Karhutla di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) tak hanya mengancam vegetasi. Kobaran api juga menjadi ancaman serius bagi satwa liar yang menggantungkan hidupnya pada kawasan hutan.
Salah satu kawasan yang mendapat perhatian adalah Hutan Kemasyarakatan (HKm) Masoraian di Kecamatan Kotawaringin Lama. Kawasan tersebut diketahui menjadi habitat sekitar 180 individu orang utan.
Camat Kotawaringin Lama, Trias Agung Wibowo, mengatakan kondisi karhutla di kawasan hutan harus menjadi perhatian bersama. Menurutnya, ketika hutan terbakar, satwa kehilangan tempat mencari makan sekaligus ruang untuk berlindung.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini bukan hanya soal hutan yang terbakar. Di dalamnya ada kehidupan, ada satwa yang bergantung pada hutan sebagai tempat mencari makan dan berlindung. Kalau habitatnya rusak, mereka juga yang akan terdampak," kata Trias, Sabtu (3/10/2026).
Populasi orang utan di HKm Masoraian, lanjut Trias, menjadi alasan kuat agar pencegahan kebakaran dilakukan sedini mungkin. Api yang meluas dapat menghanguskan vegetasi dan sumber pakan yang dibutuhkan satwa untuk bertahan hidup.
Trias mengaku prihatin melihat ancaman kebakaran yang terjadi. Ia juga meminta seluruh pihak tidak menunggu api membesar sebelum melakukan penanganan.
"Ulun (saya) sangat prihatin dan sedih melihat kondisi seperti ini. Kami juga menyampaikan permohonan maaf apabila ada hal-hal yang belum maksimal dalam menjaga kawasan. Tetapi yang paling penting sekarang bagaimana kita bersama-sama mencegah agar kebakaran tidak semakin meluas," ujarnya.
Menurutnya, perlindungan HKm Masoraian bukan semata-mata menjadi tugas pemerintah. Masyarakat di sekitar kawasan juga memiliki peran penting dengan meningkatkan pengawasan serta segera melaporkan apabila menemukan titik api.
Trias menilai kawasan hutan tersebut harus dipandang sebagai sebuah ekosistem yang memiliki peran penting bagi manusia maupun satwa. Kerusakan hutan akibat kebakaran dapat menimbulkan dampak yang jauh lebih panjang dibandingkan waktu yang dibutuhkan untuk memadamkan api.
"Jangan sampai kita baru bergerak setelah semuanya terbakar. Pencegahan harus dilakukan sejak awal. Kalau hutan rusak, yang hilang bukan hanya pohon, tetapi juga habitat dan kehidupan satwa yang tidak bisa kita kembalikan dengan mudah," tegasnya.
Selain ancaman karhutla, tekanan terhadap kawasan hutan seperti deforestasi dan perubahan tutupan lahan juga perlu mendapat perhatian. Kondisi tersebut berpotensi semakin mempersempit ruang hidup satwa apabila tidak dikendalikan.
Trias mengajak masyarakat meningkatkan kewaspadaan selama kondisi rawan kebakaran. Setiap kemunculan api di sekitar kawasan hutan diharapkan segera dilaporkan agar dapat ditangani sebelum meluas.
"Harapan kami, hutan Masoraian tetap terjaga dan orang utan serta satwa lainnya tetap mempunyai rumah. Ini bukan hanya untuk hari ini, tetapi untuk generasi yang akan datang," pungkasnya.
