Pelepasliaran Bagus, Eboni, dan Ruby di Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat, Kabupaten Kutai Timur (Kutim), Kalimantan Timur (Kaltim) bukanlah akhir dari sebuah perjalanan. Sebaliknya, momen itu menjadi penutup dari perjuangan panjang tiga orang utan yang bertahun-tahun belajar menjadi liar kembali setelah hidup bersama manusia.
Manager Pusat Rehabilitasi Orangutan Centre for Orangutan Protection (COP), Widi Nursanti mengatakan ketiganya kehilangan banyak naluri alami akibat terlalu lama dipelihara manusia dan terpisah dari induknya. Kondisi itu membuat mereka harus menjalani rehabilitasi bertahap sebelum benar-benar dinyatakan siap kembali ke habitatnya.
"Karena terlalu lama hidup di lingkungan manusia, mereka kehilangan insting dan perilaku liar alaminya. Mereka tidak memiliki kemampuan dasar untuk bertahan hidup di hutan, seperti memanjat pohon, mencari sumber pakan alami, dan membuat sarang untuk tidur," kata Widi, Minggu (28/6/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perjalanan Bagus
Perjalanan panjang itu diawali dari kisah penyelamatan Bagus pada awal September 2020. Saat itu, tim Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kaltim bersama COP mengevakuasi Bagus yang dipelihara secara ilegal oleh seorang warga di Desa Merabu, Kabupaten Berau.
"Proses penyelamatannya memang cukup alot karena pemilik menolak menyerahkan Bagus. Setelah melalui negosiasi yang panjang, akhirnya Bagus berhasil dievakuasi ke pusat rehabilitasi," ujarnya.
Sampai di Bornean Orangutan Rescue Alliance (BORA), Bagus tidak langsung dipersiapkan untuk dilepasliarkan. Selama hampir enam tahun, ia menjalani rehabilitasi secara bertahap untuk mengembalikan kemampuan yang seharusnya dimiliki seekor orang utan liar.
Perjalanan Eboni
Perjalanan Eboni/ Foto: Istimewa (dok BKSDA Kaltim) |
Berbeda dengan Bagus, kisah Eboni bermula dari sebuah ladang karet di Desa Long Beliu, Berau. Orang utan betina itu ditemukan warga berada di sekitar perkebunan sebelum akhirnya dipelihara di dalam kandang kayu yang berada di dekat ladang.
"Eboni kami evakuasi pada April 2022. Saat itu kondisinya masih sangat liar, memiliki insting melindungi diri yang tinggi, dan menunjukkan respons agresif saat proses penyelamatan," terang Widi.
Setelah diamankan, Eboni menjalani masa karantina bersama tim medis BORA. Hasil pemeriksaan itu justru menemukan fakta yang mengejutkan.
"Saat pemeriksaan kesehatan, kami menemukan peluru senapan api di tubuh Eboni. Tim medis kemudian melakukan tindakan untuk mengeluarkan peluru tersebut sebelum proses rehabilitasi dilanjutkan," ungkapnya.
Meski sempat mengalami luka akibat peluru, perkembangan Eboni selama menjalani rehabilitasi justru terbilang sangat baik. Orang utan betina itu mampu mengejar ketertinggalan dan beradaptasi hanya sekitar tiga tahun mengikuti sekolah hutan.
"Yang menarik, Eboni sangat cepat beradaptasi dengan teman-temannya. Walaupun datang dengan luka akibat peluru, dia mampu menyusul ketertinggalan pembelajaran mandiri dari teman-teman seangkatannya," katanya.
Perjalanan Ruby
Perjalanan Ruby/ Foto: Istimewa (dok BKSDA Kaltim) |
Sementara itu, Ruby menjadi orang utan dengan usia paling tua dalam pelepasliaran kali ini. Sebelum dievakuasi, ia menghabiskan waktu bertahun-tahun hidup sebagai satwa peliharaan warga di Desa Sekurau Atas, Kutai Timur.
"Ruby dipelihara masyarakat selama kurang lebih tujuh tahun. Selama itu pula dia dirantai dan ditautkan pada sebuah balok kayu sebelum akhirnya berhasil kami evakuasi," bebernya.
Awal 2024 menjadi titik balik kehidupan Ruby. Setibanya di pusat rehabilitasi, Ruby mengikuti tahapan yang sama seperti orang utan lainnya. Selama berada di pusat rehabilitasi BORA, ketiga orang utan tidak hanya menjalani perawatan. Direktur COP, Daniek Hendarto menjelaskan selama kurang lebih tiga bulan, Bagus, Eboni, dan Ruby ditempatkan di zona khusus untuk menjalani pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh.
"Setibanya di BORA, mereka masuk ke zona karantina sekitar tiga bulan. Dalam periode itu dilakukan medical check up lengkap, mulai dari pemeriksaan hematologi darah hingga pengujian berbagai penyakit menular," katanya.
Catatan positif juga terlihat dari kondisi fisik ketiga orang utan. Selama berada di pulau pra-pelepasliaran, berat badan Bagus, Eboni, dan Ruby meningkat rata-rata sekitar empat hingga lima kilogram per individu.
"Berat badan mereka naik sekitar empat sampai lima kilogram. Itu menunjukkan mereka sudah terampil mencari makan secara mandiri dan mampu memanfaatkan sumber pakan alami yang ada," katanya.
Dengan hasil pemeriksaan kesehatan yang baik serta kemampuan bertahan hidup yang terus meningkat, ketiga orang utan akhirnya dinyatakan layak kembali ke habitat alaminya.
Perjalanan menuju Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat dimulai pada 23 Juni 2026. Bagus yang sebelumnya berada di Pulau Pra-Pelepasliaran Bawan, Desa Merasa, Berau, lebih dulu diberangkatkan bersama tim BKSDA Kalimantan Timur melalui Seksi Konservasi Wilayah I Berau.
Perjalanan menuju lokasi pelepasliaran tidak singkat. Tim harus menempuh sekitar delapan jam melalui jalur darat, kemudian melanjutkan perjalanan selama tiga jam menggunakan jalur sungai.
Sementara itu, Eboni dan Ruby diberangkatkan dari Pulau Pra-Pelepasliaran Hagar dan Lambeng yang berada tidak jauh dari kawasan Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat. Proses pemindahan dikawal tim Seksi Konservasi Wilayah II Tenggarong, KPHP Kelinjau, serta tim medis COP.
"Tanggal 24 Juni 2026 menjadi hari ketika ketiganya benar-benar kembali ke rumahnya. Pelepasliaran dilakukan secara bertahap di tiga titik berbeda, dimulai dari Bagus, kemudian Eboni, dan terakhir Ruby," tutur Daniek.
Sesaat setelah pintu kandang transport dibuka, ketiganya langsung memanjat pohon dengan ketinggian lebih dari lima meter. Tanpa ragu, mereka mulai menjelajahi kawasan hutan yang kini kembali menjadi rumahnya.
"Setiap orang utan dipantau oleh dua orang staf mulai sebelum fajar hingga mereka membuat sarang pada sore hari. Monitoring dilakukan sekitar tiga bulan untuk memastikan mereka benar-benar mampu bertahan hidup secara mandiri di habitat alaminya," pungkasnya.
Hingga beberapa hari pertama pemantauan, Bagus, Eboni, dan Ruby masih terpantau berada di sekitar titik pelepasliaran. Menjelang malam, ketiganya juga telah mampu membuat sarang sendiri di pepohonan yang tidak jauh dari lokasi pertama mereka kembali menginjak hutan sebagai orang utan liar.
(sun/des)


