Kepiting alaska merupakan salah satu jenis kepiting yang paling mahal di dunia. Belakangan, kuliner dari jenis kepiting ini bikin heboh karena disebut bikin selebgram Lisa Mariana keracunan.
Sebenarnya seperti apa sih kepiting alaska? Simak seperti apa bedanya dengan kepiting jenis lain, hingga cara mengolahnya agar aman dikonsumsi, dikutip dari detikFood.
Mengenal Kepiting Alaska
Kepiting alaska (alaskan king crab) adalah krustasea yang hidup di perairan dalam dan sangat dingin, khususnya di Laut Bering dan Kepulauan Aleut, Alaska. Secara biologis, hewan ini sebenarnya lebih dekat kekerabatannya dengan umang-umang daripada kepiting biasa.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun mereka tetap memiliki sepuluh kaki. Ciri fisiknya mencolok dengan cangkang besar berduri dan kaki panjang yang menyimpan daging putih, lembut, serta manis alami.
Terdapat tiga jenis kepiting alaska yang umum dikonsumsi, yaitu:
- Red king crab: Jenis terbesar (bisa mencapai 10 kg) dan paling bernilai tinggi. Memiliki cangkang merah berduri.
- Blue king crab: Lebih langka dengan cangkang kebiruan dan rasa daging yang sangat buttery.
- Golden king crab: Berukuran lebih kecil (5-8 kg) dengan cangkang keemasan.
Cara Mengolah Kepiting Alaska yang Aman
Kuliner Kepiting Alaska. Foto: Getty Images/iStockphoto |
Kebanyakan kepiting alaska dijual dalam kondisi sudah dimasak lalu dibekukan. Agar aman dikonsumsi, cara harus benar agar terhindar dari bakteri.
Dimulai dengan mencairkannya di dalam kulkas (8-12 jam), jangan langsung di suhu ruang untuk mencegah bakteri berkembang biak. Lalu panaskan ulang hingga suhu aman (60-63Β°C) dengan cara mengukus, merebus singkat, atau memanggang.
Hindari penggunaan microwave, karena pemanasan tidak merata di microwave berisiko menyisakan bakteri hidup. Pastikan aromanya masih segar, karena jika berbau asam atau menyengat, kepiting tidak layak konsumsi.
Harga kepiting alaska sangat tinggi, bisa mencapai Rp 4,1 juta per porsi untuk jenis red king crab. Beberapa faktor penyebabnya adalah risiko penangkapannya di laut dingin, kuota panen terbatas, kualitas gizi, hingga proses penyimpanan dan pengolahan yang harus ekstra hati-hati.
Baca artikel selengkapnya di sini.

