Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah memicu krisis ekologis serius bagi kelangsungan hidup orang utan. Dampak bencana ini meluas, mulai dari terancamnya habitat ratusan individu di Kotawaringin Barat (Kobar) hingga ancaman infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
Orang Utan Diterapi Nebulizer gegara ISPA
Paparan kabut asap pekat menyebabkan 47 orang utan di pusat rehabilitasi Yayasan Borneo Orangutan Survival (BOS) Nyaru Menteng, Kota Palangka Raya, mengalami gangguan pernapasan. Untuk menangani dampak kabut asap yang menembus area kandang, pengelola memasang sistem penyemprot air (sprinkler) dan memberikan terapi nebulizer.
Ketua Pengurus Yayasan BOS, Jamartin Sihite, memastikan seluruh satwa tertangani dengan baik meski situasi di lapangan cukup menantang.
"Di kandang, tempat kami yang sudah terkena ISPA ada 47 orang utan. Beberapa di antaranya sudah diberikan nebulizer, sehingga kondisi asap tidak terlalu berpengaruh. Kami berharap kondisi ini tidak berlangsung lama," kata Jamartin, Jumat (9/10/2026).
Habitat 180 Orang Utan di HKm Masoraian Terancam
Di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), karhutla mengancam kawasan Hutan Kemasyarakatan (HKm) Masoraian, Kecamatan Kotawaringin Lama, yang menjadi habitat bagi sekitar 180 orang utan. Kebakaran di area ini dikhawatirkan memusnahkan ruang berlindung sekaligus sumber pakan alami satwa.
Camat Kotawaringin Lama, Trias Agung Wibowo, mengajak seluruh pihak bergerak cepat melakukan pencegahan dini agar kerusakan ekosistem tidak meluas.
"Ini bukan hanya soal hutan yang terbakar. Di dalamnya ada kehidupan, ada satwa yang bergantung pada hutan sebagai tempat mencari makan dan berlindung. Kalau habitatnya rusak, mereka juga yang akan terdampak," kata Trias, Sabtu (3/10/2026).
Simak Video "Video: Begini Kondisi Orang Utan Sempurna Sebelum Meninggal Akibat Karhutla"
(bai/bai)