Kalimantan Timur

Ditembak Mantan Pacar, Mahasiswi di Samarinda Kini Alami Trauma

Muhammad Budi Kurniawan - detikKalimantan
Selasa, 16 Jun 2026 18:30 WIB
Foto: Korban penembakan saat didampingi TRC PPA Kaltim di Polsek Samarinda Ulu. (Istimewa)
Samarinda -

Mahasiswi berinisial LA (21) di Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim) yang menjadi korban penembakan oleh mantan pacarnya, MZ (22) kini mendapat pendampingan oleh Tim Reaksi Cepat (TRC) PPA. TRC PPA mengungkapkan, selain mengalami luka fisik di bagian kepala, korban juga disebut mengalami trauma dan kecemasan pascakejadian.

Ketua TRC PPA Kaltim, Rina, mengatakan pihaknya telah mendampingi korban menjalani pemeriksaan oleh penyidik. Selanjutnya, korban juga akan dirujuk untuk mendapatkan pendampingan psikologis.

"Korban tadi sudah menjalani BAP. Nantinya juga akan kami rujuk untuk mendapatkan pendampingan psikolog dan kami sudah berkoordinasi dengan PSKRI terkait perlindungan bagi korban," katanya kepada detikKalimantan, Selasa (16/6/2026).

Menurutnya, kondisi korban saat ini belum sepenuhnya pulih. Selain masih merasakan sakit akibat luka di kepala, korban juga menunjukkan dampak psikologis setelah peristiwa penembakan yang dialaminya.

"Dari fisik dia mengalami luka. Sampai saat ini masih agak merasakan sakit kepala. Kemudian dari kondisi psikisnya dia tidak bisa bertemu orang baru, masih agak ketakutan dan ada kecemasan," ujarnya.

Rina menjelaskan luka yang dialami korban berada di bagian tengah atas kepala. Saat kejadian, korban juga mengaku tidak melihat secara langsung pelaku maupun arah datangnya tembakan.

"Pokoknya dari belakang karena kondisinya dia tidak melihat. Tiba-tiba terdengar bunyi lalu langsung luka di kepalanya. Dia tidak melihat pelaku dan tidak melihat dari arah mana," katanya.

Sebelum insiden terjadi, korban diketahui telah mengenal pelaku selama sekitar tiga bulan. Keduanya diperkenalkan oleh seorang teman hingga akhirnya sempat menjalin hubungan.

Namun dalam perjalanannya, korban mulai merasa tidak nyaman dengan sikap pelaku yang dinilai terlalu posesif. Pelaku disebut kerap memantau aktivitas korban, bahkan menggunakan akun lain untuk mengawasi korban tanpa sepengetahuannya.

"Awalnya berkenalan melalui temannya. Si cowok langsung suka dan menyatakan cinta, tetapi si cewek belum mau menerima. Seiring waktu sempat menjalin hubungan, tapi kemudian korban merasa hubungan itu janggal karena si cowok terlalu posesif," ungkapnya.

Menurut Rina, perhatian berlebih yang diberikan pelaku justru membuat korban merasa terkekang. Perasaan tidak nyaman itu kemudian membuat korban memilih untuk tidak melanjutkan hubungan tersebut.

"Dia merasa risih. Ada banyak teguran dan pemantauan yang dilakukan pelaku. Walaupun perhatian, tapi korban merasa tidak bisa melanjutkan hubungan dengan kondisi seperti itu," jelasnya," pungkasnya.



Simak Video "Video: Satpam Masjid di AS Tewas Lindungi Jemaah saat Insiden Penembakan"

(aau/aau)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork