Mengenal Tenggiling, Satwa Dilindungi yang Ikut Terdampak Karhutla

Mengenal Tenggiling, Satwa Dilindungi yang Ikut Terdampak Karhutla

Anindyadevi Aurellia - detikKalimantan
Minggu, 13 Sep 2026 09:00 WIB
Trenggiling yang ditemukan di pekarangan rumah warga di Ponorogo.
Trenggiling. Foto: Charolin Pebrianti/detikJatim
Balikpapan -

Tenggiling yang dikenal sebagai salah satu mamalia unik dengan tubuh bersisik. Satwa ini dapat ditemukan di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk hutan Kalimantan.

Tenggiling memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem, dikenal sebagai pemakan semut dan rayap. Namun, keberadaan tenggiling di alam menghadapi berbagai ancaman.

Selain perburuan dan perdagangan ilegal, kerusakan serta hilangnya habitat akibat aktivitas manusia turut memengaruhi kelangsungan hidup satwa ini. Tenggiling menjadi salah satu satwa yang juga terdampak saat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda Kalimantan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mengenal Tenggiling

Tenggiling. (Kementerian Kehutanan)Tenggiling. (Kementerian Kehutanan)

Tenggiling atau kadang ditulis trenggiling (Manis javanica), adalah satwa penting bagi keseimbangan ekosistem Indonesia, terutama dalam kontrol populasi serangga dan pengawetan tanaman.

Terdapat delapan spesies tenggiling yang tersebar di seluruh dunia dan salah satunya ada di Indonesia, yakni Manis javanica. Nama tenggiling berasal dari Bahasa Melayu yakni mengguling atau guling yang berarti menggulung atau melingkar seperti bola, sesuai dengan ciri khasnya.

Adi Guzali, Duta Museum DIY 2022 dalam laman Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta, menulis bahwa tenggiling menggulung tubuhnya saat berada dalam kondisi terancam sebagai pertahanan menghindari ancaman. Disaat terancam, sisik yang dimiliki trenggiling akan digunakan sebagai senjata yang dikibaskan sebagai senjata bila dikibaskan ke arah lawan.

Ciri paling khas tenggiling adalah tubuhnya yang dilindungi oleh sisik besar berbahan keratin. Bahan tersebut serupa dengan material penyusun kuku tangan dan kaki, sehingga tenggiling menjadi satu-satunya mamalia yang diketahui memiliki karakteristik berupa sisik keratin tersebut.

Susunan sisik keratin membentuk cangkang dengan berat 20 persen dari seluruh bobot tubuhnya. Selain itu, ia akan menyemprotkan cairan berbau busuk dari kelenjar analnya untuk mengusir predator yang mengganggunya.

Tenggiling merupakan mamalia pemakan serangga terutama semut dan rayap. Makanan utamanya berupa semut dan rayap yang ditangkap menggunakan lidahnya yang panjang, mencapai maksimal 25 cm.

Satwa ini hidup di hutan tropis dataran rendah, dan satu individu trenggiling dapat memakan lebih dari 70 juta rayap atupun semut setiap harinya.

Fakta menarik trenggiling adalah tidak menghancurkan makanannya di dalam mulut, hal ini dilakukan sebab trenggiling tidak memiliki gigi. Namun, makanannya akan tergiling dengan bantuan kerikil yang tertelan di dalam lambung trenggiling.

Ukuran tubuh tenggiling beragam, mulai dari 30 cm hingga 100 cm. Bergantung pada spesiesnya, tenggiling dapat hidup di lubang pohon maupun liang.

Tenggiling merupakan hewan yang aktif pada malam hari atau bersifat nokturnal. Satwa ini umumnya hidup menyendiri dan hanya bertemu dengan individu lain untuk berkembang biak.

Baca selanjutnya.. tenggiling termasuk hewan dilindungi atau bukan?

Tenggiling Termasuk Hewan Dilindungi

Trenggiling hidup dan sisiknya yang diamankan dari pengepul jaringan Semarang. Diunggah Kamis (23/7/2026).Trenggiling. Foto: Dok. Kementerian Kehutanan

Sejumlah spesies tenggiling diketahui telah mengalami kepunahan. Keberadaannya di alam liar yang semakin sedikit menjadikan perburuan tenggiling dianggap sebagai kegiatan ilegal.

Jenis tenggiling Sunda yang ada di Indonesia, saat ini tercatat sebagai hewan berstatus kritis (CR) dan masuk dalam Daftar Merah Uni Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN). Status ini bahkan sudah disematkan sejak tahun 2017.

Di Indonesia, tenggiling adalah satwa yang dilindungi. Berdasarkan UU Nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, tenggiling merupakan satwa dilindungi dan tidak boleh diperjualbelikan.

Meskipun peraturan yang ada sudah jelas menyatakan bahwa trenggiling adalah satwa yang dilindungi, namun perburuan dan perdagangan illegal masih marak terjadi. Dilansir dari laman resmi Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), kasus perburuan dan penjualan tenggiling secara ilegal semakin meningkat dengan jumlah perburuan yang semakin besar.

Banyak orang memburu tenggiling untuk mengambil bagian daging dan sisiknya. Daging tenggiling kerap diolah dan disajikan sebagai hidangan mewah. Lain lagi dengan bagian sisiknya yang kerap diolah sebagai obat tradisional hingga kosmetik.

Banyak orang percaya bahwa sisik tenggiling ini mampu meningkatkan kesehatan tubuh, dipercaya mengandung zat aktif Tramadol HCl yang merupakan analgesik untuk mengatasi nyeri, serta merupakan partikel pengikat zat pada psikotropika atau obat terlarang.

Banyaknya orang yang memburu tenggiling menjadikan U.S. Fish and Wildlife Service melakukan penelitian terhadap kemotipe sisik tenggiling pada 2019 lalu. Penelitian ini melibatkan 104 individu tenggiling yang mewakili semua spesies.

Hasil penelitian mereka menunjukkan bahwa tak satu pun dari spesimen menunjukkan keberadaan tramadol. Berita ataupun anggapan bahwa sisik pangolin mengandung analgesik tramadol telah dipatahkan oleh hasil penelitian ini. Artinya khasiat sisik tenggiling hanyalah mitos belaka.

Namun di lain sisi, nasib tenggiling semakin mengkhawatirkan ketika kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda Kalimantan, salah satu habitatnya. Kobaran api dan asap tidak hanya menghancurkan kawasan hutan yang menjadi tempat berlindung dan mencari makan, tetapi juga dapat membuat satwa yang bergerak relatif lambat ini kesulitan menyelamatkan diri.

Tak terhitung tenggiling yang ditemukan terluka bahkan hangus terbakar akibat karhutla. Kondisi tersebut menambah panjang daftar tekanan yang dihadapi tenggiling, di tengah ancaman lain seperti perburuan dan perdagangan ilegal.

Halaman 2 dari 2
(aau/aau)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads