jam terasa begitu singkat.
Tradisi itu juga menjadi ruang berkumpul lintas generasi. Anak-anak menyaksikan orang tua mereka bekerja sama, sementara para pemuda belajar bahwa kebersamaan merupakan warisan yang harus dijaga. Nilai gotong royong diwariskan bukan melalui ceramah, melainkan melalui tindakan nyata di depan kuali besar yang terus mengepul.
Namun, Musawer mengakui tradisi tersebut perlahan mulai tergerus perkembangan zaman. Kemudahan membeli dodol jenang yang sudah jadi membuat sebagian masyarakat memilih cara yang lebih praktis dibanding harus memasaknya bersama-sama.
"Kalau masih membuat dodol jenang bersama, berarti silaturahmi warga juga masih terjaga. Tradisi ini sudah diwariskan dari orang tua kami, sehingga sudah menjadi kewajiban bersama untuk mempertahankannya agar anak cucu nanti tetap mengenal budaya gotong royong," katanya.
Menurutnya, dodol jenang yang dihasilkan memang akan habis disantap para tamu. Namun nilai kebersamaan yang tercipta selama proses pembuatannya akan terus dikenang dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Bagi masyarakat Desa Kapitan, dodol jenang bukan hanya makanan tradisional yang disajikan saat pesta. Ia adalah simbol persaudaraan yang menyatukan kampung, menguatkan hubungan antarkeluarga, dan menjaga denyut budaya lokal agar tetap hidup di tengah arus modernisasi.
"Semoga tradisi ini tetap hidup. Selama masih ada warga yang mau berkumpul mengaduk dodol jenang bersama, selama itu pula semangat gotong royong dan persaudaraan di Desa Kapitan akan terus terjaga," tutup Musawer.
