Lembut dan Harumnya Babongko, Wadai Khas Banjar Kalimantan Selatan

Lembut dan Harumnya Babongko, Wadai Khas Banjar Kalimantan Selatan

Anindyadevi Aurellia - detikKalimantan
Minggu, 19 Apr 2026 11:17 WIB
Babongko. (Tangkapan layar buku Aneka Jajanan khas Banjarmasin oleh Alysha Junita Iskandar)
Foto: Babongko. (Tangkapan layar buku Aneka Jajanan khas Banjarmasin oleh Alysha Junita Iskandar)
Banjar -

Babongko merupakan salah satu wadai khas Banjar yang dikenal dengan teksturnya yang lembut, rasanya gurih dan manis, serta aroma harum yang menggugah selera. Kue tradisional ini menjadi bagian dari kekayaan kuliner Kalimantan Selatan yang masih bertahan hingga kini.

Ciri khas Babongko terletak pada perpaduan rasa manis dan gurih yang berasal dari santan dan gula merah. Kue ini umumnya dibungkus menggunakan daun pisang, sehingga memberikan aroma alami yang semakin menambah kenikmatannya.

Selain itu, tampilannya yang sederhana justru menjadi daya tarik tersendiri karena mencerminkan keaslian kuliner tradisional Banjar.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mengenal Babongko

Kue bebongko. (Pemkot Banjarmasin / YouTube Masak with Mama Vio)Kue bebongko. (YouTube Masak with Mama Vio)

Babungku, babongko, atau biasa disebut juga kue bongko, merupakan salah satu kue tradisional khas Banjar dari Kalimantan Selatan. Nama Babungku artinya dibungkus, sesuai dengan cara penyajiannya yang menggunakan daun pisang.

Wadai ini berbentuk gumpalan berwarna kehijauan dengan tekstur kenyal dan lembut. Ketika dibuka, tampilannya menyerupai puding hunkue, meskipun bahan utamanya sebenarnya berasal dari tepung beras.

Sekilas, babungku tampak mirip dengan bubur sumsum, namun perbedaannya terletak pada bahan dan penyajiannya. Babungku dibuat dari tepung beras yang diberi warna hijau alami dari daun suji, kemudian dibungkus daun pisang berbentuk menyerupai piramida.

Pembungkus daun pisang yang diikat menggunakan lidi dan daun kelapa memiliki makna filosofis, yaitu menggambarkan bahwa dalam kehidupan tidak semua hal perlu diketahui orang lain, karena ada hal-hal tertentu yang sebaiknya disimpan dan dirahasiakan.

Sekilas, bentuk kemasannya mirip dengan pulut nasi, namun keduanya memiliki cita rasa yang berbeda. Pulut nasi cenderung memiliki rasa gurih pedas dengan tambahan sambal kacang, sedangkan bebongko didominasi rasa manis yang berpadu dengan gurih santan.

Kue bebongko. (Pemkot Banjarmasin / YouTube Masak with Mama Vio)Kue bebongko. (Pemkot Banjarmasin)

Bebongko kerap dijadikan pilihan menu sarapan dan juga sering disajikan dalam berbagai acara penting, seperti pernikahan maupun tradisi makan bersama khas Kutai yang dikenal dengan sebutan beseprah. Dalam kehidupan sehari-hari, jajanan ini banyak dijual di pasar tradisional atau pusat kuliner rakyat, misalnya di sekitar jembatan dekat Pasar Seni Tenggarong yang ramai dikunjungi warga setelah waktu subuh.

Bebongko merupakan salah satu jenis jajanan pasar tradisional khas Kalimantan yang cukup populer. Kue basah ini umumnya dapat ditemukan di wilayah Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur, khususnya di daerah yang dihuni masyarakat Banjar dan Kutai.

Kue bongko juga populer di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat. Di Pontianak, jajanan bongko biasanya tak cuma dimakan seperti kue biasa, tapi juga kerap disantap jadi minuman es bongko.

Selain di Kalimantan, kue ini juga dikenal di Maluku Tengah, bahkan memiliki sebutan lain yaitu kue Bongko di daerah Palinggam, Sumatera Barat.

Resep Wadai Bebongko

Kue bebongko. (Pemkot Banjarmasin / YouTube Masak with Mama Vio)Kue bebongko. (Pemkot Banjarmasin)

Proses pembuatan bebongko dilakukan melalui dua tahap utama, yaitu pembuatan adonan dan proses pengukusan. Tahap awal dimulai dengan memasak santan encer bersama gula dan garam hingga mendidih, kemudian dicampurkan dengan larutan tepung beras hingga mengental dan matang.

Setelah itu, adonan didiamkan sejenak sebelum dimasukkan ke dalam daun pisang bersama tambahan gula merah cair dan santan kental, lalu dikukus hingga siap disajikan.

Selain menggunakan tepung beras, beberapa variasi bebongko juga menambahkan daging buah durian ke dalam adonan. Durian dapat dicampurkan saat tepung diaduk dengan santan atau digunakan sebagai isian sebelum proses pengukusan.

Pada resep aslinya, sebetulnya adonan babongko terbuat dari air tumbukan daun suji, tepung, dan kapur sirih. Sementara santan terbuat dari kelapa asli.

Meski begitu, saat ini resep membuat aneka wadai sudah banyak diperbarui menjadi lebih modern dan menggunakan bahan yang bisa dibeli di sekitar kita. Simak berikut resepnya, dirangkum dari YouTube Masak with Mama Vio:

Bahan santan:
500 ml santal kental
1 sdt garam
1/2 sdt gula pasir

Bahan adonan hijau:
140 gr tepung beras
20 gr tepung maizena
4 sendok mkn gula pasir
1 sdm garam
1000 ml santan kental sedang
1/2 sdm Pasta pandan

Bahan kuah dan pembungkusnya:
300 gr gula merah/aren dicairkan
10 lembar lebar daun pisang
20 lembar panjang kecil daun pisang (untuk dalam dan luar)

Cara memasak:

1. Masukkan seluruh bahan santan, masak di atas api kecil, diaduk supaya santan tidak pecah dan aduk sampai mendidih. Matikan api, sisihkan.
2. Masukkan bahan adonan hijau, aduk pakai whisk dengan cepat sampai merata. Nyalakan kompor, masak di atas api kecil sambil diaduk hingga mengental.
3. Setelah adonan hijau mengental jangan berhenti aduk, aduk terus sampai adonan terlihat padat halus dan meletup-letup.
4. Adonan hijau ditaruh di daun pisang yang sudah disusun, mauskkan 2 sdt gula aren cair, tuang 2 sendok sayur santan kental di atasnya.
5. Tutup daun pisang dengan lidi, kukus selama 30 menit. Setelah itu wadai bebongko siap disajikan.

Nah, itulah tadi penjelasan dan resep membuat wadai bebongko. Selamat mencoba!




(aau/aau)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads