Derita Satwa Kalimantan di Tengah Karhutla: Terjerat hingga Terjebak Api

Round-up

Derita Satwa Kalimantan di Tengah Karhutla: Terjerat hingga Terjebak Api

Tim detikKalimantan - detikKalimantan
Minggu, 25 Okt 2026 12:00 WIB
Orang utan dewasa terlihat berjalan di sekitar Kilometer (KM) 20 Jalan Pangkalan BunKotawaringin Lama.
Orang utan berjalan di Pangkalan Bun. Foto: Istimewa
Palangka Raya -

Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda berbagai kawasan di Kalimantan tidak hanya memicu kabut asap dan mengancam kesehatan masyarakat. Kondisi ini juga melumpuhkan kehidupan satwa liar.

Dari rimba yang terbakar, berbagai spesies satwa dilindungi terdesak keluar dari habitat aslinya, mengalami dehidrasi, luka fisik parah akibat jerat, hingga terpisah dari induknya. Berikut rangkuman kondisi para satwa dalam sepekan kemarin.

Orang Utan Bertahan dari Jeratan dan Kepungan Api

Populasi orang utan kalimantan (Pongo pygmaeus) menghadapi tekanan dahsyat akibat karhutla yang mempersempit ruang jelajah dan memusnahkan sumber pakan mereka. Di antaranya induk orang utan berusia sekitar 25 tahun bernama Gadis dan bayinya yang berusia 10 bulan, Garis di Desa Kandan, Kecamatan Kota Besi, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Keduanya terjebak di tengah kebun karet warga yang terkepung api. Proses penyelamatan Gadis dan Garis dilakukan pada Jumat (23/10/2026) dini hari pukul 01.00 WIB hingga 03.00 WIB oleh tim gabungan BKSDA Kalteng Seksi KSDA Wilayah II, Orangutan Foundation International (OFI), aktivis lingkungan Sampit (Awil), hingga aparat kepolisian.

Evakuasi orang utan terdampak karhutla, Gadis dan Garis, di Kotawaringin Timur.Evakuasi orang utan terdampak karhutla, Gadis dan Garis, di Kotawaringin Timur. Foto: Dok. BKSDA Kalteng

Saat dievakuasi, pergelangan tangan kiri dan kanan Gadis terbelit tali jerat babi yang menyebabkan luka parah.

Sementara itu di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), perjumpaan orang utan dengan manusia juga marak terjadi. Pada Minggu (18/10/2026) sore, seekor orang utan yang berjalan kebingungan di sisa lahan terbakar di KM 14 Jalan Pangkalan Bun-Kotawaringin Lama (Kolam) berhasil dievakuasi setelah diintai selama dua jam.

Kejadian serupa kembali terekam dalam video viral warga yang memperlihatkan orang utan dewasa berjalan kebingungan di KM 20 Jalan Pangkalan Bun-Kotawaringin Lama.

"Masyarakat yang menjumpai orang utan diimbau tidak mendekati, mengejar, memberi makan, ataupun mencoba menangkapnya. Warga juga diminta tidak mengerumuni satwa tersebut agar tidak menimbulkan stres dan tetap memberikan ruang bagi orang utan untuk bergerak," kata Kepala Seksi KSDA Wilayah II Pangkalan Bun, Handi Nasoka, dikonfirmasi pada Jumat (23/10/2026).

Bayi Beruang Madu Terpisah dari Induknya

Karhutla di Kabupaten Seruyan memisahkan seekor bayi beruang madu (Helarctos malayanus) betina berusia tiga bulan dari induknya. Satwa mungil tersebut ditemukan terlunta-lunta di area perkebunan kelapa sawit Desa Lampasan oleh seorang warga bernama Sugiarto yang langsung mengamankannya dari bahaya api.

Evakuasi kemudian dilakukan oleh tim gabungan Baharkam Polri, Polda Kalteng, dan BKSDA pada Jumat (23/10/2026). Anak beruang ini diberi nama Meli, singkatan dari 'Menyelamatkan yang Liar' oleh Direktur Polisi Satwa Korsabhara Baharkam Polri, Brigjen Pol Tory Kristianto.

Pada Jumat malam, Meli diserahkan ke fasilitas konservasi BKSDA di Pangkalan Bun, Kobar, dengan didampingi Kapolres Kobar AKBP Joko Handono.

Anak beruang madu yang kemudian diberi nama MeliAnak beruang madu yang kemudian diberi nama Meli. Foto: Istimewa

Kukang Dehidrasi dan Terluka

Dampak karhutla juga merenggut ruang hidup satwa nokturnal seperti kukang (Nycticebus). Pada Jumat (16/10/2026), seekor kukang ditemukan di kawasan bekas kebakaran di Dusun Remiling, Desa Ganepo, Kecamatan Seranau, Kabupaten Kotim oleh tim PT Rimba Makmur Utama (RMU) bersama aktivis lingkungan.

Satwa dilindungi itu ditemukan dalam kondisi mengalami dehidrasi ringan serta luka gesekan pada bagian pantat. Setelah dievakuasi ke klinik hewan di Sampit, kukang tersebut diserahkan oleh aktivis lingkungan Hari Siswanto kepada Komandan BKSDA Pos Sampit, Muriansyah, pada Sabtu (17/10/2026) pukul 21.10 WIB.

Setelah mendapat suntikan vitamin, makanan, serta perawatan medis hingga lukanya mengering, kukang dilepasliarkan kembali pada Minggu (18/10/2026) di kawasan Restorasi Ekosistem PT RMU yang bebas karhutla.

Tenggiling Lemas di Bartim

Spesies terancam punah tenggiling sunda (Manis javanica) yang berstatus Kritis (Critically Endangered) juga menjadi korban karhutla. Seekor trenggiling ditemukan dalam kondisi lemas saat petugas gabungan melakukan pengecekan lapangan titik panas (hotspot) di Desa Murutuwu, Kabupaten Barito Timur, pada Senin (19/10/2026) pukul 23.11 WIB.

Laporan evakuasi dikirim via WhatsApp ke BKSDA Kalteng pukul 23.35 WIB, yang diteruskan ke BKSDA Muara Teweh. Penyerahan dilakukan secara estafet pada Rabu (21/10/2026) di Desa Kandui untuk membawa tenggiling ke fasilitas karantina BKSDA Muara Teweh.

Rangkong Badak di Tengah Asap

Tak hanya fauna darat, burung ikonik Kalimantan seperti rangkong badak (Buceros rhinoceros) atau dikenal masyarakat lokal sebagai tingang tertangkap kamera tengah bertengger di dahan pohon kering dengan latar belakang langit oranye pekat yang tertutup asap tebal Karhutla.

Diketahui lokasinya berada di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting, Kabupaten Kotawaringin Barat. Karhutla sangat mengancam karena keberadaan rangkong badak bergantung pada pohon-pohon besar di hutan alam.

Burung rangkong badak Kalimantan turut menjadi korban ganasnya karhutla TN Tanjung Puting.Burung rangkong badak Kalimantan turut menjadi korban ganasnya karhutla TN Tanjung Puting. Foto: Dok. Istimewa

Ikan Sungai Juga Bisa Terdampak

Dampak Karhutla tidak berhenti di batas daratan, melainkan menjangkau hingga ke dalam perairan sungai di Kalimantan Tengah. Material abu pembakaran, arang, serta senyawa organik dari lahan gambut yang terbakar terbawa oleh limpasan air hujan alami maupun hujan buatan ke aliran sungai, yang kemudian mengubah sifat kimiawi air secara drastis.

Berdasarkan penelitian ilmiah berjudul "Peatland Fish of Sebangau, Borneo: Diversity, Monitoring and Conservation" di Sungai Sebangau, dicatat ada 55 spesies ikan dari 16 famili. Pascakebakaran hebat tahun 2015, rata-rata derajat keasaman (pH) air Sungai Sebangau melonjak asam, indeks hasil tangkapan ikan anjlok drastis.

Halaman 2 dari 2
(bai/bai)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads