Karhutla bukan hanya mengancam satwa yang hidup di darat. Sungai-sungai yang mengaliri Kalimantan juga terancam karena perubahan kualitas air akibat karhutla.
Soal itu pernah diteliti langsung di Kalimantan Tengah. Setelah karhutla pada 2015, peneliti menemukan peningkatan keasaman air Sungai Sebangau dan penurunan hasil tangkapan ikan. Sebab, ada abu dan material tanah yang terbawa ke sungai. Senyawa organik dari gambut yang terbakar mencemari sungai, sifat kimia air pun berubah, dan limpasan hujan juga berpotensi membawa sedimen dan bahan pencemar ke sungai.
Dalam penelitian berjudul Peatland Fish of Sebangau, Borneo: Diversity, Monitoring and Conservation, peneliti mengumpulkan data kondisi lingkungan dan ikan setiap bulan selama 15 bulan, dari habitat sungai dan hutan rawa gambut. Berdasarkan survei yang dilakukan di Sungai Sebangau, mereka menemukan 55 spesies ikan yang berasal dari 16 famili. Pengambilan data ikan di Sungai Sebangau juga dilakukan sebelum dan sesudah kebakaran pada 2015 untuk melihat perubahan kondisi perairan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ada perubahan yang cukup signifikan setelah karhutla terjadi. Pada bulan September 2015, rata-rata pH air Sungai Sebangau tercatat di angka 3,88 atau masuk dalam kategori asam. Angka ini turun menjadi 3,20 pada November 2015, setelah kebakaran berlangsung. Nilai pH November tersebut merupakan yang terendah selama periode pengamatan dalam penelitian.
Di periode yang sama, indeks hasil tangkapan ikan atau catch per unit effort (CPUE) turun dari 18,21 pada September menjadi 4,02 pada November. Artinya hasil tangkapan per satuan upaya penangkapan turun sekitar 78%. CPUE sendiri merupakan indikator hasil tangkapan relatif terhadap upaya yang digunakan, bukan penghitungan langsung seluruh ikan di sungai.
Dari data yang diperoleh, peneliti menyatakan bahwa perubahan pH dan hasil tangkapan yang terjadi bersamaan menunjukkan adanya gangguan serius di ekosistem perairan setelah kebakaran. Hasilnya juga sesuai dengan laporan nelayan setempat yang mengeluh hasil tangkapan ikan di Sungai Sebangau sangat menurun setelah karhutla melanda.
Populasi Ikan Bisa Menurun dalam Hitungan Bulan
Satu penelitian lain berjudul Impacts of Fire and Prospects for Recovery in a Tropical Peat Forest Ecosystem yang diterbitkan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS) meneliti ekosistem kawasan Laboratorium Alam Hutan Rawa Gambut di Taman Nasional Sebangau, Kalimantan Tengah. Selama 16 tahun data yang dikumpulkan, hasilnya menunjukkan bahwa kebakaran besar berulang memengaruhi kualitas air dan keberadaan hewan yang hidup di dalam sungai.
Populasi ikan menurun sangat tajam dalam periode satu bulan setelah kejadian karhutla. Dalam satu bulan, penurunan probabilitas keberadaan ikan sebesar 67,9%, ditambah penurunan spesies ikan asli sungai lebih besar lagi penurunannya, mencapai 73,5%. Ikan yang ditangkap nelayan untuk diperjualbelikan juga menurun, angkanya sebesar 29,2%.
Dalam penelitian juga dijelaskan dampak kebakaran terhadap ekosistem dapat berlangsung lama. Di kawasan yang terbakar, terjadi penurunan sekitar 58-98% dari struktur habitat, kerapatan pohon, dan tutupan tajuk dibandingkan hutan alami.
Pencemaran Sungai dari Abu dan Material Gambut
Kenapa karhutla bisa membuat populasi ikan di sungai menurun? Salah satu penyebabnya adalah perubahan kimia di dalam air. Saat terjadi karhutla, lapisan organik gambut terbakar, hasil bakaran ini bisa berupa abu, arang, dan material tanah yang terbawa ke sungai. Hujan buatan atau hujan alami membawa pencemar tadi ke aliran sungai.
Dampaknya bisa berbeda-beda di setiap sungai. Abu dari karhutla dan pencemar lainnya bisa meningkatkan pH air karena mengandung mineral yang sifatnya basa. Tetapi di Sebangau, karhutla melepas senyawa organik yang sifatnya asam. Karena itulah perubahan pH bergantung pada karakteristik tanah, vegetasi, material hasil pembakaran, dan kondisi perairan setempat.
Nah, perubahan ini sangat memengaruhi populasi ikan karena mereka hanya bisa hidup dalam rentang pH tertentu. Perubahan pH yang drastis tentu mengganggu keseimbangan ion dan proses fisiologis ikan. Abu dan material pascakebakaran juga membawa unsur logam dan senyawa organik pencemar yang menimbulkan efek toksik.
Walaupun penelitian-penelitian di atas diteliti sekitar sepuluh tahun yang lalu, namun dampak yang sama bisa saja terjadi di kondisi karhutla seperti saat ini. Dengan kata lain, dampak karhutla ternyata lebih luas dari sekadar kebakaran di hutan. Tanah, udara, dan air, semuanya ikut berimbas akibat karhutla yang meluas.
