Badak Kalimantan merupakan salah satu satwa paling langka di Indonesia yang kini berada di ambang kepunahan. Mamalia bercula ini menjadi bagian penting dari kekayaan hayati Pulau Kalimantan, tetapi populasinya terus mengalami penurunan akibat berbagai ancaman hilangnya habitat, perburuan, dan rendahnya jumlah individu yang tersisa di alam liar.
Keberadaan badak Kalimantan sempat dianggap telah punah selama beberapa dekade. Namun, penemuan jejak dan rekaman kamera jebak pada 2013 membuktikan bahwa satwa langka ini masih bertahan di beberapa kawasan hutan Kalimantan.
Meski demikian, kabar tersebut tidak serta-merta menjadi jaminan bahwa populasinya aman. Justru sebaliknya, jumlah individu yang sangat sedikit membuat spesies ini menghadapi risiko kepunahan yang semakin besar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mengenal Badak Kalimantan
Badak kalimantan. Foto: dok BKSDA Kaltim (leuserconservation.org) |
Badak Kalimantan atau The Bornean Rhinoceros (Dicerorhinus sumatrensis harrissoni) dikenal sebagai badak berukuran paling kecil di dunia. Secara genetik, badak Kalimantan masih satu spesies dengan badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) yang ada di Pulau Sumatera.
Dikutip dari laman Diskominfo Kaltim, ada perbedaan mendasar antara badak kalimantan dan badak sumatera. Yakni terlihat pada ukuran tubuh.
Badak kalimantan hanya mempunyai bobot sekitar setengah dari bobot badak sumatera, yaitu sekitar 350 hingga 370 kilogram (kg). Bobot tubuh badak sumatera bisa mencapai berat 600 hingga 700 kg.
Ciri-ciri spesifik badak kalimantan adalah bercula dua, berambut dilipatan kulit panggal paha, pinggang, pangkal kaki depan dan bahu.
Potret Pari, Satu dari Dua Badak Kalimantan yang Tersisa Foto: Istimewa (dok BKSDA Kaltim) |
Badak Kalimantan dan Sumatra jadi satu-satunya badak Asia yang memiliki dua cula. Dikutip detikEdu dari laman Yayasan Badak Indonesia (Yabi), cula depan badak Sumatra berukuran sekitar 20-80 cm. Sedangkan cula belakangnya relatif pendek, sekitar kurang dari 10 cm.
Cula badak terbuat dari keratin, yaitu protein yang juga membentuk kuku dan rambut manusia. Karena tidak berisi saraf, cula badak dapat dipotong secara berkala dan tumbuh kembali tanpa membuat badak kesakitan.
Badak berambut ini merupakan kerabat terdekat badak woolly yang sudah punah. Badak Kalimantan pun mulanya dikira punah, namun keberadaan badak di Pulau Kalimantan kembali terdeteksi pada awal tahun 2013.
Badak kalimantan masuk ke dalam daftar merah International Union For Conservation of Nature (IUCN). Atau termasuk satwa langka yang harus dilindungi. Pemerintah Indonesia bersama mitra terkait, hingga saat ini masih terus melakukan pendataan populasi badak di Pulau Kalimantan.
Badak Kalimantan Belum Punah
Badak Kalimantan. (Laman Kementerian Kehutanan) |
Badak Borneo merupakan salah satu varian dari spesies Badak Sumatra yang kini berada dalam kondisi sangat kritis akibat penurunan populasi yang terjadi secara drastis. Dalam waktu yang cukup lama, spesies ini dipercaya telah lenyap karena kerusakan dan penyusutan hutan secara besar-besaran di Kalimantan.
Selama beberapa dekade sebelumnya, spesies ini diyakini telah menghilang dari alam liar dan hanya tersisa dalam cerita rakyat masyarakat Dayak. Jejak badak diketahui masih terdeteksi di tanah Borneo sekitar awal 1980-an, hingga tahun 1983 badak di Taman Nasional Kutai itu sempat dinyatakan punah.
Dalam buku Profil Investasi Kabupaten Mahakam Ulu 2025, disebut keberadaan badak di Kalimantan terdeteksi pada tahun 2002 dan 2007. Diketahui badak tersebut adalah satu dari tiga subspesies badak Sumatera.
Pada akhir 2013 hingga awal 2014, keberadaan badak berhasil dibuktikan lewat rekaman kamera jebak. Hal itu dibuktikan melalui survei bersama yang dilakukan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Pemerintah Kabupaten Kutai Barat dan Mahakam Ulu, Universitas Mulawarman (Unmul), Yayasan Badak Indonesia (YABI), serta WWF Indonesia.
Pada 24 April 2016, dokumentasi yang mengejutkan kembali diperoleh oleh cameraman WWF Malaysia, Stephen Hogg, berhasil kembali mengabadikan gambar Badak Borneo atau Badak Kalimantan. Keberadaan Badak Kalimantan tersebut diketahui banyak ditemukan di wilayah Kabupaten Kutai Barat.
Menyelamatkan Populasi Badak Kalimantan yang Terancam
Potret Pari, Satu dari Dua Badak Kalimantan yang Tersisa Foto: Istimewa (dok BKSDA Kaltim) |
Meski jejaknya kembali ditemukan, populasi badak Kalimantan masih mengkhawatirkan. Saat ini badak di Kalimantan Timur dalam kondisi yang tidak cukup aman, ancaman kegiatan manusia di dalam dan sekitar habitat badak semakin meningkat.
Jumlahnya terancam disebabkan oleh kerusakan habitat yang besar, jumlah yang kecil dalam satu lokasi, dan fragmentasi habitat yang menyulitkan badak bertemu satu dengan lainnya untuk berkembang biak. Di samping itu, angka kelahiran yang rendah, kelainan reproduksi, dan perburuan atau poaching juga menambah deretan faktor kepunahan mamalia ini.
Upaya penyelamatan Badak Kalimantan kini masuk fase paling kritis setelah hanya tersisa satu individu betina di alam liar yang masih terpantau. Saat ini populasi badak kalimantan hanya menyisakan dua individu betina, Pahu dan Pari, masing-masing satu berada di Suaka Badak Kelian dan satu lagi masih hidup di alam liar di Mahakam Ulu.
Program Bayi Tabung-Translokasi
Kementerian Kehutanan (Kemenhut) bersama pihak-pihak terkait pun melakukan berbagai upaya agar badan Kalimantan tidak benar-benar punah. Salah satu cara yang tengah disiapkan yakni program bayi tabung.
Kabusdit Pengawetan Spesies dan Genetik dari Direktorat Konservasi Spesies dan Generik Kemenhut Budi Mulyanto mengatakan untuk mencegah kepunahan badan Kalimantan, para ahli berencana menerapkan teknologi reproduksi berbantuan atau program bayi tabung.
Cara ini khususnya akan diterapkan kepada Pari yang usianya relatif masih muda dan sehat. Pari akan memperoleh perawatan intensif di Suaka Badan Kelian, Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur.
Pada program bayi tabung, sel telur badak Kalimantan betina ini akan diambil, disimpan, dan dikembangkan. Meskipun saat ini tidak ada badak pejantan, sel telur badak betina yang tersisa diharapkan bisa menghasilkan keturunan baru.
Selain itu, seluruh pihak mempercepat skema translokasi sebagai langkah darurat untuk menyelamatkan spesies dari kepunahan. Rencana translokasi tidak hanya bertujuan memindahkan satwa, tetapi juga menyelamatkan material genetik terakhir badak kalimantan agar dapat dimanfaatkan untuk program pengembangbiakan modern.
Direktur Aliansi Lestari Rimba Terpadu (Alert) Kurnia Oktavia Khairani menjelaskan bahwa saat ini tim teknis sedang melakukan berbagai persiapan mulai dari fasilitas hingga operasional lapangan untuk mendukung translokasi. Ia menyebut pembangunan kandang karantina dan paddock menjadi prioritas utama sebelum proses pemindahan dilakukan.
"Jadi saat ini kami sedang membangun boma atau kandang karantina yang akan digunakan setelah Badak Pari ditranslokasikan dari Mahulu. Nantinya dia akan berada di kandang itu selama kurang lebih tiga bulan untuk adaptasi, dan setelah itu masuk ke paddock yang sudah kami siapkan di Suaka Badak Kelian," ujar Kurnia.
Proses translokasi akan menggunakan jalur udara dengan helikopter khusus yang saat ini sedang dalam tahap persiapan teknis dan administrasi. Seluruh proses juga dikawal ketat karena merupakan operasi konservasi berskala besar dengan tingkat risiko tinggi.
"Kami sedang menyiapkan helikopter yang sesuai spesifikasi dan seluruh persyaratan administrasi karena ini operasi yang akuntabilitasnya sangat dijaga. Pemilihan vendor juga dilakukan secara ketat, dan semua kebutuhan operasional termasuk alat penangkapan sudah dipersiapkan," katanya.
Kurnia menjelaskan bahwa tim survei masih terus memantau pergerakan Badak Pari di alam liar untuk memastikan lokasi dan jalur yang akan digunakan dalam proses penangkapan. Ia menegaskan bahwa semua tahap harus dipastikan matang sebelum eksekusi dilakukan.
(aau/sun)




