Dampak karhutla juga dirasakan oleh berbagai satwa liar yang rumahnya direnggut oleh api. Beberapa bulan semenjak api menyala di lahan gambut Kalimantan, banyak ditemukan hewan-hewan endemik Kalimantan terlantar, terluka, sakit, hingga tak bernyawa. Salah satu yang terdampak adalah orang utan Kalimantan Tengah (Pongo pygmaeus wurmbii).
Salah satu penelitian menarik menemukan perubahan frekuensi, kualitas, dan intensitas panggilan suara dari orang utan Kalteng berubah selama periode kabut asap akibat kebakaran gambut. Penelitian berjudul Wildfire smoke linked to vocal changes in wild Bornean orangutans itu mengamati empat orang utan jantan dewasa di hutan rawa gambut Kalimantan Tengah.
Hasilnya, orang utan ternyata lebih jarang mengeluarkan suara selama dan sesudah kabut asap berlangsung. Kualitas suaranya juga berubah, bahkan setelah dua pulan pasca kabut asap mereda.
Cara Mengukur Perubahan Suara Orang Utan
Penelitian Erb dkk. berangkat dari peristiwa kebakaran besar tahun 2015 yang membakar lahan gambut di Indonesia, termasuk Kalimantan. Tim peneliti melakukan pengamatan di Stasiun Penelitian Orang Utan Tuanan, Kalimantan Tengah. Lokasinya pernah dilanda kebakaran besar termasuk kebakaran tahun 1997-1998.
Pengumpulan data berlangsung mulai 15 Maret 2015-13 Januari 2016. Peneliti fokus pada empat orang utan jantan dewasa yang ditandai dengan adanya flanges atau bantalan pipi. Keempatnya bernama Niko, Otto, Tomi, dan Wodan.
Lalu, kenapa dipilih orang utan jantan dewasa? Alasannya karena individu jangan yang ditandai dengan adanya flanges secara rutin menghasilkan long call atau panggilan suara keras dan bergema yang bisa terdengar hingga lebih dari satu kilometer.
Mereka melakukan panggilan itu untuk komunikasi jarah jauh, termasuk untuk menarik perhatian pasangan. Fungsi penting ini menjadi petunjuk bagi peneliti untuk mempelajari kondisi fisik maupun perilaku orang utan.
Penelitian yang diterbitkan tahun 2023 itu berhasil mengumpulkan 72 pengamatan sehari penuh, dari orang utan meninggalkan sarang sampai mereka kembali ke sarang. Dari 313 panggilan yang teramati, 268 berhasil direkam, dan sebanyak 132 panggilan dipilih untuk dianalisis.
Analisis yang dilakukan adalah analisis akustik. Ada beberapa parameter yang dilihat, yang pertama adalah pitch atau tinggi nada, kedua adalah jitter atau frekuensi getaran suara dari satu siklus ke siklus berikutnya, lalu yang ketiga ada shimmer atau kekuatan suara.
Simak Video "Video: Begini Kondisi Orang Utan Sempurna Sebelum Meninggal Akibat Karhutla"
(des/des)