Lukisan di Sangkulirang-Mangkalihat, Kalimantan Timur pernah menjadi yang tertua ditemukan dunia. Hingga akhirnya ditemukan lukisan purba di Gua Leang, Maros-Pangkep, Sulawesi Selatan.
Lukisan ini berada di dalam gua, maka dari itu disebut lukisan gua purba. Keberadaannya menjadi jejak simbolik bahwa ribuan tahun lalu ada manusia purba dengan pemikirannya yang bermukim di wilayah Kalimantan Timur. Selain itu, lukisan tersebut juga menandai awal mula perkembangan seni yang telah dimulai dari ribuan tahun lalu.
Gua dan Lukisan Purba di Sangkulirang-Mangkalihat
Kawasan Sangkulirang-Mangkalihat Karst merupakan hamparan batu kapur yang luas, terletak di Kabupaten Berau dan Kabupaten Kutai Timur. Kawasan ini mencakup puluhan gua dengan ribuan lukisan batu (rock art) yang tersebar di dinding dan langit-langit gua di wilayah ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lukisan yang ditemukan di sana termasuk cap tangan, figur manusia, binatang, ornamen geometris, dan simbol abstrak lainnya yang dibuat dengan pigmen alami seperti oker (ochre), yaitu mineral alami yang akan menghasilkan warna merah jingga atau cokelat kemerahan.
Para peneliti yang mengeksplorasi situs ini sejak akhir tahun 1988 oleh Luc-Henri Fage sebagai yang pertama kali melakukan penelusuran. Barulah pada tahun 1994, lukisan pertama ditemukan oleh Jean-Michel Chazine, seorang peneliti dari Prancis dan Pindi Setiawan, peneliti dari ITB.
Lukisan bergambar trenggiling yang ditemukan di kawasan Sangkulirang-Mangkalihat. (Dokumentasi Pindi Setiawan) |
Dari eksplorasi ini ditemukan sekitar 48-54 gua menyimpan motif-motif tersebut. Motifnya sangat beragam, dari cap tangan merah, garis-garis abstrak, hingga figur hewan dan manusia, yang semuanya memberi gambaran mengenai cara berpikir dan budaya masyarakat pemburu-pengumpul kuno yang pernah tinggal di sana.
Salah satu yang menarik adalah ditemukannya lukisan trenggiling, walaupun bentuknya jauh berbeda dengan trenggiling. Setelah ditelusuri lebih dalam, para peneliti yakin bahwa gambar tersebut merupakan trenggiling raksasa yang telah punah 30.000 tahun lalu di Indonesia.
Cara Pembuatan Lukisan
Publikasi oleh Sumantri dkk. (2018) yang berjudul Sangkulirang Mangkalihat: The Earliest Prehistoric Rock-Art in the World, menemukan bahwa pembuatan lukisan prasejarah di kawasan Sangkulirang-Mangkalihat menggunakan pigmen mineral alami sebagai bahan warna.
Sebagian besar lukisan menggunakan pigmen hematit (oksida besi) sehingga menghasilkan warna merah kemerahan-jingga, tetapi juga terdapat variasi warna lain seperti ungu dan hitam yang mungkin berasal dari mineral lain atau teknik pengolahan yang berbeda.
Teknik pembuatannya kemungkinan mencakup beberapa metode berikut:
- Cap tangan negatif dibuat dengan menempelkan tangan ke dinding kemudian meniup pigmen di sekelilingnya
- Goresan dan garis dibuat dengan ujung alat, seperti potongan tulang atau batang tanaman, untuk menarik garis di permukaan batu
- Lukisan figuratif hewan atau manusia kecil tampaknya dilukis langsung dengan sikat atau ujung yang direndam pigmen
Semua teknik ini menunjukkan kemampuan manusia purba yang cukup terampil dalam menyiapkan pigmen dan menerapkannya sesuai bentuk yang diinginkan.
Lukisan lain yang menggambarkan interaksi sosial. (Dokumentasi Pindi Setiawan) |
Usia Lukisan Mangkalihat dan Perbandingannya dengan Maros-Pangkep
Sampai saat ini, penanggalan pasti lukisan di Mangkalihat masih dalam kajian dan proyek penelitian sedang berlangsung. Namun beberapa penelitian awal dan pemetaan radiokarbon menunjukkan bahwa lukisan jongkok di Sangkulirang-Mangkalihat berusia 40.000 tahun.
Termasuk beberapa lukisan yang diperkirakan tercipta jauh lebih awal daripada lukisan-lukisan di Eropa seperti Lascaux (sekitar 17-20 ribu tahun) atau Chauvet (sekitar 32 ribu tahun) yang dulu sering dianggap sebagai contoh seni tertua.
Dikutip dari UNESCO World Heritage Centre, situs-situs di Mangkalihat menunjukkan pola motif yang dapat mencerminkan kegiatan berburu, simbol spiritual, atau narasi kehidupan kelompok masyarakat pra-agraris. Lukisan itu diyakini menggambarkan kehidupan sosial dan lingkungan mereka.
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa lukisan gua di Sulawesi Selatan (Maros-Pangkep) justru memiliki umur yang lebih tua daripada sebagian besar seni gua lain di dunia, termasuk di Sangkulirang-Mangkalihat.
Di Sulawesi, lukisan di gua Leang Karampuang diperkirakan berusia minimal sekitar 51.200 tahun, berdasarkan penanggalan laser ablation U-series (LA-U-series) pada lapisan kalsit yang menutupi lukisan.
Lukisan tersebut menggambarkan tiga figur manusia-hewan berinteraksi dengan seekor babi liar, bukti paling awal yang diketahui tentang narasi gambar (storytelling) dalam sejarah seni manusia.
Selain itu, seni lain di wilayah itu, seperti di Leang Bulu' Sipong 4, juga diperkirakan berusia sekitar 48.000 tahun yang menunjukkan bahwa bentuk figuratif dan naratif seni gua telah berkembang jauh lebih awal daripada yang pernah diperkirakan sebelumnya.


