Kabut asap karhutla tidak hanya mengancam kesehatan manusia, tetapi juga hewan peliharaan. Di Paws Health Vet Clinic, Kotawaringin Barat (Kobar), jumlah pasien dengan gangguan pernapasan meningkat hingga 30 persen selama tiga bulan terakhir di tengah paparan kabut asap.
Dokter senior Paws Health Vet Clinic, Dinda Rahma Hadiputri, mengatakan peningkatan kasus tersebut terlihat terutama pada kucing. Jika sebelum karhutla klinik rata-rata menangani sekitar 10 kucing dengan infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) setiap bulan, selama periode kabut asap jumlahnya meningkat menjadi 13 hingga 14 ekor.
"Kalau sebelum karhutla pasien ISPA itu ada, terutama pada kucing ya, sekitar 10 ekor per bulan. Tapi selama kabut asap ini meningkat sampai 13-14 ekor per bulan," kata Dinda, Minggu (18/10/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bukan hanya jumlah pasien yang bertambah, tingkat keparahan gejala yang dialami hewan juga menjadi perhatian. Jika sebelumnya sebagian besar pasien hanya mengalami bersin dan flu, kini sejumlah hewan datang dengan gangguan pernapasan lebih berat hingga membutuhkan bantuan oksigen dan nebulisasi.
"Kalau biasanya yang 10 ekor itu hanya bersin dan flu, di saat kabut asap ini malah gejalanya semakin parah sampai harus dinebu dan mendapat oksigen," ungkapnya.
Dampak kabut asap terhadap kesehatan hewan juga terlihat dari pasien yang datang dengan keluhan berbeda. Pada Sabtu, 17 Oktober 2026, klinik tersebut menerima seekor ular yang dibawa pemiliknya karena mengalami muntah. Berdasarkan gejala awal, ular itu diduga mulai mengalami gangguan pernapasan yang mengarah pada ISPA.
"Sepertinya mulai kena ISPA, tetapi belum terlalu parah, karena dia ada gejala muntah," ujar Dinda.
Temuan tersebut menambah perhatian tenaga medis terhadap dampak kabut asap pada berbagai jenis hewan. Meski kasus gangguan pernapasan lebih banyak ditemukan pada kucing, perubahan kondisi kesehatan hewan lain juga perlu diwaspadai dan diperiksa lebih lanjut.
Untuk kucing dengan gejala berat, penanganan medis dapat meliputi pemberian oksigen, cairan infus, serta obat-obatan sesuai hasil pemeriksaan dokter hewan. Sementara pasien dengan gejala lebih ringan, seperti bersin dan hidung berair, mendapatkan perawatan sesuai kondisi masing-masing.
Dinda mengimbau pemilik hewan agar lebih waspada selama kabut asap masih menyelimuti wilayah Kobar. Perubahan perilaku, muntah, bersin berulang, hidung berair, hingga kesulitan bernapas perlu menjadi perhatian dan tidak dianggap sebagai gangguan ringan semata.
Pemilik juga disarankan mengurangi paparan asap dengan menjaga hewan tetap berada di dalam ruangan. Penggunaan pendingin udara (AC) dan alat pemurni udara atau air purifier dapat dipertimbangkan jika tersedia, terutama bagi hewan yang menunjukkan gejala gangguan pernapasan.
Hewan peliharaan sebaiknya tidak dibiarkan berkeliaran di luar rumah ketika kualitas udara masih buruk. Jika muncul gejala yang tidak biasa, pemilik perlu segera berkonsultasi dengan dokter hewan agar penanganan dapat diberikan sedini mungkin.
Menurut Dinda, pemeriksaan awal penting untuk mencegah kondisi kesehatan hewan berkembang menjadi lebih berat. Penanganan pun harus disesuaikan dengan jenis hewan, gejala yang muncul, dan hasil pemeriksaan medis. Ia berharap upaya pengendalian karhutla dilakukan secara serius agar kabut asap tidak terus berdampak terhadap kesehatan manusia maupun hewan.
"Sebab, di balik meningkatnya kasus gangguan pernapasan, hewan peliharaan juga menghadapi risiko kesehatan yang membutuhkan perhatian pemilik dan tenaga medis," pungkasnya.
