Beruang terluka parah yang diduga menjadi korban jerat di kawasan Jalan Tjilik Riwut Km 8, Gang Budi Mufakat, Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, belum berhasil ditemukan. Memasuki hari kedua pencarian, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Pos Sampit bersama sejumlah aktivis lingkungan kembali menyisir kawasan tempat satwa tersebut terakhir terlihat.
Pencarian dilakukan lebih luas dengan menyusuri kebun dan kawasan hutan di sekitar lokasi. Tim juga memeriksa sejumlah titik yang dinilai berpotensi menjadi tempat persembunyian beruang yang diperkirakan masih berusia remaja hingga dewasa tersebut.
Komandan BKSDA Pos Sampit, Muriansyah, mengatakan pencarian akan terus dilakukan karena kondisi beruang cukup memprihatinkan. Luka parah pada bagian kaki dikhawatirkan membuat satwa tersebut sulit bertahan hidup apabila tidak segera mendapat pertolongan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami masih tetap melakukan pencarian dibantu kawan-kawan aktivis lingkungan Sampit. Kalau luka yang dialami beruang seperti itu, lalu hidup di alam, menurut pendapat saya sulit sembuhnya karena bisa saja terkena infeksi. Makanya, kalau ketemu beruangnya mau diselamatkan," kata Muriansyah, Kamis (8/10/2026).
Pada pencarian hari kedua, tim tidak hanya mengandalkan penyisiran dari darat. Sejumlah sumber air dan parit di sekitar lokasi turut diperiksa karena diduga menjadi tempat beruang mencari minum.
Tim juga menyisir lokasi yang berpotensi menyediakan sumber makanan, termasuk kebun nanas milik warga. Aktivis lingkungan bergerak dari sisi kanan lokasi, sementara pencarian juga diperluas ke kawasan hutan di bagian lainnya.
"Untuk memperluas jangkauan pemantauan, tim turut mengerahkan satu unit drone. Namun, dari sejumlah titik yang telah diperiksa, keberadaan beruang tersebut belum juga ditemukan," katanya.
Sebelumnya, beruang itu dilaporkan muncul pada Selasa (6/10/2026). Dalam video yang beredar, terlihat satwa tersebut mengalami luka serius pada telapak kaki belakang kiri dan berusaha melepaskan diri dari tumpukan ranting serta kayu di Sungai Pangaringan.
BKSDA menduga kuat luka tersebut disebabkan jerat. Satwa itu diperkirakan terjerat kawat atau sling baja yang biasa digunakan untuk menangkap babi.
Muriansyah menduga beruang berusaha melepaskan diri dalam waktu cukup lama hingga mengalami cedera parah pada kaki belakangnya. Kondisi tersebut diduga menyebabkan bagian kaki akhirnya putus.
"Pencarian pertama dilakukan BKSDA bersama aktivis lingkungan dengan menyisir kawasan kebun kelapa sawit seluas sekitar dua hektare. Namun, hingga hari mulai gelap, satwa tersebut belum berhasil ditemukan," katanya.
Kemunculan beruang di kawasan tersebut ternyata bukan kali pertama. Warga menyebut satwa serupa beberapa kali terlihat di sekitar lokasi, bahkan sebelum musim kemarau. Beruang juga dilaporkan pernah mendatangi kebun nanas warga dan memakan tanaman tersebut.
Lokasi kemunculan satwa juga berada tidak jauh dari sejumlah titik kebakaran lahan. Kendati demikian, BKSDA belum memastikan adanya kaitan antara karhutla dengan keberadaan maupun kondisi luka beruang karena satwa tersebut belum ditemukan untuk diperiksa secara langsung.
