Lemang menjadi salah satu kuliner khas yang selalu hadir saat bulan Ramadan di Kota Pontianak, Kalimantan Barat (Kalbar). Lemang adalah salah satu penganan yang terbuat dari beras ketan yang dimasak dalam ruas bambu.
Makanan ini menjadi kuliner favorit oleh Masyarakat di Kalimantan Barat. Di sejumlah sudut Kota Pontianak, para pembuat lemang dan lepat lau masih bertahan melestarikan kuliner tradisional yang identik dengan bulan Ramadan tersebut.
Salah satu perajin lemang, Iwan, mengaku sudah lebih dari 40 tahun menekuni usaha pembuatan lemang. Menurutnya, permintaan lemang biasanya meningkat signifikan selama Ramadan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau untuk bulan puasa ini sekitar 150 sampai 200 batang per hari," kata Iwan ditemui di rumah produksi di Gang Selamat 1, Jalan HRA Rahman, Kecamatan Pontianak Barat, belum lama ini.
Lemang terbuat dari beras ketan yang dicampur santan dan bumbu, kemudian dimasukkan ke dalam bambu yang telah dilapisi daun pisang muda. Proses memasaknya dilakukan dengan cara dibakar menggunakan bara api selama beberapa jam hingga matang.
Iwan menjelaskan bahan utama pembuatan lemang terdiri dari bambu, beras ketan, daun pisang muda, serta santan dan bumbu-bumbu lainnya. Proses produksi biasanya dimulai sejak pagi hari.
"Mulai dari jam 6 pagi sampai selesai. Sore (sebelumnya) biasanya kami bersihkan bambu dan isi dengan daun pisang," ujarnya.
Mengintip pembuatan lemang di rumah produksi milik Iwan. Foto: (Ocsya Ade CP) |
Pulut yang dimasak didalam bambu, dicampur santan dan bumbu. Di dalam bambu tersebut dimasukkan daun pisang agar nasi pulut tersebut tidak melekat. Lalu bambu yang sudah di isi beras pulut tadi dipanggang pada perapian tradisional. Rasanya sangat lezat jika dimakan sewaktu hangat.
Iwan menyebut bambu sebagai wadah memasak lemang biasanya dipersiapkan terlebih dahulu. Bambunya spesial, harus didatangkan dari daerah Ambawang, Kubu Raya. Sebab, jenis bambu daerah itu punya ruas panjang dan dinding lebih tipis.
"Bambu biasanya dari Ambawang. Ada bambu khusus yang ruasnya agak panjang," ujarnya.
Lemang yang dijual Iwan memiliki beberapa ukuran dengan harga berbeda. Satu batang lemang dibanderol mulai Rp30 ribu hingga Rp40 ribu.
Meski permintaan meningkat selama Ramadan, para perajin lemang juga harus menghadapi tantangan naiknya harga bahan baku, khususnya beras ketan dan santan.
"Tahun lalu harga ketan sekitar Rp15 ribu per kilogram, sekarang sudah naik jadi sekitar Rp18.500 per kilogram," katanya.
Meski berbagai kendala kerap muncul, Iwan tetap setia menjalankan usaha tersebut. Ia bahkan terus memproduksi lemang hingga mendekati malam takbiran karena tingginya permintaan masyarakat.
"Kalau mendekati Lebaran biasanya malah bakar lebih banyak. Kadang bisa dua sampai tiga kali bakar tergantung kemampuan," katanya.
Tak hanya dijual di Pontianak, lemang buatannya juga kerap dipesan hingga ke daerah Mempawah, kabupaten tetangga. Selain Ramadan, pesanan juga datang saat ada acara pernikahan, pertunangan, maupun kegiatan adat.
"Kalau hari biasa tergantung pesanan. Kadang ada acara pernikahan atau adat, tinggal telepon saja," ujarnya.
Bagi masyarakat, lemang menjadi salah satu hidangan yang tak terpisahkan dari kegiatan adat maupun tradisi berbuka puasa hingga perayaan Hari Raya Idul Fitri.
(aau/aau)

