Kota Balikpapan adalah salah satu kota besar di Provinsi Kalimantan Timur. Kota yang terkenal dengan julukan Kota Minyak ini juga dikenal dengan keberagaman hayati yang hidup berdampingan di dalamnya.
Bukti dari keberagaman hayati di Balikpapan adalah beruang madu yang diangkat menjadi maskot kota ini. Meskipun tidak endemik dari Balikpapan atau Kalimantan, beruang madu telah lekat sebagai ikon Kota Minyak itu.
Beruang madu dipilih sebagai maskot atas dasar penelitian ilmiah yang dilakukan pada akhir tahun 1990-an di sebuah kawasan hutan Balikpapan. Setelah diteliti lebih dalam, ternyata wilayah tersebut didiami oleh sekumpulan beruang madu yang kemudian membentuk kelompoknya masing-masing.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Asal-usul Beruang Madu Jadi Maskot Balikpapan
Pada tahun 1997, seorang peneliti dari University of Amsterdam bernama Gabriella Fredriksson melakukan studi pertama kalinya terhadap kelimpahan, perilaku, dan kondisi beruang madu liar di Hutan Lindung Sungai Wain, Balikpapan. Kawasan tersebut diketahui sebagai salah satu habitat penting beruang madu di Borneo, dengan perkiraan populasi kala itu berkisar antara 50-100 individu liar.
Penelitian ini tidak hanya mencatat populasi beruang madu, tetapi juga mengangkat isu penurunan habitat akibat perusakan hutan, serta faktor lain seperti perdagangan ilegal dan konflik dengan manusia, seperti yang dikutip dari Kawasan Wisata Pendidikan Lingkungan Hidup (KWPLH) Balikpapan.
Berdasarkan dampak penelitian tersebut dan rekomendasi para ahli, pada tahun 2002 Pemerintah Kota Balikpapan mengusulkan beruang madu sebagai maskot kota. Langkah ini dilakukan sebagai bentuk pengakuan terhadap pentingnya satwa tersebut bagi Balikpapan, sekaligus upaya menciptakan identitas daerah yang berbeda dari kota-kota lain di Kalimantan dan Indonesia.
Kemudian pada tahun 2005, beruang madu resmi menjadi maskot Kota Balikpapan. Hal ini berlandaskan Surat Keputusan Wali Kota Balikpapan Nomor 04 Tahun 2005 tentang Maskot Kota Balikpapan yang menetapkan beruang madu (Helarctos malayanus) secara resmi sebagai maskot kota dan sekaligus menjadikan Balikpapan sebagai salah satu pusat konservasi satwa langka ini.
Pendirian Pusat Edukasi dan Konservasi Beruang Madu
Sebagai tindak lanjut dari peresmian maskot tersebut, Pemerintah Kota Balikpapan mulai mengembangkan pusat edukasi beruang madu yang dikenal sebagai Kawasan Wisata Pendidikan Lingkungan Hidup (KWPLH). Sejak tahun 2004, Balikpapan bersama dengan swasta dan para peneliti bekerja sama membangun fasilitas ini.
Fasilitas inti KWPLH sendiri berupa bentang alami seluas sekitar 1,3 hektare yang dirancang menyerupai habitat aslinya, lengkap dengan vegetasi hutan tropis dan jalan setapak untuk pengunjung. Saat ini, KWPLH menampung beruang madu yang tidak dapat dilepasliarkan karena keadaan tertentu, misalnya akibat cacat fisik, perubahan perilaku, atau karena diselamatkan dari perdagangan dan perburuan.
KWPLH juga telah diakui secara internasional sebagai salah satu fasilitas konservasi beruang madu terbaik di Asia, dengan jumlah pengunjung yang cukup tinggi setiap tahunnya. Pada 2019 misalnya, tercatat lebih dari 50.000 pengunjung domestik datang untuk melihat langsung beruang madu dan belajar tentang ekosistemnya.
Hingga saat ini, beruang madu tetap diakui sebagai maskot Kota Balikpapan. Ikon ini masih dipertahankan melalui kegiatan konservasi dan juga pengembangan fasilitas yang dilakukan oleh KWPLH.
Beruang Madu Jadi Maskot Persiba Balikpapan
Beruang madu bukan hanya jadi maskot Kota Balikpapan. Hewan ini juga kemudian diangkat menjadi maskot Persiba Balikpapan.
Klub sepak bola kebanggaan Balikpapan, Persiba Balikpapan memiliki julukan Beruang Madu (The Sun Bear). Julukan ini sudah melekat dan tentunya jadi identitas dari maskot beruang madu Balikpapan.
Julukan Beruang Madu tentunya menjadi pemersatu suporter fanatik Persiba, bahkan di tiap pertandingan, The Sun Bear selalu menemani para pemain dan menghibur pada suporter di kursi penonton.
(des/des)
