Warga Desa Podorukun, Kecamatan Seponti, Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat (Kalbar) melaporkan adanya seekor orang utan yang diduga mengalami luka parah di bagian kaki hendak memasukan permukiman. Diduga orang utan tersebut terkena jeratan.
Direktur Operasional Program YIARI, Argitoe Ranting mengatakan telah melakukan pengamatan visual terhadap video yang beredar. Argitoe menyebut orang utan tersebut mengalami luka serius di bagian kaki kiri dan sudah menganga hingga memperlihatkan bagian tulang.
"Itu ada luka yang sudah menganga dan sudah terlihat tulang," ungkapnya, Jumat (29/5/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Warga sempat menduga luka tersebut disebabkan serangan buaya, karena lokasi kemunculan orang utan berada dekat aliran sungai. Namun YIARI memiliki dugaan berbeda.
"Kalau menurut saya itu bukan disambar buaya. Itu pasti kena jerat, entah jerat babi ataupun jerat rusa, karena pengalaman kita biasanya seperti itu," jelas Argitoe.
Ia mengatakan kasus orang utan terkena jerat bukan hal baru di Kalimantan. Jerat yang dipasang untuk hewan buruan kerap melukai satwa liar lain, termasuk orang utan yang habitatnya semakin terdesak akibat aktivitas manusia.
Saat ini pihaknya sudah menurunkan tim bersama dokter hewan ke lokasi, setelah menerima laporan dari masyarakat dan video viral yang beredar di media sosial. Menurut Argitoe, warga sempat membantu memantau pergerakan orang utan itu hingga diarahkan ke pohon kelapa dan pohon mangga di sekitar lokasi.
"Awalnya oleh masyarakat sekitar akhirnya bisa digiring ke pohon kelapa dan pohon mangga. Orang utan langsung bikin sarang di situ dan ditunggu," ujar dia.
Namun upaya penyelamatan belum bisa dilakukan. Sekitar pukul 04.00 WIB dini hari, orang utan tersebut turun dari pohon dan kembali melarikan diri ke area hutan kecil.
"Tapi sayangnya sekitar jam 04.00 subuh orang utan turun dan lari. Tidak bisa dikejar lagi karena memang sudah tidak bisa dikejar dan langsung masuk ke area hutan kecil," katanya.
Tim gabungan bersama warga kembali melakukan penyisiran di sejumlah titik hutan. Namun hingga kini keberadaan orang utan itu belum ditemukan.
"Pagi coba disisir lagi dengan dibantu masyarakat, tapi orang utan hingga hari ini belum bisa ditemukan kembali," lanjutnya.
Saat ini, tim YIARI bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) masih bertahan di lapangan untuk melakukan pencarian. Proses penyisiran dilakukan di sejumlah kantong hutan kecil di sepanjang Sungai Seponti yang diduga masih menjadi jalur pergerakan orang utan tersebut.
"Hingga hari ini tim kita masih ada di lapangan, dokter hewan juga masih di lapangan. Kita masih mencari keberadaan orang utan itu dan dibantu warga-warga sekitar," katanya.
Simak Video "Belajar Menarikan Tarian Khas dari Sanggar Seni di Singkawang"
[Gambas:Video 20detik]
(bai/bai)
