Restoran Ini Sajikan Daging Beruang, Seperti Apa Rasanya?

Internasional

Restoran Ini Sajikan Daging Beruang, Seperti Apa Rasanya?

Femi Diah - detikKalimantan
Kamis, 25 Des 2025 17:00 WIB
Foto yang diambil pada 12 Desember 2025 ini memperlihatkan taksidermi beruang yang dipajang di sebuah restoran penyaji daging beruang di Chichibu, Prefektur Saitama. Sejak Jepang mencatat lonjakan serangan beruang yang mematikan, pemilik restoran Koji Suzuki kewalahan memenuhi permintaan daging beruang panggang di tempat usahanya. Daging tersebut dimasak di atas lempengan batu atau disajikan sebagai hidangan hot pot dengan sayuran.
Daging beruang yang disajikan berasal dari hewan yang dibasmi sebagai bagian dari upaya menekan serangan, yang tahun ini telah menewaskan 13 orang, angka tertinggi yang pernah tercatat.
Restoran penyaji daging beruang di Chichibu, Prefektur Saitama, Jepang. Foto: Yuichi Yamazaki / AFP
Balikpapan -

Menu tak biasa disajikan di restoran kota Chichibu, kawasan perbukitan yang terletak tak jauh dari Tokyo. Dikutip detikTravel dari AFP, restoran yang tak disebutkan namanya itu punya menu makanan dari daging beruang.

Di kota itu, Koji Suzuki, pemilik sebuah restoran lokal, bahkan mengaku kewalahan memenuhi permintaan daging beruang panggang dari para pengunjung. Lonjakan konflik antara manusia dan beruang di Jepang memunculkan fenomena tak biasa di kuliner negeri sakura.

Saat ini, daging beruang justru menjadi sajian yang kian diminati, khususnya di wilayah pegunungan. Lonjakan permintaan ini terjadi seiring maraknya pemberitaan mengenai kemunculan beruang di area permukiman, sekolah, hingga pusat perbelanjaan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Daging beruang yang dihidangkan di restoran tersebut berasal dari hasil perburuan yang dilakukan sebagai bagian dari program pengendalian populasi. Sepanjang tahun ini, tercatat sekitar 13 orang meninggal dunia akibat serangan beruang di Jepang, sehingga pemerintah terdorong untuk mengambil langkah-langkah tegas guna mengurangi potensi konflik lanjutan.

Walaupun restoran Suzuki juga menawarkan daging rusa dan babi hutan, mereka adalah binatang yang umum dijumpai di daerah pegunungan Jepang. Namun, daging beruang kini justru menjadi hidangan yang paling banyak dicari pengunjung.

"Dengan semakin banyaknya berita tentang beruang, jumlah pelanggan yang ingin mencicipi dagingnya meningkat pesat," ujar Suzuki (71) kepada AFP, dikutip Kamis (25/12/2025).

Dia menilai pemanfaatan daging hasil pembasmian jauh lebih baik daripada membiarkannya terbuang.

Foto yang diambil pada 12 Desember 2025 ini memperlihatkan taksidermi beruang yang dipajang di sebuah restoran penyaji daging beruang di Chichibu, Prefektur Saitama. Sejak Jepang mencatat lonjakan serangan beruang yang mematikan, pemilik restoran Koji Suzuki kewalahan memenuhi permintaan daging beruang panggang di tempat usahanya. Daging tersebut dimasak di atas lempengan batu atau disajikan sebagai hidangan hot pot dengan sayuran.Daging beruang yang disajikan berasal dari hewan yang dibasmi sebagai bagian dari upaya menekan serangan, yang tahun ini telah menewaskan 13 orang, angka tertinggi yang pernah tercatat.Foto yang diambil pada 12 Desember 2025 ini memperlihatkan taksidermi beruang yang dipajang di sebuah restoran penyaji daging beruang di Chichibu, Prefektur Saitama. Sejak Jepang mencatat lonjakan serangan beruang yang mematikan, pemilik restoran Koji Suzuki kewalahan memenuhi permintaan daging beruang panggang di tempat usahanya. Daging tersebut dimasak di atas lempengan batu atau disajikan sebagai hidangan hot pot dengan sayuran.Daging beruang yang disajikan berasal dari hewan yang dibasmi sebagai bagian dari upaya menekan serangan, yang tahun ini telah menewaskan 13 orang, angka tertinggi yang pernah tercatat. Foto: Yuichi Yamazaki / AFP

Istri Suzuki, Chieko (64), yang mengelola restoran tersebut, mengatakan lonjakan permintaan membuat mereka kerap menolak pelanggan. Menurutnya, ketertarikan itu datang bukan hanya dari warga lokal, tetapi juga dari pengunjung yang penasaran dengan kuliner khas daerah pegunungan.

Salah satu pengunjung, komposer berusia 28 tahun bernama Takaaki Kimura, mengaku baru pertama kali mencoba daging beruang.

"Teksturnya sangat juicy, dan rasanya semakin keluar saat dikunyah," ujarnya sambil tersenyum.

Dia datang ke kedai itu bersama teman-temannya. Mereka memilih duduk di sekitar batu panggangan dan panci yang mendidih.

Meski terdengar ekstrem bagi sebagian orang, konsumsi daging beruang sebenarnya bukan hal baru di Jepang. Di desa-desa pegunungan, daging ini telah lama menjadi bagian dari tradisi kuliner setempat, meski tidak dikonsumsi sehari-hari.

Melihat potensi tersebut, pemerintah Jepang berharap pemanfaatan daging beruang dapat menjadi sumber pendapatan tambahan bagi masyarakat pedesaan.

"Penting untuk mengubah satwa liar yang mengganggu menjadi sesuatu yang bernilai positif," ujar Kementerian Pertanian Jepang.




(aau/aau)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads