Mengapa Kebakaran Lahan di Kalimantan Sulit Dipadamkan?

Mengapa Kebakaran Lahan di Kalimantan Sulit Dipadamkan?

Tim detikKalimantan - detikKalimantan
Kamis, 27 Agu 2026 11:28 WIB
Personel Yonif TP 882/Hulubalang melakukan pembasahan untuk mencegah api kembali menyala di lokasi kebakaran lahan gambut di Desa Arang Limbung, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, Minggu (23/8/2026). BNPB mencatat luas lahan di Kalimantan Barat yang terbakar akibat kebakaran hutan dan lahan sejak Januari hingga Agustus 2026 mencapai 38.310,89 hektare, yang berpotensi menimbulkan bencana asap di sejumlah kabupaten/kota di provinsi setempat. ANTARA FOTO/Jessica Wuysang/wsj.
Karhutla Kalbar. Foto: ANTARA FOTO/Jessica Wuysang
Balikpapan -

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sudah menjadi bencana tahunan saat kemarau di Kalimantan. Yang menjadi masalah, kebakaran ini tidak dipadamkan dan menimbulkan kabut asap yang mengganggu aktivitas masyarakat.

Penyebab kebakaran sulit dipadamkan adalah karena lahan di Kalimantan kebanyakan berupa lahan gambut. Lantas kenapa lahan gambut susah ditangani saat kebakaran? Simak penjelasan berikut ini.

Pengertian Tanah Gambut

Merujuk pada buku Explore Geografi Jilid 1, tanah gambut tercipta dari tumpukan sisa bahan organik yang gagal membusuk sempurna selama ribuan tahun. Proses penumpukan serasah nabati tersebut lazimnya berlangsung di daerah rawa tergenang dengan tingkat oksigen yang amat minim.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ekosistem lahan basah ini tersebar sangat luas di Indonesia, mencakup wilayah Riau, Jambi, Sumatera Selatan, hingga Papua bagian Selatan. Bentang alam gambut tersebut juga tercatat sangat mendominasi wilayah daratan di Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, serta Kalimantan Selatan.

Mengapa Mudah Terbakar dan Sulit Dipadamkan?

Sebelum menjawab pertanyaan mengapa lahan gambut bisa terbakar dan sulit dipadamkan, kita juga perlu memahami bagaimana prinsip munculnya api terlebih dahulu.

Secara prinsip ilmiah, kobaran api hanya akan terbentuk apabila tiga elemen dasar dalam 'segitiga api' hadir secara bersamaan. Ketiga unsur pemicu tersebut mencakup adanya sumber panas, ketersediaan oksigen (O2), serta keberadaan material bahan bakar.

Menurut informasi dari situs Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM), hamparan gambut sejatinya terdiri atas tumpukan sisa tumbuhan yang hanya setengah membusuk. Hal tersebut membuat kandungan material organik di dalamnya terlampau tinggi hingga bisa menumpuk sampai kedalaman empat meter.

Tumpukan material organik kering di area tersebut secara otomatis bertindak sebagai suplai bahan bakar yang sangat melimpah. Banyaknya bahan organik yang berpadu dengan pasokan oksigen bebas ini memicu kawasan gambut menjadi sangat rentan tersulut api.

Saat titik api mulai menyebar di lahan gambut, upaya pemadamannya akan langsung berubah menjadi tantangan yang teramat pelik. Berbeda dengan kebakaran biasa, api di tanah gambut mampu merambat ke lapisan bawah dan membakar sisa material secara tersembunyi.

Rambatan api bawah tanah tersebut sangat sulit dideteksi dan bisa mendadak memunculkan titik kebakaran baru di area lain. Alhasil, bara api sering kali tetap menyala diam-diam di kedalaman tanah meskipun jilatan api di permukaan tampaknya sudah berhasil dipadamkan.

Penyebab Kebakaran Lahan Gambut

Mengutip penelitian bertajuk Penyebab Kebakaran Hutan Dan Lahan Gambut Di Kabupaten Barito Kuala Provinsi Kalimantan Selatan oleh Rosalina Kumalawati dkk dari FKIP ULM, karhutla gambut dipicu oleh dua kelompok faktor. Kedua pemicu yang mendasari rentetan bencana tersebut dibagi menjadi faktor manusia dan faktor alam.

1. Faktor Manusia

Sebagian besar bencana kebakaran hutan dan lahan sejatinya bersumber dari campur tangan aktivitas manusia. Tindakan perusakan ini bisa terjadi akibat sebuah kesengajaan maupun murni karena kelalaian semata.

Pembukaan Lahan

Praktik pembukaan lahan oleh masyarakat maupun pengelola Hutan Tanaman Industri (HTI) sering kali memanfaatkan nyala api secara langsung. Metode ini terus menjadi pilihan karena dinilai jauh lebih murah, cepat, dan hemat tenaga dibandingkan cara lainnya.

Pembalakan Liar (Illegal Logging)

Selain itu, aktivitas pembalakan liar (illegal logging) kerap meninggalkan tumpukan limbah dahan dan ranting di tengah kawasan hutan. Ketika musim kemarau tiba, sisa-sisa kayu yang mengering tersebut berubah menjadi pemicu kebakaran yang sangat berbahaya.

Kebutuhan Hijauan Makanan Ternak (HMT)

Faktor berikutnya berkaitan erat dengan upaya masyarakat dalam memenuhi kebutuhan Hijauan Makanan Ternak (HMT). Mereka sengaja membakar padang rumput usang agar tunas rumput baru dengan nutrisi yang lebih baik dapat segera tumbuh.

Perambahan Hutan

Tingginya tuntutan kebutuhan hidup juga mendorong banyak penduduk untuk melakukan perambahan masif ke dalam kawasan hutan. Di sana mereka membuka luasan lahan garapan baru yang sering kali diiringi dengan praktik pembakaran.

Kelalaian

Tidak jarang pula kebakaran hebat berawal dari ketidaksengajaan atau kelalaian seperti membuang puntung rokok sembarangan saat beraktivitas di hutan. Kecerobohan lain saat membakar tumpukan sampah atau kelalaian ketika mencari kayu bakar juga turut menyumbang persentase kebakaran.

Faktor Lain

Kondisi ini semakin diperparah oleh rendahnya pendapatan masyarakat dan lemahnya penegakan hukum bagi perusahaan yang melanggar. Kurangnya fasilitas penanggulangan bencana dan minimnya kapasitas aparatur pemerintah dalam memberikan penyuluhan juga memperburuk keadaan tersebut.

2. Faktor Alam

Kondisi alam yang terlampau ekstrem juga kerap mengambil peran besar dalam memicu dan memperparah terjadinya kebakaran. Ada beragam fenomena alami yang secara langsung sanggup meningkatkan risiko kemunculan titik api di wilayah bergambut.

Penyimpangan Iklim

Penyimpangan iklim seperti fenomena El Nino terbukti mampu menciptakan cuaca ekstrem berupa musim kemarau yang sangat panjang. Suhu udara panas yang menyengat akibat osilasi atmosfer ini berpotensi meningkatkan kerentanan lahan terhadap percikan api.

Kondisi Bahan Bakar Alami

Ketersediaan alang-alang dan semak belukar yang mengering turut memicu melimpahnya pasokan bahan bakar alami. Suhu lingkungan yang teramat tinggi lantas mempercepat pengeringan tanaman tersebut sehingga areanya makin mudah tersulut.

Karakteristik Fisik Lahan Gambut

Secara karakteristik fisik, minimnya curah hujan membuat lahan gambut kehilangan banyak kadar air sehingga kondisinya berubah sangat kering. Tingkat penyusutan muka air serta laju dekomposisi materialnya juga ikut memengaruhi tingkat kerentanan gambut terhadap kobaran api.

Kebakaran Bawah Tanah (Ground Fire)

Fenomena kebakaran bawah tanah (ground fire) pada lahan gambut yang terdegradasi sering menjadi ancaman senyap yang merusak. Rambatan panas di bawah permukaan ini secara mengejutkan dapat memantik kobaran api baru di bagian atasnya.

Sambaran Petir

Terakhir, sambaran petir di musim kemarau juga telah lama diidentifikasi sebagai salah satu pemicu kebakaran akibat faktor alam. Meskipun persentasenya tidak mendominasi, faktor alamiah yang satu ini tetap patut diwaspadai kehadirannya.

Dengan mengetahui hal-hal di atas, maka diperlukan kesadaran dan sinergi bersama seluruh pihak, dari pemerintah, perusahaan, dan seluruh lapisan masyarakat. Karhutla bukan sekadar masalah pemadaman, melainkan pencegahan melalui edukasi hingga regulasi.

Halaman 2 dari 3
(bai/bai)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads