46 Orang Utan Diselamatkan dari Karhutla di Kalbar sejak Agustus

46 Orang Utan Diselamatkan dari Karhutla di Kalbar sejak Agustus

Ocsya Ade CP - detikKalimantan
Senin, 12 Okt 2026 08:01 WIB
Pelepasliaran orang utan di Ketapang.
Pelepasliaran orang utan di Ketapang. Foto: Dok. YIARI
Ketapang -

Sebanyak 46 individu orang utan diselamatkan dari dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat sejak 1 Agustus hingga 9 Oktober 2026. Sebagian orang utan masih menjalani perawatan intensif karena mengalami luka bakar hingga malnutrisi.

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalbar, Murlan Dameria Pane mengatakan, penyelamatan tersebut dilakukan bersama Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI).

Dari puluhan orang utan yang diselamatkan, delapan individu telah ditranslokasi dan dilepasliarkan ke Hutan Lindung Batu Nyambu, Kabupaten Ketapang, pada Jumat (9/10). Mereka dinyatakan sehat dan siap kembali ke habitat alami setelah menjalani pemeriksaan serta observasi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Upaya penyelamatan satwa liar tidak berhenti pada penyelamatan dan translokasi. Keduanya merupakan bagian dari strategi konservasi yang lebih luas. Hal terpenting adalah bagaimana kita bersama-sama menyediakan 'rumah' yang aman dan layak bagi satwa liar," kata Murlan, Minggu (11/10/2026).

Murlan juga mengapresiasi masyarakat yang melaporkan keberadaan orang utan di wilayah terdampak kebakaran. Informasi warga membantu petugas melakukan evakuasi terhadap satwa yang terancam kehilangan habitat.

Sejumlah Orang Utan Masih Dirawat Intensif

Direktur Operasional YIARI, Argitoeranting mengungkapkan, tidak semua orang utan yang diselamatkan dapat langsung dilepasliarkan. Sebagian masih membutuhkan perawatan intensif di pusat rehabilitasi YIARI karena kondisi kesehatannya belum memungkinkan untuk kembali ke alam liar.

Sejumlah orang utan mengalami luka bakar, malnutrisi, anemia berat, hingga gangguan kesehatan lainnya. Mereka membutuhkan penanganan medis sebelum dinilai siap kembali ke habitat alami. Kondisi tersebut membuat upaya penyelamatan orang utan masih mendesak di tengah karhutla yang mengancam kawasan hutan di Kalbar.

"Kebakaran menyebabkan tutupan hutan rusak dan sumber pakan berkurang. Sebagian orang utan bahkan terjebak di perkebunan yang berbatasan dengan hutan setelah kehilangan ruang jelajah dan jalur menuju kawasan hutan yang lebih aman," jelas dia.

Karena itu, translokasi menjadi salah satu langkah untuk menyelamatkan orang utan yang habitat asalnya tidak lagi aman. Namun, upaya tersebut perlu dibarengi perlindungan hutan agar satwa tidak terus kehilangan tempat hidupnya.

Sementara itu, Kepala Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Ketapang Utara, Ya' Suharnoto mengatakan, pemilihan Hutan Lindung Batu Nyambu sebagai lokasi translokasi telah mempertimbangkan kajian sosial dan kesesuaian habitat. Dia berharap pengamanan kawasan melalui patroli rutin terus dilakukan untuk memastikan habitat orang utan tetap terlindungi.

"Penanaman pohon penghasil bunga dan buah sebagai sumber pakan orang utan perlu ditingkatkan untuk mendukung keberlangsungan hidup satwa di kawasan tersebut," ujarnya.

Hutan Lindung Batu Nyambu memiliki luas sekitar 23.000 hektare dengan tutupan hutan primer dan sekunder. Survei pada 2023 menunjukkan kawasan tersebut merupakan habitat alami orang utan dengan daya dukung ekologis yang dinilai memadai.



(des/des)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads