Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sudah menjadi bencana tahunan saat kemarau di Kalimantan. Yang menjadi masalah, kebakaran ini tidak dipadamkan dan menimbulkan kabut asap yang mengganggu aktivitas masyarakat.
Penyebab kebakaran sulit dipadamkan adalah karena lahan di Kalimantan kebanyakan berupa lahan gambut. Lantas kenapa lahan gambut susah ditangani saat kebakaran? Simak penjelasan berikut ini.
Pengertian Tanah Gambut
Merujuk pada buku Explore Geografi Jilid 1, tanah gambut tercipta dari tumpukan sisa bahan organik yang gagal membusuk sempurna selama ribuan tahun. Proses penumpukan serasah nabati tersebut lazimnya berlangsung di daerah rawa tergenang dengan tingkat oksigen yang amat minim.
Ekosistem lahan basah ini tersebar sangat luas di Indonesia, mencakup wilayah Riau, Jambi, Sumatera Selatan, hingga Papua bagian Selatan. Bentang alam gambut tersebut juga tercatat sangat mendominasi wilayah daratan di Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, serta Kalimantan Selatan.
Mengapa Mudah Terbakar dan Sulit Dipadamkan?
Sebelum menjawab pertanyaan mengapa lahan gambut bisa terbakar dan sulit dipadamkan, kita juga perlu memahami bagaimana prinsip munculnya api terlebih dahulu.
Secara prinsip ilmiah, kobaran api hanya akan terbentuk apabila tiga elemen dasar dalam 'segitiga api' hadir secara bersamaan. Ketiga unsur pemicu tersebut mencakup adanya sumber panas, ketersediaan oksigen (O2), serta keberadaan material bahan bakar.
Menurut informasi dari situs Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM), hamparan gambut sejatinya terdiri atas tumpukan sisa tumbuhan yang hanya setengah membusuk. Hal tersebut membuat kandungan material organik di dalamnya terlampau tinggi hingga bisa menumpuk sampai kedalaman empat meter.
Tumpukan material organik kering di area tersebut secara otomatis bertindak sebagai suplai bahan bakar yang sangat melimpah. Banyaknya bahan organik yang berpadu dengan pasokan oksigen bebas ini memicu kawasan gambut menjadi sangat rentan tersulut api.
Saat titik api mulai menyebar di lahan gambut, upaya pemadamannya akan langsung berubah menjadi tantangan yang teramat pelik. Berbeda dengan kebakaran biasa, api di tanah gambut mampu merambat ke lapisan bawah dan membakar sisa material secara tersembunyi.
Rambatan api bawah tanah tersebut sangat sulit dideteksi dan bisa mendadak memunculkan titik kebakaran baru di area lain. Alhasil, bara api sering kali tetap menyala diam-diam di kedalaman tanah meskipun jilatan api di permukaan tampaknya sudah berhasil dipadamkan.
(bai/bai)