Induk dan 2 Anak Orang Utan Terjebak Akibat Karhutla di Ketapang

Ocsya Ade CP - detikKalimantan
Selasa, 25 Agu 2026 11:48 WIB
Penyelamatan tiga orang utan dari lokasi karhutla di Ketapang/Foto: Istimewa (dok YIARI)
Ketapang -

Karhutla membuat tiga orang utan terjebak di kawasan perkebunan warga di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Induk dan dua anak orang utan itu akhirnya dievakuasi setelah jalur pergerakan mereka menuju hutan terputus akibat kebakaran.

Ketua Umum YIARI Silverius Oscar Unggul mengatakan ketiga orang utan tersebut terdiri dari induk betina dan dua anak, masing-masing seekor bayi dan seekor remaja. Mereka kemudian diberi nama Mama Yuni, Yuni, dan Pura.

Evakuasi dilakukan tim gabungan BKSDA Kalimantan Barat Seksi Konservasi Wilayah I Ketapang, Balai Taman Nasional Gunung Palung (TANAGUPA), YIARI, serta masyarakat di Desa Tanjungpura, Kecamatan Muara Pawan, Ketapang.

"Tim melakukan evakuasi setelah hasil pemantauan menunjukkan ketiga orang utan berada dalam kondisi terancam. Selain mendekati permukiman warga, masih terdapat titik api di sekitar lokasi," kata Silverius dalam keterangannya, Selasa (25/8/2026).

Ia melanjutkan tiga orang utan tersebut sebenarnya telah terpantau berada di kawasan perkebunan masyarakat sejak awal 2026. Tim Orang utan Protection Unit (OPU) YIARI selama ini memantau keberadaan satwa liar yang berpotensi berinteraksi dengan masyarakat di sejumlah wilayah Ketapang dan Kayong Utara.

"Meski habitat di sekitar Tanjungpura telah terfragmentasi akibat perkebunan, orang utan masih dapat bertahan di sisa-sisa hutan," jelasnya.

Situasi berubah setelah kebakaran besar terjadi pada Juli dan Agustus 2026. Fragmen hutan yang menjadi jalur pergerakan orangutan hangus terbakar. Sumber pakan ikut hilang dan konektivitas menuju kawasan hutan terputus.

"Akibatnya, tiga orang utan tersebut terjebak di perkebunan yang berbatasan langsung dengan permukiman warga," kata Silverius.

Menurutnya, kejadian tersebut menunjukkan dampak karhutla terhadap satwa liar tidak berhenti pada saat api padam. "Ketika hutan terbakar dan koridor pergerakan terputus, orang utan kehilangan ruang untuk mencari makan, berlindung, dan berpindah. Pada akhirnya, mereka terdorong masuk ke kebun dan semakin dekat dengan permukiman manusia," kata Silverius.

Menurutnya lagi, kondisi tersebut sekaligus meningkatkan potensi konflik antara orang utan dan masyarakat. "Kalau kita hanya menyelamatkan orang utan ketika mereka sudah terjebak di kebun, kita sebenarnya sedang menangani akibat, bukan akar persoalan," tegasnya.



Simak Video "Video Situasi Karhutla Terkini: Titik Api di Kalimantan Naik, Sumatera Turun"


(sun/aau)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork