Kualitas udara di Kota Tarakan terpantau mengalami penurunan dalam sepekan terakhir. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tarakan, Kalimantan Utara (Kaltara) mencatat adanya lonjakan konsentrasi partikel halus (PM 2,5) yang dipicu oleh rentetan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta anomali cuaca ekstrem.
Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup DLH Tarakan, Chaizir Zain, mengungkapkan bahwa dari pantauan Air Quality Monitoring System (AQMS), angka konsentrasi PM 2,5 tertinggi menyentuh angka 52. Puncak konsentrasi ini terekam pada Jumat (27/3) antara pukul 08.00 hingga 10.00 WITA.
"Nilai 52 ini jika dikonversi ke Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) berada di level sedang atau indikator warna biru (51-100). Kualitas udaranya masih cukup aman, namun bagi beberapa individu yang sensitif dapat mengalami gangguan kesehatan ringan," terang Chaizir kepada detikKalimantan. Sabtu (28/3/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di tengah pekatnya udara, Chaizir menepis spekulasi bahwa kabut tersebut merupakan asap kiriman dari daerah tetangga. Ia menegaskan, penumpukan polutan di ruang publik murni bersumber dari aktivitas lokal di Tarakan.
"Terdapat tiga faktor utama penyebab kondisi ini anomali suhu panas, meningkatnya titik karhutla dalam sepekan terakhir, serta kurangnya curah hujan," bebernya.
"Karena cuaca kering dan curah hujan rendah, tidak ada proses pembersihan udara secara alami. Ditambah kejadian karhutla, partikel PM 2,5 terus menumpuk di udara. Jadi ini murni karena polusi lokal Tarakan," urainya.
Kondisi tersebut diperparah dengan anomali suhu panas yang menahan polutan lebih lama di udara. Chaizir menyebut, minimnya kecepatan angin membuat proses dispersi (penyebaran) polutan menjadi tidak efektif, sehingga polusi cenderung menetap dan mengepung ruang publik.
"Meski udara belakangan terasa lebih sesak, kami memastikan belum ada wilayah di Tarakan yang masuk dalam zona merah atau pencemaran kritis," tuturnya.
Berdasarkan catatan historis Indeks Kualitas Udara (IKU) dari tahun 2016 hingga 2025, Tarakan masih konsisten berada di level 'Baik'.
"Untuk IKU ini, kami rutin melakukan pemantauan udara dua kali setahun di empat wilayah sampel yang mewakili area transportasi, permukiman, perkantoran, dan industri. Hasilnya masih di level baik," pungkasnya.
Sementara itu, untuk memutus sumber utama polusi, koordinasi lintas sektor bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) terus dilakukan guna mempercepat pemadaman titik-titik api karhutla di lapangan.
