El Nino Bisa Picu Karhutla Lebih Dahsyat, Pakar Ingatkan Mitigasi

El Nino Bisa Picu Karhutla Lebih Dahsyat, Pakar Ingatkan Mitigasi

Mei Amelia R - detikKalimantan
Jumat, 03 Apr 2026 20:30 WIB
Bambang Hero Saharjo (tengah) di lokasi karhutla di Kabupaten Bengkalis, Riau, Jumat (3/4/2026).
Foto: Pakar IPB Bambang Hero Saharjo (tengah) di lokasi karhutla di Kabupaten Bengkalis, Riau. (dok. Istimewa)
Balikpapan -

Kalimantan termasuk wilayah rawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) saat kemarau. Kondisi ini diprediksi akan semakin parah dengan munculnya sinyal Super El Nino atau Godzila El Nino yang akan memicu kekeringan panjang.

Dilansir detikNews, pakar Institut Pertanian Bogor (IPB), Bambang Hero Saharjo mengingatkan situasi tahun ini memerlukan perhatian ekstra serius dan langkah mitigasi yang lebih proaktif sebelum kabut asap mengepung wilayah nusantara, terutama di wilayah rawan seperti Kalimantan, Sumatera, dan Nusa Tenggara.

Bambang mengutip studi terbaru yang dimuat dalam Nature Communications (2025). Dalam studi itu, disebutkan bahwa peringatan dini dan langkah proaktif menjadi kunci penting. Ia menegaskan bahwa prioritas pengawasan harus difokuskan pada wilayah rawan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Lokasi kebakaran selain Sumatera dan Kalimantan, juga mencakup Nusa Tenggara serta provinsi lain yang segera memasuki musim kemarau," tegasnya, Jumat (3/4/2026).

Untuk diketahui, istilah 'Super El Nino' merujuk pada fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik tropis yang mencapai setidaknya 2,7Β°C di atas rata-rata. Kondisi ini berdampak pada pergeseran sirkulasi atmosfer global yang memicu cuaca ekstrem.

Menurut Bambang, mitigasi yang lebih komprehensif diperlukan karena fenomena Super El Nino berpotensi menimbulkan karhutla yang lebih dahsyat daripada biasanya. Bambang menyinggung kebakaran hebat pada 1997-1998 sebagai perbandingan.

"Dengan kondisi 2,7Β°C ini, ini persis kejadiannya seperti kejadian kebakaran 1997-1998, di mana lahan yang terbakar 10-11 juta hektare dan yang meninggal itu 500 jiwa," katanya.

Bambang mengungkap risiko karhutla ini tidak hanya muncul dari suhu yang panas, tetapi juga potensi kekurangan air untuk pemadaman apabila terjadi karhutla.

"Karena makin ke sana itu akan makin dahsyat, makin kering dan kita kekurangan air," lanjutnya.

Baca selengkapnya di detikNews.




(des/des)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads