Dampak karhutla juga dirasakan oleh berbagai satwa liar yang rumahnya direnggut oleh api. Beberapa bulan semenjak api menyala di lahan gambut Kalimantan, banyak ditemukan hewan-hewan endemik Kalimantan terlantar, terluka, sakit, hingga tak bernyawa. Salah satu yang terdampak adalah orang utan Kalimantan Tengah (Pongo pygmaeus wurmbii).
Salah satu penelitian menarik menemukan perubahan frekuensi, kualitas, dan intensitas panggilan suara dari orang utan Kalteng berubah selama periode kabut asap akibat kebakaran gambut. Penelitian berjudul Wildfire smoke linked to vocal changes in wild Bornean orangutans itu mengamati empat orang utan jantan dewasa di hutan rawa gambut Kalimantan Tengah.
Hasilnya, orang utan ternyata lebih jarang mengeluarkan suara selama dan sesudah kabut asap berlangsung. Kualitas suaranya juga berubah, bahkan setelah dua pulan pasca kabut asap mereda.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penelitian Wendy M. Erb, Elizabeth J. Barrow, Alexandra N. Hofner, Jessica L. Lecorchick, Tatang Mitra Setia, Erin R. Vogel. tahun 2023 berjudul "Wildfire smoke linked to vocal changes in wild Bornean orangutans." Foto: Dok. iScience |
Cara Mengukur Perubahan Suara Orang Utan
Penelitian Erb dkk. berangkat dari peristiwa kebakaran besar tahun 2015 yang membakar lahan gambut di Indonesia, termasuk Kalimantan. Tim peneliti melakukan pengamatan di Stasiun Penelitian Orang Utan Tuanan, Kalimantan Tengah. Lokasinya pernah dilanda kebakaran besar termasuk kebakaran tahun 1997-1998.
Pengumpulan data berlangsung mulai 15 Maret 2015-13 Januari 2016. Peneliti fokus pada empat orang utan jantan dewasa yang ditandai dengan adanya flanges atau bantalan pipi. Keempatnya bernama Niko, Otto, Tomi, dan Wodan.
Lalu, kenapa dipilih orang utan jantan dewasa? Alasannya karena individu jangan yang ditandai dengan adanya flanges secara rutin menghasilkan long call atau panggilan suara keras dan bergema yang bisa terdengar hingga lebih dari satu kilometer.
Mereka melakukan panggilan itu untuk komunikasi jarah jauh, termasuk untuk menarik perhatian pasangan. Fungsi penting ini menjadi petunjuk bagi peneliti untuk mempelajari kondisi fisik maupun perilaku orang utan.
Penelitian yang diterbitkan tahun 2023 itu berhasil mengumpulkan 72 pengamatan sehari penuh, dari orang utan meninggalkan sarang sampai mereka kembali ke sarang. Dari 313 panggilan yang teramati, 268 berhasil direkam, dan sebanyak 132 panggilan dipilih untuk dianalisis.
Analisis yang dilakukan adalah analisis akustik. Ada beberapa parameter yang dilihat, yang pertama adalah pitch atau tinggi nada, kedua adalah jitter atau frekuensi getaran suara dari satu siklus ke siklus berikutnya, lalu yang ketiga ada shimmer atau kekuatan suara.
Orang Utan Lebih Jarang Bersuara Saat dan Setelah Kabut Asap
Pengasuh memberikan susu kepada sejumlah individu orang utan (Pongo pygmaeus) di Sekolah Orang Utan Nyaru Menteng, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Kamis (10/9/2026). Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah bersama Yayasan Borneo Orangutan Survival Foundation memberikan tambahan asupan susu, makanan dan madu untuk menjaga kondisi kesehatan orang utan setelah menemukan 21 individu menunjukkan gejala gangguan pernapasan yang konsisten dengan ISPA di tengah ancaman kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/tom. Foto: ANTARA FOTO/Bayu Pratama S |
Temuan utama dari penelitian utama ini menunjukkan penurunan frekuensi long call per hari. Sebelum kabut asap, orang utan rata-rata melakukan 5,5 panggilan per hari. Jumlahnya turun menjadi 3,2 panggilan per hari selama karhutla berlangsung. Setelah mereda, frekuensi rata-ratanya turun drastis jadi 0,6 panggilan per hari.
Para peneliti juga menemukan bahwa orang utan tidak menghasilkan satu pun long call pada 56% hari pengamatan setelah masa karhutla. Persentasenya naik jika dibandingkan sebelum karhutla berlangsung di mana orang utan bisa tidak melakukan panggilan di 22% hari pengamatan. Dari pola ini peneliti menyatakan bahwa pola komunikasi orang utan tidak langsung kembali seperti semula setelah kabut asap mereda.
Dalam paper tersebut dijelaskan dugaan peneliti mengapa frekuensi panggilan orang utan menurun setelah karhutla. Salah satu alasannya karena adanya perubahan aktivitas orang utan di habitat. Orang utan cenderung menempuh jarak yang lebih pendek dan menghabiskan lebih banyak waktu untuk istirahat setelah karhutla.
Peneliti juga membandingkan temuan ini dengan manusia perokok. Ketika seseorang merokok, asapnya bisa menimbulkan iritasi, peradangan, dan perubahan karakteristik suara. Nah, asap kebakaran juga diduga bisa menyebabkan dampak yang sama karena adanya partikel halus dan zat berbahaya yang mengganggu sistem pernapasan.
Perubahan suara yang terjadi ini berpotensi memengaruhi cara orang utan berkomunikasi dengan individu lain di habitatnya. Long call yang dikeluarkan orang utan berfungsi sebagai sinyal jarak jauh yang membantu mereka mengetahui kawanan lain yang bersuara. Karakteristik suara juga merupakan informasi penting soal identitas dan arah pergerakan si pemanggil. Suara ini sangat penting bagi orang utan Kalimantan yang hidupnya relatif menyendiri dan tersebar di hutan yang luas.
Temuan ini menjadi mengingatkan bahwa dampak karhutla bukan saja dirasakan oleh manusia yang berakal, tapi hewan-hewan yang hidup di dalamnya juga ikut terancam. Semoga semua upaya yang dilakukan untuk meredakan karhutla membuahkan hasil dan hutan Kalimantan kembali menjadi rumah yang aman bagi penghuninya.
Simak Video "Video: Begini Kondisi Orang Utan Sempurna Sebelum Meninggal Akibat Karhutla"
[Gambas:Video 20detik] (des/des)


